Infeksi Helminth: Ancaman Kesehatan Anak-Anak di Indonesia

Diterbitkan PadaJumat, 31 Mei 2024
Diterbitkan OlehAyodhia Pitaloka
Thumbnail
WhatsappTwitterFacebook

"Cacing merupakan hewan kecil yang mungkin sering disepelekan karena dianggap tidak berbahaya. Namun, di balik wujudnya yang kecil, cacing merupakan hewan yang dapat menjadi pencetus masalah kesehatan manusia. Soil-transmitted helminthiasis (STH) menjadi sumber penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit yang hidup di tanah dan dapat menjangkiti manusia."

"STH menjadi pemicu salah satu penyakit tropis yang sering terabaikan dan memengaruhi sekitar 2 miliar orang di seluruh dunia," ungkap ahli Kesehatan Anak Universitas Sumatera Utara Indonesia, Prof. Ayodhia Pitaloka Pasaribu. Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanus, dan Ancylostoma duodenale menjadi spesies yang paling umum dan berperan menimbulkan penyakit bagi manusia.

Penyakit yang disebabkan oleh parasit yang menyebar melalui kontak dengan tanah terinfeksi ini sangat rentan bagi anak-anak sekolah. Akibatnya, STH dapat menyebabkan penurunan kinerja sekolah, gangguan fungsi kognitif, termasuk malnutrisi, dan sederet gangguan fisik lainnya. Kekhawatiran inilah yang melatarbelakangi Prof. Ayodhia bersama ahli Kesehatan Anak lainnya, yaitu Anggraini Alam, Krisnarta Sembiring, Syahril Pasaribu and Djatnika Setiabudi, untuk meneliti mengenai infeksi helminth, penyakit tropis yang paling umum di Indonesia saat ini.

Penelitian dilakukan oleh Prof. Ayodhia dan tim di Desa Suka, Kecamatan Tigapanah, Sumatera Utara, Indonesia. Dengan menyasar anak-anak sebagai sasaran penelitian, tim peneliti menggunakan tinja mereka sebagai objek uji. Sampel tinja diproses menggunakan metode Kato-Katz tunggal, dan faktor-faktor risiko potensial dianalisis termasuk pendidikan dan pekerjaan orang tua, kebiasaan mencuci tangan, penggunaan toilet, penggunaan sepatu, dan kontak dengan tanah. "Sampel tinja diperiksa menggunakan metode Kato-Katz tunggal untuk menentukan keberadaan telur cacing," jelas Prof. Ayodhia.

Hasil uji menunjukkan bahwa 57,24% anak-anak positif memiliki infeksi helminth. Spesies Ascaris lumbricoides menyumbang peranan tertinggi sebagai penyebab penyakit pada anak-anak tersebut dengan persentase mencapai 40,17%. Bahkan, dua anak terinfeksi oleh spesies Hymenolepis nana dan satu melalui spesies Enterobius vermicularis.

“Faktor risiko infeksi helminth terkadang memang terlihat sederhana, namun faktor lain juga dapat melatarbelakangi, seperti pendidikan dan pekerjaan orang tua. Mereka berperan mengajari anak untuk melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Perilaku seperti kebiasaan mencuci tangan, penggunaan toilet, dan kontak dengan tanah sangat memengaruhi munculnya STH,” kata Prof. Ayodhia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyediakan Albendazole sebagai obat untuk menangani STH. Namun, menurut Prof. Ayodhia dan tim, kebiasaan hidup bersih menjadi kunci utama untuk menanggulangi STH. Pengendalian infeksi helminth yang efektif dapat dilakukan dengan meningkatkan kebiasaan mencuci tangan dan penggunaan toilet yang memadai, serta melakukan deworming secara teratur, termasuk deworming dua kali setahun yang dapat mengurangi risiko infeksi helminth.

"Pemahaman terhadap faktor-faktor ini penting untuk mengendalikan STH secara efektif. Treatment perlu segera dilakukan agar rencana bebas STH dapat terwujud. Jangan sampai penyakit seperti ini mengganggu tumbuh kembang anak,” pungkas Prof. Ayodhia.

Artikel
Artikel Penelitian

Detail Paper

JudulPrevalence and Risk Factors of Soil-Transmitted Helminthiasis Among School Children Living in an Agricultural Area of North Sumatera, Indonesia
PenulisAyodhia Pitaloka Pasaribu1, Angraini Alam2, Krisnarta Sembiring1, Syahril Pasaribu1
Afiliasi Penulis
  1. Departemen Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
Accessibility Icon
disability features
accesibility icon
accesibility icon
accesibility icon
accesibility icon
Scroll Down