A11Y

HOME

MENU

CARI

Tim Pengabmas USU Hadirkan Inovasi Pengolahan Minyak Jelantah di Kabupaten Langkat

Diterbitkan Pada05 Agustus 2026
Diterbitkan OlehRenny Julia Harahap
Tim Pengabmas USU Hadirkan Inovasi Pengolahan Minyak Jelantah di Kabupaten Langkat
Copy Link
IconIconIcon

Tim Pengabmas USU Hadirkan Inovasi Pengolahan Minyak Jelantah di Kabupaten Langkat

 

Diterbitkan oleh

Renny Julia Harahap

Diterbitkan pada

Rabu, 05 Agustus 2026

Logo
Download

Pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, S.Si., M.Si., Apt., dengan beranggotakan Dr. Embun Suci Nasution, S.Si., M.Farm., Klin. Apt., apt. Ovalina Sylvia Br. Ginting, S.Far., M.Si., Adika Fajar Putra, S.E.I., M.M., dan Prof. Madya Dr. Mazlina binti Mohd Said dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

KAB. LANGKAT – HUMAS USU: Di balik limbah minyak jelantah yang kerap dianggap tidak bernilai, tersimpan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Gagasan inilah yang diangkat dalam program pengabdian kepada masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) melalui pelatihan pembuatan sabun cuci piring food grade bagi perempuan sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi pascabanjir di Desa padang Tualang, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, pada Jumat (31/07/2026). Program pelatihan yang membekali masyarakat dengan keterampilan mengolah minyak jelantah menjadi produk yang bernilai jual sekaligus ramah lingkungan. 

Pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, S.Si., M.Si., Apt., dengan beranggotakan Dr. Embun Suci Nasution, S.Si., M.Farm., Klin. Apt., apt. Ovalina Sylvia Br. Ginting, S.Far., M.Si., Adika Fajar Putra, S.E.I., M.M., dan Prof. Madya Dr. Mazlina binti Mohd Said dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

Banjir yang melanda Sumatera pada November hingga Desember lalu membawa dampak signifikan bagi kehidupan rumah tangga. Hal ini dirasakan langsung di beberapa daerah di Sumatera Utara, banyak keluarga mengalami penurunan pendapatan karena terganggunya aktivitas ekonomi dan rusaknya sumber mata pencaharian. Situasi tersebut mengharuskan masyarakat mencari alternatif sumber penghasilan guna memenuhi kebutuhan ekonomi. 

Pemberdayaan Perempuan sebagai Penggerak Ekonomi

Di tengah upaya pemulihan ekonomi masyarakat pascabanjir, pemberdayaan perempuan menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun kemandirian keluarga. Salah satu peluang usaha yang dapat dikembangkan adalah mengolah limbah minyak jelantah menjadi sabun cuci piring food grade yang memiliki nilai ekonomi. Melalui peningkatan keterampilan wirausaha dan pemberdayaan, perempuan dapat mengembangkan usaha dengan modal yang minim.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kealumnian USU, Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, S.Si., M.Si., Apt., menjelaskan bahwa minyak jelantah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga umumnya masih dibuang begitu saja ke lingkungan. Bahkan, tidak sedikit yang berpotensi disalahgunakan untuk digunakan kembali sebagai minyak goreng, sehingga dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan masyarakat maupun lingkungan.

”Berdasarkan kondisi tersebut, tim memilih pelatihan pembuatan sabun cuci piring dari minyak jelantah karena merupakan teknologi yang sederhana, mudah dipelajari, memanfaatkan limbah yang tersedia di masyarakat, serta menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan dibutuhkan setiap hari,” jelas Prof. Poppy. 

Pengolahan minyak jelantah ini bertujuan membuka peluang sumber pendapatan baru bagi masyarakat melalui pengembangan usaha rumahan yang memanfaatkan bahan baku murah, mudah diperoleh, dan memiliki nilai ekonomis. 

Peserta pelatihan merupakan perempuan berusia 25–45 tahun yang berdomisili di Desa Padang Tualang dan berasal dari berbagai latar belakang sosial maupun ekonomi. Mereka terdiri atas perwakilan petani, ibu rumah tangga, remaja, kader posyandu, aparatur kantor desa, serta unsur masyarakat lainnya. 

Rangkaian kegiatan mencakup edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), higiene, dan sanitasi sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Peserta juga dibekali keterampilan mengolah minyak jelantah menjadi sabun cuci piring food grade. Selain meengikuti pelatihan sabun cuci, peserta juga mengikuti tanggap bencana pascabanjir bersama Save the Children, serta memperoleh pembekalan kewirausahaan, manajemen usaha, dan strategi pemasaran melalui kolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU, Fakultas Farmasi USU, dan Fakultas Farmasi Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Mengubah Limbah menjadi Nilai Ekonomis

Pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai jual merupakan bentuk inovasi bisnis yang mengubah masalah lingkungan menjadi peluang usaha (waste to value). Produk yang berbahan baku daur ulang ini (minyak jelantah) memiliki daya tarik tersendiri karena mengikuti tren konsumen yang semakin peduli terhadap produk ramah lingkungan (eco-friendly), sehingga dapat menjadi nilai tambah dibandingkan produk konvensional.

Prof. Poppy menambahkan bahwa sebelum diolah menjadi sabun cuci piring food grade, minyak jelantah harus melalui serangkaian tahapan pemurnian untuk memastikan kualitas dan keamanannya. Proses tersebut diawali dengan penyaringan guna menghilangkan sisa-sisa makanan, kemudian diendapkan selama 24 hingga 48 jam sebelum dilakukan filtrasi secara bertingkat.

Setelah itu, dilakukan proses dehidrasi guna menghilangkan kandungan air, yang dilanjutkan dengan pengujian kualitas minyak, meliputi tingkat keasaman (pH), kadar air, bilangan asam, warna, dan aroma. Setelah dipastikan memenuhi standar, minyak kemudian diolah melalui proses saponifikasi dengan penambahan natrium hidroksida (NaOH) untuk sabun padat atau kalium hidroksida (KOH) untuk sabun cair. Tahapan akhir dilakukan dengan penambahan surfaktan, pewangi, dan pewarna sebelum produk dikemas.

Minyak jelantah yang dibuang ke saluran air dapat membentuk lapisan minyak di permukaan air, menghambat pertukaran oksigen, dan mengganggu kehidupan organisme akuatik. Pengolahan minyak jelantah menjadi sabun cuci piring merupakan bentuk up-cycling, yaitu mengubah limbah menjadi produk bernilai guna yang dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sehingga mendukung ekonomi sirkular,” jelas Prof. Poppy.

Melalui program ini, tim berharap keterampilan yang telah diperoleh peserta dapat terus dikembangkan menjadi usaha produktif yang dikelola secara berkelanjutan. Pembentukan kelompok usaha bersama yang dikoordinasikan oleh pemerintah desa diharapkan mampu mendukung proses produksi, pengadaan bahan baku, hingga pemasaran produk secara lebih efektif dan efisien. Selain itu, peserta juga diharapkan memiliki keberanian untuk memulai usaha, terus berinovasi dalam pengembangan produk, menjaga kualitas, serta membangun jejaring dengan pelaku UMKM lainnya, sehingga mampu meningkatkan perekonomian keluarga sekaligus mendorong pengelolaan limbah rumah tangga yang lebih ramah lingkungan.

Kolaborasi dalam kegiatan ini turut diperkuat oleh Save the Children yang menyalurkan 100 paket tas sekolah lengkap dengan perlengkapan belajar bagi anak-anak terdampak banjir sebagai bentuk dukungan terhadap pemulihan sektor pendidikan.

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin