Yayasan Bina Budaya Mandailing Raptama Gelar Penayangan Film "Sang Penjaga Bunyi Leluhur" di USU

Yayasan Bina Budaya Mandailing Raptama Gelar Penayangan Film "Sang Penjaga Bunyi Leluhur" di USU
Diterbitkan oleh
Bambang Riyanto, S.S., M. Si
Diterbitkan pada
Rabu, 16 September 2026

HUMAS USU - Yayasan Bina Budaya Mandailing Raptama menggelar penayangan film dokumenter "Sang Penjaga Bunyi Leluhur", di Aula Gedung Serbaguna FISIP Universitas Sumatera Utara, Selasa (16/9/2026). Film yang mengangkat budaya Gordang Sambilan dan sosok maestro Dr. Mhd. Bakhsan Parinduri ini diproduksi oleh Choiril Alwi selaku pimpinan produksi dan menjadi bagian dari upaya mengenalkan serta melestarikan budaya Mandailing.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Keuangan, dan Sistem Informasi USU, Dr. Muhammad Arifin Nasution, S.Sos., M.SP., menyampaikan bahwa USU mendukung kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian budaya. Menurutnya, kegiatan seperti penayangan film dokumenter dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan budaya kepada mahasiswa sekaligus menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
Ia menekankan bahwa Indonesia, khususnya Sumatera Utara, memiliki keberagaman suku dan budaya yang dapat dibanggakan. Ia berharap mahasiswa dapat semakin mengenal dan menghargai budaya yang ada di sekitarnya.
Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni, FISIP USU, Dr. Agus Suriadi, S.Sos., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut penting bagi mahasiswa untuk mengenal kembali budaya lokal di tengah derasnya pengaruh budaya luar dan perkembangan media.

(Foto: Amri Affandi Simatupang)
Menurutnya perkembangan media di era disrupsi dapat memengaruhi pola pikir generasi muda. Karena itu, budaya lokal perlu terus diperkenalkan melalui kegiatan yang dekat dengan generasi muda, termasuk melalui film dan teknologi.
Ketua Program Studi Antropologi Sosial FISIP USU, Dr. Dra. Sri Alem Br. Sembiring, M.Si., menjelaskan bahwa film dokumenter tersebut tidak hanya menampilkan Gordang Sambilan sebagai alat musik, tetapi juga memperlihatkan nilai budaya dan kearifan lokal yang ada di baliknya.
Ia mengatakan film tersebut menarik karena menunjukkan bahwa musik tidak hanya berkaitan dengan bunyi, tetapi juga memiliki hubungan dengan kebudayaan, tradisi, lingkungan, dan kearifan lokal. Menurutnya, mahasiswa dapat memperoleh pemahaman bahwa setiap benda atau alat musik yang ada dalam suatu budaya memiliki nilai dan makna yang perlu dijaga.
Dalam wawancara bersama Dosen Antropologi FISIP USU, Dr. Zulkifli, juga menyampaikan bahwa film tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa untuk melihat kebudayaan secara lebih luas. Ia menilai mahasiswa tidak hanya bisa mempelajari Gordang Sambilan sebagai alat musik, tetapi juga memahami nilai budaya dan kehidupan masyarakat yang ada di baliknya.
Penayangan film “Sang Penjaga Bunyi Leluhur” mendorong mahasiswa untuk lebih mengenal budaya dan warisan leluhur. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan dapat tertarik mengkaji budaya dari daerah masing-masing agar keberagaman budaya Indonesia tetap terjaga di tengah perkembangan modernisasi dan teknologi.