Mengungkap Ketahanan Mangrove: Kondisi Salinitas dan Pemulihan Air Tawar

Diterbitkan PadaJumat, 14 Juni 2024
Diterbitkan OlehProf. Mohammad Basyuni S.Hut., M.Si., Ph.D.
Thumbnail
WhatsappTwitterFacebook

"Di tengah gemuruh ombak dan keheningan tanaman bakau, Rhizophora apiculata, atau yang akrab dikenal sebagai mangrove sejati, berdiri tegak. Tanaman ini bukan hanya saksi bisu dari dinamika ekosistem pesisir, tetapi juga simbol ketahanan dan adaptasi. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh ahli kehutanan Universitas Sumatera Utara, Indonesia, Prof. Mohammad Basyuni, menggali lebih dalam bagaimana spesies ini berjuang dan bertahan di lingkungan yang penuh tantangan seperti salinitas tinggi dan pemulihan air tawar."

Penelitian ini tidak hanya tentang angka dan data, tetapi tentang memahami cerita di balik ketahanan mangrove. Tujuannya jelas: menyelidiki bagaimana salinitas dan pemulihan air tawar mempengaruhi karakteristik morfologi dan kandungan poliisoprenoid bibit R. apiculata. Dalam laboratorium yang dikendalikan, bibit-bibit ini ditempatkan dalam kondisi salinitas berbeda (0,0%, 0,5%, 1,5%, 2,0%, dan 3,0%) dan kemudian diberikan perlakuan pemulihan air tawar.

Bersama dengan peneliti lainnya dari Indonesia: Masrida Wasilah, Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, Nurdin Sulistiyono, Sumardi, Yuntha Bimantara, Rahmah Hayati; dan Jepang: Hiroshi Sagami, Hirosuke Oku, para peneliti mengukur biomassa dengan hati-hati, mengeringkan bibit dalam oven, dan menimbang berat kering daun, batang, dan akar secara terpisah. Analisis poliisoprenoid, senyawa penting dalam adaptasi tanaman, dilakukan menggunakan teknik 2P-TLC yang canggih, fokus pada kandungan poliprenol dan dolikol di daun dan akar.

Hasil penelitian menunjukkan bibit R. apiculata tumbuh subur hingga tingkat salinitas 0,5%, tetapi mulai merasakan tekanan seiring meningkatnya salinitas. Seperti seorang atlet yang pulih dari cedera, pemulihan air tawar memberikan sedikit dorongan dalam pertumbuhan mereka. Meskipun tidak ada perbedaan signifikan dalam berat segar dan kering daun serta akar pada berbagai tingkat salinitas, batang mengalami penurunan signifikan dalam berat kering setelah pemulihan air tawar dari salinitas 3%. Ini seperti tubuh yang kehilangan energi setelah berjuang melawan penyakit.

“Dolikol, senyawa penting dalam menjaga fluiditas dan integritas sel, mendominasi poliprenol di daun dan akar, baik dalam kondisi salinitas maupun pemulihan air tawar. Mereka adalah prajurit yang menjaga pertahanan tanaman,” jelas Prof. Mohammad Basyuni.

Kandungan lipid total tertinggi ditemukan di daun pada salinitas 3,0% setelah pemulihan air tawar, sementara di akar tertinggi pada salinitas 0%. Seperti lemak dalam tubuh manusia, lipid adalah cadangan energi yang penting bagi tanaman. Lipid ini berfungsi sebagai bahan bakar, menyimpan energi yang dibutuhkan tanaman untuk bertahan dan pulih dari kondisi stres. Bayangkan seperti seorang pelari maraton yang mengisi ulang energinya dengan makanan bergizi setelah balapan panjang.

Studi ini mengajarkan kita banyak hal tentang ketahanan dan adaptasi. Stres salinitas, seperti halnya stres dalam kehidupan manusia, dapat mengurangi produktivitas dan kesehatan. Mangrove menunjukkan kepada kita bahwa meskipun menghadapi kondisi sulit, dengan dukungan yang tepat (pemulihan air tawar), mereka bisa bangkit kembali.

“Poliisoprenoid memainkan peran vital dalam adaptasi, mirip dengan bagaimana manusia menggunakan mekanisme koping untuk menghadapi stres. Mangrove ini mengingatkan kita bahwa setiap organisme memiliki cara unik untuk bertahan hidup dan beradaptasi,” sambung Prof. Mohammad Basyuni.

Penelitian ini membuka mata kita tentang efek salinitas dan pemulihan air tawar pada bibit R. apiculata. Ini bukan hanya tentang memahami tanaman, tetapi juga tentang mengambil inspirasi dari ketahanan alam. Di tengah perubahan iklim dan degradasi lingkungan, mangrove mengajarkan kita pentingnya adaptasi dan ketahanan. Dengan memahami dan melindungi ekosistem ini, kita tidak hanya menjaga alam tetapi juga belajar dari kebijaksanaannya. Saat kita memahami dan menghargai ketahanan mangrove ini, kita juga belajar untuk lebih menghargai lingkungan kita dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan demikian, kita dapat mengambil inspirasi dari alam untuk menghadapi tantangan kita sendiri dengan ketangguhan dan harapan.

Artikel
Artikel Penelitian

Detail Paper

JurnalBiodiversitas Journal of Biological Diversity
JudulSalinity and subsequent freshwater influences on the growth, biomass, and polyisoprenoids distribution of Rhizophora apiculata seedlings
PenulisMohammad Basyuni, Masrida Wasilah, Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, Nurdin Sulistiyono, Sumardi, Yuntha Bimantara, Rahmah Hayati, Hiroshi Sagami, Hirosuke Oku
Afiliasi Penulis
  1. Departemen Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Indonesia
  2. Mangrove and Bio-Resources Group, Center of Excellence for Natural Resources-Based Technology, Universitas Sumatera Utara, Indonesia
  3. Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara, Indonesia
  4. Fakultas Farmasi, Universitas Tjut Nyak Dhien, Indonesia
  5. Institute of Multidisciplinary Research for Advanced Material, Tohoku University, Japan
  6. Molecular Biotechnology Group, Tropical Biosphere Research Center, University of the Ryukyus, Japan

Fitur Aksesibilitas

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

A11Y

HOME

MENU

CARI

Scroll Down