A11Y

HOME

MENU

CARI

Peneliti USU: Infeksi Cacing Tanah Menurun Global, Tapi Anemia pada Balita dan Perempuan Usia Subur Tak Kunjung Membaik

Diterbitkan Pada28 Juli 2026
Diterbitkan OlehProf. dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph.D
Peneliti USU: Infeksi Cacing Tanah Menurun Global, Tapi Anemia pada Balita dan Perempuan Usia Subur Tak Kunjung Membaik
Copy Link
IconIconIcon

Peneliti USU: Infeksi Cacing Tanah Menurun Global, Tapi Anemia pada Balita dan Perempuan Usia Subur Tak Kunjung Membaik

 

Diterbitkan oleh

Prof. dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph.D

Diterbitkan pada

Selasa, 28 Juli 2026

Logo
Download

Ringkasan Eksekutif: Infeksi cacing tanah (STH) lama diduga menjadi salah satu penyebab utama anemia pada balita dan perempuan usia subur, dua kelompok paling rentan dari beban anemia global yang mencapai 1,6 miliar orang. Tim peneliti USU dan University of Malaya menguji hubungan ini secara ekologis pada 187 negara (2015–2019) menggunakan kerangka SYSRA.

Hasilnya, meski STH menurun signifikan, prevalensi anemia tetap berfluktuasi, dan setelah dikontrol faktor sosial-ekonomi, STH tidak lagi berpengaruh signifikan — anemia balita justru ditentukan oleh Indeks Pembangunan Manusia, sementara anemia perempuan usia subur oleh akses air minum aman dan cakupan layanan kesehatan universal. Temuan ini mendorong strategi penanggulangan anemia yang tidak lagi bertumpu tunggal pada program cacingan, melainkan pada intervensi lintas sektor.


Anemia dan penyakit tropis terabaikan (neglected tropical diseases/NTD) seperti infeksi cacing tanah telah lama dipandang sebagai dua masalah kesehatan yang saling terkait erat, terutama karena keduanya memiliki sebaran geografis dan faktor risiko yang tumpang tindih di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Studi berjudul Impact of soil-transmitted helminths infections on anemia burden: a global analysis of children under five and reproductive-age women, yang dipublikasikan di jurnal BMC Public Health (2025) oleh Rahayu Lubis, Fauzi Budi Satria, Rasmaliah, Jemadi, dan Siti Khadijah Nasution dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, bersama Rafdzah Ahmad Zaki dari University of Malaya, menguji ulang asumsi tersebut dalam skala global menggunakan data 187 negara dari 2015 hingga 2019.


Di banyak negara berkembang, anemia dan cacingan sering dianggap sebagai satu paket masalah yang otomatis akan membaik bersamaan begitu program pemberian obat cacing massal digencarkan. Anemia sendiri bukan persoalan kecil: kondisi penurunan kadar hemoglobin ini memengaruhi sekitar 1,62 miliar orang di dunia, dan pada balita maupun ibu hamil dampaknya bisa bersifat jangka panjang, mulai dari gangguan perkembangan kognitif hingga peningkatan risiko kematian. Balita membutuhkan zat besi lebih banyak untuk tumbuh kembang, sementara perempuan usia subur menghadapi kebutuhan zat besi ekstra akibat siklus reproduksi dan kehamilan — dua kelompok dengan alasan fisiologis berbeda, namun sama-sama rentan terhadap anemia dan sama-sama menjadi sasaran program eliminasi NTD yang dicanangkan WHO menuju target 2030.


Untuk menjelaskan mengapa dua kondisi ini bisa saling terkait namun juga bisa saling lepas di tingkat populasi, tim peneliti menggunakan kerangka SYSRA yang biasa dipakai untuk membedah interaksi antara program penyakit menular dan sistem kesehatan yang lebih luas. Empat faktor confounding dimasukkan dalam kerangka ini: Indeks Cakupan Kesehatan Semesta (UHC), indikator air dan sanitasi sesuai SDG 6.1 dan 6.2, efektivitas pemerintahan (Government Effectiveness), dan Indeks Pembangunan Manusia. Logika di baliknya sederhana — infeksi cacing dan anemia sama-sama tumbuh subur di lingkungan dengan sanitasi buruk, layanan kesehatan terbatas, dan tata kelola pemerintahan yang lemah, sehingga tanpa mengontrol faktor-faktor ini, hubungan STH-anemia yang teramati bisa jadi semu.


Secara metodologis, studi ini bersifat ekologis, artinya unit analisisnya adalah negara, bukan individu. Data prevalensi STH dan anemia diambil dari basis data Global Burden of Disease (GBD), sedangkan data UHC, air-sanitasi, efektivitas pemerintahan, dan IPM masing-masing bersumber dari WHO, Worldwide Governance Indicators Bank Dunia, dan UNDP. Untuk mengklasifikasikan negara ke dalam kategori prevalensi rendah dan tinggi, peneliti memakai pendekatan Receiver Operating Characteristic (ROC) Clustering yang dinilai lebih andal dalam menentukan titik potong klasifikasi. Uji paired t-test digunakan untuk melihat perubahan tahunan, uji chi-square untuk menguji hubungan antarvariabel, dan regresi logistik berganda untuk mengidentifikasi faktor yang benar-benar berpengaruh terhadap anemia setelah saling dikontrol satu sama lain.


Temuan pertama yang muncul dari analisis tren adalah penurunan signifikan prevalensi STH setiap tahun sepanjang 2015–2019, baik pada balita maupun perempuan usia subur — sebuah indikasi bahwa upaya global seperti pemberian obat cacing massal dan perbaikan sanitasi mulai membuahkan hasil. Namun pola yang sama tidak terjadi pada anemia. Prevalensi anemia berfluktuasi sepanjang periode yang sama, tidak menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Secara angka, prevalensi STH pada balita (87,37 per 100.000 populasi) jauh lebih rendah dibanding pada perempuan usia subur (10.140,04 per 100.000), tetapi pola ini justru terbalik pada anemia: prevalensi anemia balita (248,29 per 100.000) secara signifikan lebih tinggi dibanding perempuan usia subur (104,37 per 100.000).


Dari 187 negara yang dianalisis, sedikit lebih dari separuh (52,94%) tergolong memiliki prevalensi anemia rendah, sementara 47,06% sisanya tergolong tinggi. Negara-negara dengan beban anemia tinggi cenderung sama: IPM rendah, efektivitas pemerintahan buruk, infrastruktur air-sanitasi minim, dan cakupan UHC rendah — sebuah gambaran khas kerentanan struktural yang saling menumpuk di satu wilayah yang sama.


Bagian paling menarik dari studi ini muncul ketika seluruh faktor dianalisis bersama-sama lewat regresi logistik. Pada level bivariat (chi-square), STH terlihat berhubungan signifikan dengan anemia pada balita, memunculkan kesan bahwa cacingan memang berkontribusi pada anemia anak. Tetapi begitu dikontrol dengan IPM, efektivitas pemerintahan, air-sanitasi, dan UHC secara bersamaan, hubungan itu menghilang — STH tidak lagi menjadi faktor yang signifikan memengaruhi anemia, baik pada balita (OR=1,62; p=0,59) maupun perempuan usia subur (OR=0,59; p=0,21). Yang justru terbukti berpengaruh nyata pada anemia balita adalah IPM: negara dengan IPM rendah berisiko 14,17 kali lebih tinggi memiliki prevalensi anemia balita yang tinggi (p<0,05). Sementara pada perempuan usia subur, dua faktor yang terbukti berpengaruh adalah akses air minum aman sesuai SDG 6.1 (OR=3,98; p<0,05) dan cakupan UHC (OR=4,09; p<0,05) — negara dengan akses air aman rendah atau cakupan UHC rendah memiliki risiko anemia tinggi pada perempuan usia subur yang jauh lebih besar.


Temuan ini bertolak belakang dengan sejumlah studi sebelumnya yang secara konsisten melaporkan hubungan positif antara STH dan anemia, baik pada anak maupun perempuan usia subur. Perbedaan ini kemungkinan besar berakar pada sifat ekologis studi ini, yang menangkap pola di tingkat negara, bukan di tingkat individu — sehingga faktor-faktor struktural seperti pembangunan manusia dan akses layanan kesehatan tampil lebih dominan dibanding efek biologis langsung dari infeksi cacing terhadap kadar hemoglobin seseorang. Perbedaan cakupan program pengendalian cacingan antarnegara turut disebut sebagai kemungkinan penjelas lain atas ketidaksesuaian ini dengan literatur sebelumnya.


[KONFIRMASI NARASUMBER] Implikasinya, penanggulangan anemia pada balita dan perempuan usia subur tidak bisa lagi disandarkan secara tunggal pada program eliminasi cacingan, betapapun pentingnya program tersebut sebagai bagian dari agenda NTD global. Studi ini menunjukkan bahwa jalur intervensi yang lebih menentukan justru berada di luar sektor kesehatan yang sempit: pembangunan manusia secara menyeluruh untuk melindungi balita, serta perluasan akses air minum aman dan cakupan kesehatan semesta untuk melindungi perempuan usia subur. Kebijakan pengentasan kemiskinan, perbaikan infrastruktur air bersih, dan penguatan sistem jaminan kesehatan perlu berjalan seiring dengan program kesehatan konvensional, bukan sebagai pelengkap.


Pada akhirnya, studi ini menjadi pengingat bahwa dua masalah kesehatan yang tampak berjalan beriringan secara global — menurunnya infeksi cacing tanah dan tak kunjung membaiknya anemia — sesungguhnya digerakkan oleh mesin yang berbeda. Cacingan mungkin mereda karena obat dan sanitasi, tetapi anemia bertahan karena akar masalahnya jauh lebih dalam: ketimpangan pembangunan, keterbatasan akses air bersih, dan celah dalam sistem kesehatan itu sendiri. Tim peneliti menegaskan bahwa desain ekologis studi ini membatasi kemampuannya untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat di tingkat individu, sehingga penelitian lanjutan dengan data individual dan mempertimbangkan ko-infeksi seperti malaria atau HIV masih diperlukan untuk memperkuat bukti dan mengarahkan intervensi yang lebih tepat sasaran.

Poin Kunci Riset :

  • Studi ekologis pada 187 negara (2015–2019) menganalisis hubungan infeksi STH dan beban anemia pada balita dan perempuan usia subur (15–49 tahun) menggunakan data Global Burden of Disease.

  • Prevalensi STH menurun signifikan setiap tahun (p<0,05) pada balita (87,37/100.000) maupun perempuan usia subur (10.140,04/100.000), namun prevalensi anemia berfluktuasi, tidak menurun konsisten.

  • Prevalensi anemia balita (248,29/100.000) signifikan lebih tinggi dibanding perempuan usia subur (104,37/100.000), p<0,05.

  • 52,94% dari 187 negara memiliki prevalensi anemia rata-rata rendah; 47,06% tinggi.

  • Analisis multivariat: STH tidak signifikan memengaruhi anemia balita (OR=1,62; p=0,59) maupun perempuan usia subur (OR=0,59; p=0,21).

  • IPM rendah meningkatkan risiko anemia tinggi pada balita 14,17 kali lipat (OR=14,17; p<0,05; 95% CI 4,25–44,66).

  • Akses air minum aman rendah (SDG 6.1) meningkatkan risiko anemia tinggi pada perempuan usia subur 3,98 kali lipat (OR=3,98; p<0,05; 95% CI 1,35–11,78).

  • Cakupan UHC rendah meningkatkan risiko anemia tinggi pada perempuan usia subur 4,09 kali lipat (OR=4,09; p<0,05; 95% CI 1,06–15,69).

PenelitianSDGsSDGs 3Kampus BerdampakDiktisaintek Berdampak

Detail Paper

JurnalBMC Public Health
JudulImpact of soil-transmitted helminths infections on anemia burden: a global analysis of children under five and reproductive-age women
PenulisProf. dr. Rahayu Lubis M.Kes, Ph.D, dr. Fauzi Budi Satria MPH, Ph.D, drh. Rasmaliah M.Kes., Drs. Jemadi M.Kes., Dr. Siti Khadijah Nasution SKM., M.Kes., Prof. Dr. Rafdzah Binti Ahmad Zaki
Afiliasi Penulis-

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin