A11Y

HOME

MENU

CARI

Peneliti USU Bongkar Strategi Industri Telekomunikasi Indonesia

Diterbitkan Pada18 Juni 2026
Diterbitkan OlehProf. Dr. Prihatin Lumbanraja SE., M.Si.
Peneliti USU Bongkar Strategi Industri Telekomunikasi Indonesia
Copy Link
IconIconIcon

Peneliti USU Bongkar Strategi Industri Telekomunikasi Indonesia

 

Diterbitkan oleh

Roni Hikmah Ramadhan, S.S.

Diterbitkan pada

Kamis, 18 Juni 2026

Logo
Download

Riset kolaboratif skala nasional yang diinisiasi oleh tim peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (USU) membedah faktor-faktor penentu performa inovasi pada industri telekomunikasi di Indonesia. Berdasarkan survei terhadap 331 responden tingkat manajerial di berbagai perusahaan seluler nasional, studi ini membuktikan secara empiris bahwa integrasi kapabilitas platform digital dan penguatan infrastruktur analisis big data secara signifikan memicu keunggulan inovasi dan efisiensi pengambilan keputusan strategis. Hasil kajian ini memberikan kontribusi teoretis bagi perluasan konsep kapabilitas dinamis sekaligus menawarkan rekomendasi praktis bagi korporasi untuk membangun budaya sadar data (data-driven culture) demi keberlanjutan bisnis di era ekonomi digital.

Di tengah derasnya arus transformasi digital, kemampuan perusahaan untuk mengolah data dan mengintegrasikan sistem tidak lagi sekadar menjadi aset pendukung, melainkan penentu utama dalam memenangkan persaingan bisnis. Industri telekomunikasi, sebagai motor penggerak konektivitas, kini berada di episentrum pusaran perubahan tersebut. Mereka dituntut untuk tidak sekadar menjadi penyedia pipa jaringan, melainkan mesin yang terus melahirkan terobosan inovatif agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar yang bergerak sangat dinamis.

Sebuah studi strategis bertajuk "Enhancing innovation performance through digital platform capability and big data analytics: Evidence from Indonesia's telecommunications industry" yang dipublikasikan pada International Journal of Data and Network Science membedah fenomena ini secara mendalam. Riset berskala nasional ini dirancang oleh tim peneliti dari Departemen Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara (USU), yang terdiri dari Dicky Ardiansyah Aceh, Prihatin Lumbanraja, Yeni Absah, dan Ritha F. Dalimunthe.

Sebagai salah satu pakar manajemen senior sekaligus penulis korespondensi dalam riset ini, Prihatin Lumbanraja memberikan sorotan penting mengenai lanskap digital di Indonesia. Industri telekomunikasi di dalam negeri memiliki karakteristik unik dengan jumlah pengguna ponsel yang masif dan tingkat adopsi digital masyarakat yang sangat tinggi. Pasar yang sangat besar ini menciptakan dinamika persaingan yang ketat, di mana ekspektasi konsumen berubah dalam hitungan hari. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai laboratorium yang ideal untuk menguji sejauh mana investasi teknologi dapat benar-benar berdampak nyata pada performa inovasi organisasi, bukan sekadar menjadi jargon pemanis di laporan tahunan perusahaan.

Melalui kacamata teoretis Resource-Based View (RBV) dan Dynamic Capability View (DCV), Prihatin Lumbanraja bersama tim menguji data dari 331 responden pada tingkat manajerial dan supervisor di raksasa telekomunikasi Indonesia, termasuk Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, XL Axiata, dan Smartfren. Posisi manajerial ini dipilih secara sengaja karena mereka adalah para pengambil keputusan yang bersentuhan langsung dengan operasional teknologi harian. Hasil analisis menggunakan pemodelan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) menunjukkan bahwa rahasia keunggulan inovasi perusahaan ternyata bersumber dari sinergi dua kekuatan digital utama: kemampuan platform digital (Digital Platform Capability) dan kecakapan analisis data besar (Big Data Analytics Capability).

Riset yang digawangi oleh Prihatin Lumbanraja ini menemukan fakta krusial bahwa kecakapan analisis big data memegang kontribusi yang lebih besar dalam memicu lahirnya performa inovasi. Di era internet saat ini, setiap ketukan layar, durasi panggilan, hingga riwayat penjelajahan konsumen menghasilkan jutaan gigabita data mentah setiap detiknya. Namun, tumpukan data yang mahabesar itu akan menjadi tumpukan sampah digital yang tidak bernilai jika perusahaan tidak memiliki infrastruktur analitik yang kuat.

Ketika perusahaan telekomunikasi mampu mengoptimalkan kecakapan analitiknya, mereka bisa melakukan hal yang sebelumnya mustahil: mendeteksi pola perilaku konsumen yang tersembunyi, melakukan prediksi pasar dengan akurasi tinggi, serta menekan risiko kegagalan bisnis sebelum produk baru dilempar ke pasar. Dampak konkretnya adalah pemendekan siklus pengembangan produk. Perusahaan tidak lagi meraba-raba keinginan pasar; mereka melahirkan inovasi paket data, layanan value-added services (VAS), hingga personalisasi aplikasi asisten digital (seperti MyTelkomsel atau myIM3) berdasarkan data yang nyata, akurat, dan real-time. Data telah bertransformasi dari sekadar aset informasi menjadi sumber keunggulan kompetitif yang langka dan sulit ditiru oleh kompetitor.

Namun, data yang akurat membutuhkan wadah integrasi yang lincah. Di sinilah pilar kedua, yaitu kapabilitas platform digital, memainkan perannya yang tidak kalah penting. Riset tim USU ini mengonfirmasi bahwa platform digital yang kuat bertindak sebagai fondasi yang menyatukan berbagai proses bisnis secara modular dan fleksibel. Platform ini bukan sekadar perangkat lunak, melainkan sebuah infrastruktur terintegrasi yang memungkinkan perusahaan telekomunikasi untuk berkomunikasi, berbagi data, dan berkolaborasi dengan pihak eksternal—mulai dari penyedia konten, pelaku UMKM, hingga pengembang aplikasi pihak ketiga.

Dengan kapabilitas platform yang tinggi, biaya marjinal untuk melakukan kolaborasi regional dapat ditekan seminimal mungkin. Pertukaran pengetahuan terjadi lebih cepat, sekat-sekat birokrasi hancur, dan penyerapan informasi baru dari luar organisasi menjadi lebih efisien. Ketika pasar mengalami guncangan atau perubahan arah yang mendadak, perusahaan yang memiliki platform digital yang matang dapat dengan cepat melakukan rekonfigurasi ulang pada sumber dayanya untuk menciptakan model bisnis baru yang lebih adaptif.

Melalui temuan riset ini, Prihatin Lumbanraja dan tim peneliti FEB USU menyampaikan pesan yang sangat mendalam bagi para praktisi industri digital. Transformasi digital sejati tidak pernah sebatas tentang seberapa besar anggaran yang digelontorkan untuk membeli teknologi tingkat tinggi atau membangun pusat data yang megah. Teknologi secanggih apa pun pada akhirnya akan lumpuh jika tidak dihidupkan oleh kapasitas manusianya.

Oleh karena itu, tantangan terbesar bagi korporasi telekomunikasi di Indonesia saat ini adalah melakukan migrasi budaya kerja. Manajemen perusahaan didorong untuk secara aktif melatih literasi data karyawan di semua lini, memastikan setiap keputusan strategis diambil berdasarkan data (data-driven decision making), bukan sekadar berdasarkan intuisi atau kebiasaan masa lalu.

Selain itu, perusahaan harus menciptakan ekosistem kerja yang ramah terhadap eksperimen, berani melakukan uji coba ide-ide baru, serta terbuka terhadap pembelajaran berkelanjutan. Kombinasi antara teknologi analitik yang cerdas, platform yang fleksibel, dan budaya sadar data dari SDM-nya terbukti menjadi segitiga emas yang akan memastikan korporasi di negara berkembang seperti Indonesia mampu berdiri tegak memimpin pasar digital di panggung global.

Detail Paper

JurnalInternational Journal of Data and Network Science
JudulEnhancing innovation performance through digital platform capability and big data analytics: Evidence from Indonesia's telecommunications industry
PenulisDicky Ardiansyah Aceh
Afiliasi Penulis-

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin