Menata Ulang Spektrum Energi Matahari

Menata Ulang Spektrum Energi Matahari
Diterbitkan oleh
Threesna Sharfina
Diterbitkan pada
Rabu, 04 Maret 2026

Siti Utari Rahayu menunjukkan kapasitasnya sebagai peneliti dalam bidang fisika material dan teknologi fotovoltaik yang mampu mengintegrasikan konsep teori semikonduktor dengan eksperimen material nanostruktur
Dalam upaya global menghadapi krisis energi dan perubahan iklim, teknologi energi terbarukan menjadi salah satu arena riset paling dinamis dalam ilmu material modern. Di antara berbagai teknologi tersebut, sel surya berbasis material semikonduktor nanostruktur berkembang pesat sebagai kandidat utama untuk menghasilkan listrik secara bersih dan efisien. Dalam konteks inilah publikasi ilmiah berjudul Bandgap-tunable ternary CdxZn1-xSe nanocrystal for high-efficiency sensitized solar cells menghadirkan kontribusi penting dari tim peneliti yang terdiri atas Siti Utari Rahayu, Yu-Liang Tai, Piyanut Boon-On, Yi-Rong Wang, dan Ming-Wei Lee.
Artikel yang diterbitkan dalam jurnal internasional Materials Science in Semiconductor Processing tersebut menyoroti pendekatan inovatif dalam rekayasa material nanokristal berbasis semikonduktor ternary untuk meningkatkan performa sel surya generasi ketiga. Dalam penelitian ini, Siti Utari Rahayu memainkan peran sentral dalam pengembangan konsep ilmiah, analisis material, serta interpretasi performa fotovoltaik dari sistem nanokristal yang dikembangkan.
Riset ini berangkat dari persoalan fundamental dalam teknologi fotovoltaik modern: bagaimana meningkatkan efisiensi konversi energi matahari menjadi listrik tanpa meningkatkan biaya produksi secara signifikan. Teknologi sel surya berbasis silikon telah mendominasi industri selama beberapa dekade, namun batas efisiensi teoritis dan biaya produksi material mendorong para peneliti untuk mencari alternatif baru. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah penggunaan semiconductor-sensitized solar cells (SSCs)—varian dari sel surya generasi ketiga yang memanfaatkan nanokristal semikonduktor sebagai penyerap cahaya utama.
Dalam SSCs, nanokristal berperan sebagai sensitizer yang menyerap energi cahaya dan kemudian mentransfer elektron ke lapisan semikonduktor seperti titanium dioksida (TiO₂). Teknologi ini memiliki sejumlah keunggulan, termasuk kemampuan menyesuaikan celah pita energi (bandgap), koefisien penyerapan cahaya yang tinggi, serta potensi menghasilkan eksiton ganda dari satu foton cahaya. Namun demikian, tantangan besar masih ada—khususnya terkait efisiensi konversi energi yang relatif lebih rendah dibandingkan teknologi sel surya lain seperti perovskite.
Dalam kerangka ilmiah tersebut, tim peneliti mengusulkan pendekatan rekayasa material berbasis nanokristal ternary CdxZn1-xSe, sebuah material semikonduktor yang memungkinkan pengaturan komposisi kimia untuk mengontrol nilai bandgap secara presisi. Konsep dasar yang digunakan berasal dari teori semikonduktor yang menyatakan bahwa perubahan konstanta kisi kristal akan mempengaruhi energi celah pita material. Dengan memasukkan unsur kadmium (Cd) ke dalam struktur seng selenida (ZnSe), ukuran kisi kristal meningkat dan bandgap dapat diturunkan mendekati nilai ideal bagi penyerap energi matahari.
Peran Siti Utari Rahayu dalam penelitian ini terlihat jelas pada tahap desain eksperimen dan analisis mekanisme rekayasa bandgap. Melalui pendekatan komposisional yang
terkontrol, tim peneliti berhasil memodulasi bandgap material dari 2,63 eV pada ZnSe murni menjadi sekitar 1,90 eV pada komposisi Cd₀.₄₄Zn₀.₅₆Se. Penurunan bandgap ini memperluas spektrum penyerapan cahaya, sehingga nanokristal mampu memanfaatkan energi matahari secara lebih efektif.
Untuk menghasilkan nanokristal tersebut, penelitian ini menggunakan metode Successive Ionic Layer Adsorption and Reaction (SILAR)—sebuah teknik sintesis lapisan tipis yang memungkinkan kontrol komposisi material secara bertahap. Dalam proses ini, lapisan Cd-Se diendapkan secara berulang pada struktur ZnSe sehingga menghasilkan material paduan dengan komposisi yang dapat disesuaikan melalui jumlah siklus deposisi.
Keunggulan metode SILAR terletak pada kesederhanaan proses serta kemampuannya menghasilkan nanokristal dengan struktur yang relatif seragam. Namun keberhasilan teknik ini sangat bergantung pada pengendalian parameter sintesis yang presisi, termasuk jumlah siklus deposisi, kondisi larutan, dan interaksi antarlapisan semikonduktor. Dalam penelitian ini, tim peneliti secara sistematis memvariasikan jumlah siklus Cd-Se untuk mengevaluasi dampaknya terhadap struktur kristal, sifat optik, serta performa perangkat fotovoltaik.
Serangkaian teknik karakterisasi material kemudian digunakan untuk memahami sifat fisik nanokristal yang dihasilkan. Analisis X-ray diffraction (XRD) dilakukan untuk mengidentifikasi struktur kristal dan fase material, sementara transmission electron microscopy (TEM) dan scanning electron microscopy (SEM) digunakan untuk mempelajari morfologi serta distribusi ukuran partikel. Selain itu, spektroskopi UV-Vis digunakan untuk menentukan karakteristik penyerapan cahaya dan estimasi nilai bandgap material.
Melalui rangkaian analisis tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah siklus Cd-Se menghasilkan perubahan signifikan pada struktur elektronik material. Nanokristal yang dihasilkan tidak hanya menunjukkan peningkatan penyerapan cahaya, tetapi juga perbaikan mekanisme transport muatan di dalam perangkat sel surya. Hal ini berkontribusi langsung pada peningkatan efisiensi konversi energi.
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa sel surya berbasis Cd₀.₄₄Zn₀.₅₆Se nanocrystals mampu mencapai power conversion efficiency (PCE) sebesar 7,57%, yang merupakan nilai tertinggi yang pernah dilaporkan untuk sistem Cd-Zn-Se dalam kategori sel surya tersensitisasi semikonduktor.
Lebih jauh lagi, peningkatan performa ini tidak hanya disebabkan oleh peningkatan penyerapan cahaya, tetapi juga oleh perbaikan proses injeksi elektron dan pengurangan rekombinasi muatan di antarmuka material. Dengan menyesuaikan posisi pita konduksi dan pita valensi material melalui rekayasa komposisi, elektron dapat ditransfer secara lebih efisien dari sensitizer ke lapisan TiO₂. Pada saat yang sama, jalur transport muatan menjadi lebih stabil karena struktur film nanokristal yang lebih padat dan konektivitas antarpartikel yang lebih baik.
Kontribusi ilmiah dari penelitian ini tidak hanya terletak pada peningkatan efisiensi perangkat, tetapi juga pada pemahaman mekanistik mengenai hubungan antara rekayasa komposisi material dan performa fotovoltaik. Dalam diskusi ilmiah artikel tersebut, Siti Utari Rahayu menekankan bahwa pengendalian komposisi kation dalam semikonduktor ternary
membuka peluang luas untuk merancang sensitizer dengan sifat optoelektronik yang lebih optimal.
Pendekatan ini juga memiliki implikasi penting bagi pengembangan teknologi energi terbarukan di masa depan. Dengan menggunakan teknik sintesis berbasis larutan seperti SILAR, produksi material nanokristal dapat dilakukan dengan biaya relatif rendah dan kompatibel dengan proses manufaktur skala besar. Hal ini membuka kemungkinan bagi pengembangan sel surya yang tidak hanya efisien tetapi juga ekonomis dan mudah diproduksi.
Dalam lanskap riset global mengenai energi surya, penelitian ini memperkuat posisi nanokristal semikonduktor sebagai platform material yang sangat fleksibel. Berbeda dengan material konvensional yang memiliki nilai bandgap tetap, nanokristal memungkinkan penyesuaian sifat elektronik melalui rekayasa ukuran, komposisi, maupun struktur kristal.
Melalui publikasi ini, Siti Utari Rahayu menunjukkan kapasitasnya sebagai peneliti dalam bidang fisika material dan teknologi fotovoltaik yang mampu mengintegrasikan konsep teori semikonduktor dengan eksperimen material nanostruktur. Pendekatan ilmiah yang diusung tidak hanya menekankan inovasi material, tetapi juga memperlihatkan bagaimana rekayasa bandgap dapat digunakan sebagai strategi utama dalam meningkatkan efisiensi perangkat energi surya.
Bagi Universitas Sumatera Utara, penelitian ini menjadi representasi nyata kontribusi akademisi dalam pengembangan teknologi energi berkelanjutan. Keterlibatan Siti Utari Rahayu sebagai penulis utama sekaligus peneliti korespondensi memperlihatkan bahwa riset yang dilakukan di lingkungan universitas dapat terhubung langsung dengan agenda global pengembangan energi bersih.
Dalam konteks yang lebih luas, riset ini juga menunjukkan bagaimana kolaborasi internasional memainkan peran penting dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Kerja sama lintas institusi memungkinkan integrasi keahlian dalam sintesis material, karakterisasi nanostruktur, serta rekayasa perangkat fotovoltaik. Kolaborasi semacam ini mempercepat proses inovasi dan memperkaya perspektif ilmiah dalam pengembangan teknologi energi masa depan.
Pada akhirnya, kontribusi ilmiah dari penelitian ini melampaui sekadar peningkatan efisiensi perangkat sel surya. Ia membuka jalan bagi eksplorasi material semikonduktor ternary yang lebih kompleks, sekaligus memperlihatkan bahwa rekayasa struktur atom pada skala nanometer dapat menghasilkan perubahan signifikan pada performa teknologi energi.
Melalui pendekatan ilmiah yang sistematis dan berbasis bukti eksperimental, Siti Utari Rahayu dan tim peneliti telah menunjukkan bahwa masa depan teknologi fotovoltaik tidak hanya ditentukan oleh material baru, tetapi juga oleh kemampuan ilmuwan untuk memahami dan mengendalikan sifat elektronik material tersebut pada tingkat paling fundamental.
Dengan demikian, penelitian ini menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan panjang pengembangan teknologi energi bersih—sebuah upaya ilmiah yang tidak hanya menjawab tantangan energi global, tetapi juga memperkuat kontribusi akademisi Indonesia dalam peta riset material semikonduktor dunia.
Detail Paper
- Department of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Sumatera Utara, Indonesia
- Kolaborasi dengan peneliti internasional dari institusi riset material semikonduktor di Taiwan dan Thailand