Fenomena Bahasa Slang Medan: Dari “Sikik Aaa” sampai “Ica”, Tinjauan Linguistik dari Ahli Bahasa USU

Fenomena Bahasa Slang Medan: Dari “Sikik Aaa” sampai “Ica”, Tinjauan Linguistik dari Ahli Bahasa USU
Diterbitkan oleh
Zulfahmi Purba, A.Md
Diterbitkan pada
Selasa, 21 Juli 2026

Sejumlah istilah pergaulan seperti “sikik aaa”, “kek”, dan “ica” belakangan viral di media sosial dan memicu rasa ingin tahu publik. Menurut Dr. Muhammad Yusuf, S.Pd., M.A., dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU), ketiga istilah tersebut merupakan bentuk bahasa slang Medan yang lahir dari proses kontak bahasa di kota multikultural, bukan sekadar tren sesaat di media sosial. “Sikik aaa” bermakna “sedikit saja”, “kek” merupakan bentuk singkat dari “kayak”, sementara “ica” adalah pemendekan dari kata “bisa”, bukan nama orang. Dalam kajian linguistik, fenomena semacam ini dikenal sebagai dialek, sebuah kekayaan budaya yang layak dipelajari secara akademik, bukan sekadar diperbincangkan sebagai tren belaka.
Sebuah video pendek yang menampilkan celetukan “sikik aaa, geser sikik aaa” belakangan banyak beredar di media sosial dan disambut ratusan komentar berisi tawa sekaligus pertanyaan. Bagi khalayak di luar Medan, ungkapan tersebut terdengar seperti kode yang sulit dipahami. Bagi masyarakat Medan sendiri, kalimat itu tidak lebih dari percakapan sehari-hari yang lumrah.
Fenomena bahasa slang Medan yang tengah viral di media sosial ini, menurut Dr. Muhammad Yusuf, S.Pd., M.A., dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU), sesungguhnya merupakan gambaran kecil tentang bagaimana bahasa hidup dan terus berkembang di tengah masyarakat kota yang multikultural.
Akar Kemunculan Bahasa Slang di Kota Multikultural Medan

Untuk memahami bagaimana istilah-istilah semacam ini dapat muncul dan menyebar dengan cepat, Dr. Yusuf mengajak melihat terlebih dahulu karakteristik Kota Medan. Sebagai salah satu kota paling multikultural di Indonesia, Medan dihuni oleh penutur dari berbagai latar belakang bahasa dan etnis yang saling bersinggungan dalam interaksi sehari-hari, baik di pasar, di angkutan umum, maupun di warung kopi. Persinggungan semacam inilah yang dalam ilmu bahasa disebut kontak bahasa, dan dari proses itulah slang perlahan terbentuk.
“Di Kota Medan yang multikultural, kita itu hidup dengan banyak bahasa. Jadi ada kontak bahasa dari penuturnya masing-masing, sehingga bahasa slang itu muncul sebagai bentuk komunikasi,” jelas Dr. Yusuf.
Faktor lain yang mempercepat penyebarannya adalah media sosial. Jika dahulu sebuah istilah lokal membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikenal di luar komunitas penuturnya, kini cukup satu video pendek dari seorang kreator konten (influencer) untuk membuat istilah tersebut dikenal luas, bahkan oleh khalayak yang belum pernah berkunjung ke Medan.
Ragam Istilah Slang Medan: “Sikik Aaa”, “Kek”, dan “Ica”
Dari berbagai istilah yang beredar di linimasa media sosial, terdapat tiga kata yang paling banyak menimbulkan pertanyaan publik. Penelusuran atas ketiganya bersama Dr. Yusuf memperlihatkan bagaimana perubahan bahasa terjadi secara bertahap dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Medan.
“Sikik Aaa”, Warisan Historis dari Kata “Sedikit”
“Sikik aa” bermakna “sedikit saja”. Meski terdengar sederhana, asal-usul kata ini menempuh perjalanan yang cukup panjang. Kata tersebut berawal dari “sedikit” dalam bahasa Indonesia baku, yang dalam bahasa Melayu lebih dahulu menyusut menjadi “sikit”. Setelah masuk ke ragam bahasa pergaulan Medan, kata itu kembali mengalami perubahan bentuk menjadi “sikik aa”, versi yang lebih ringkas dan lebih cepat diucapkan. Menurut Dr. Yusuf, proses ini mencerminkan pola umum dalam kajian linguistik, yaitu penyederhanaan bunyi kata secara bertahap agar lebih praktis digunakan oleh penuturnya.
“Kek”, Bentuk Ringkas dari Kata “Kayak”
“Kek” merupakan bentuk ringkas dari kata “kayak”. Istilah ini kerap muncul dalam kalimat sehari-hari seperti “kek gitu pun kau gak paham”. Meski terkesan sederhana, di situlah letak keunikannya secara linguistik. Menurut Dr. Yusuf, masyarakat Medan dapat memahami istilah ini tanpa kesulitan karena komunitas penuturnya telah memiliki kesepakatan makna bersama atas kata tersebut. Kesepakatan tidak tertulis semacam inilah yang memungkinkan sebuah bentuk slang bertahan dan terus digunakan lintas generasi.
“Ica”, Pemendekan dari Kata “Bisa”, Bukan Nama Orang
“Ica” bukan nama orang, melainkan pemendekan dari kata “bisa”. Wajar apabila banyak yang keliru mengartikannya. Dalam kalimat seperti “Ica, is that you?” atau “Itu pasti mahal ya, Ica,” kata ini memang terdengar persis seperti nama panggilan. Menurut Dr. Yusuf, kekeliruan tersebut justru menunjukkan betapa halusnya perubahan bahasa dapat terjadi: huruf C bergeser menjadi S, sehingga sebuah kata kerja berubah wujud seolah menjadi nama seseorang.
Fenomena Serupa di Luar Medan: Dialek sebagai Produk Kontak Bahasa
Medan bukan satu-satunya wilayah yang mengalami fenomena ini. Dr. Yusuf mengingatkan pada masa ketika “bahasa anak Jaksel” sempat mendominasi media sosial, dengan ciri khas mencampur bahasa Indonesia dan Inggris dalam satu kalimat, seperti “which is” dan “literally”.
“Indonesia dengan multikulturalnya memungkinkan terjadinya kontak bahasa dan ada istilah-istilah yang dipahami bersama. Itulah namanya dialek,” ujarnya. Dari Medan hingga Jakarta, pola yang sama terus berulang: keragaman bahasa bertemu, lalu melahirkan cara bicara yang khas bagi komunitas penuturnya.
Dialek sebagai Warisan Budaya yang Perlu Dipelajari
Menurut Dr. Yusuf, cara pandang terhadap slang semacam ini yang perlu diluruskan. Dialek bukan bahasa yang keliru atau bahasa kelas dua. Ia merupakan bagian dari khazanah budaya dan khazanah linguistik yang semestinya disyukuri, bukan dipandang sebelah mata.
Pesan ini ia tujukan khususnya bagi siapa saja yang berencana datang ke Medan, agar tidak merasa asing ketika mendengar kata-kata yang serba disingkat seperti “kek gitu lah”, “mana ta?”, atau “ngopi ta?”. Mempelajari slang lokal, menurutnya, justru mempermudah komunikasi sekaligus memperkaya pengalaman berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Membuka Ruang Diskusi Bahasa dan Budaya Medan di Fakultas Ilmu Budaya USU
Bagi Dr. Yusuf, perbincangan mengenai slang yang viral ini semestinya tidak berhenti pada kolom komentar media sosial. Ia memandangnya sebagai pintu masuk yang baik untuk mengenal lebih jauh kekayaan bahasa dan budaya Medan, sekaligus mengajak masyarakat untuk mempelajarinya secara lebih mendalam.
“Silakan datang ke Fakultas Ilmu Budaya di Jalan Universitas No. 19, Kampus USU. Silakan kita diskusi bersama karena Fakultas Ilmu Budaya adalah rumah kita semua. Salam literasi,” tutup Dr. Yusuf.
Pertanyaan Seputar Bahasa Slang Medan
Apa arti “sikik aaa” dalam bahasa Medan?
“Sikik aa” berarti “sedikit saja”. Kata ini berasal dari “sedikit”, yang dalam bahasa Melayu menyusut menjadi “sikit”, lalu berubah lagi menjadi “sikik aa” dalam bahasa pergaulan Medan.
Apa arti kata “kek” yang sering dipakai orang Medan?
“Kek” adalah bentuk singkat dari kata “kayak”, digunakan untuk membuat kalimat lebih cepat dan praktis diucapkan.
Apakah “ica” dalam bahasa slang Medan adalah nama orang?
Bukan. “Ica” adalah pemendekan dari kata “bisa” yang mengalami perubahan morfologis berupa pergantian huruf C menjadi S.
Apa itu dialek dalam ilmu bahasa (linguistik)?
Dialek adalah variasi bahasa yang muncul akibat kontak bahasa antarpenutur di suatu komunitas, sehingga terbentuk istilah-istilah yang dipahami bersama oleh komunitas tersebut.
Apakah bahasa slang Medan sama dengan fenomena “bahasa anak Jaksel”?
Keduanya merupakan contoh dialek yang lahir dari kontak bahasa di lingkungan multikultural, meski istilah dan konteks sosialnya berbeda.