A11Y

HOME

MENU

CARI

Menggali Potensi Herbal Nusantara untuk Melawan Bakteri Resisten

Diterbitkan Pada04 Maret 2026
Diterbitkan OlehThreesna Sharfina
Menggali Potensi Herbal Nusantara untuk Melawan Bakteri Resisten
Copy Link
IconIconIcon

Menggali Potensi Herbal Nusantara untuk Melawan Bakteri Resisten

 

Diterbitkan oleh

Threesna Sharfina

Diterbitkan pada

Rabu, 04 Maret 2026

Logo
Download

Dengan kontribusi seperti ini, Sri Amelia dan tim peneliti tidak hanya memperkaya literatur ilmiah di bidang mikrobiologi dan farmasi, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan terapi alternatif berbasis bahan alam yang lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap dinamika resistensi antimikroba di masa depan.

Antimicrobial resistance atau resistensi antimikroba saat ini menjadi salah satu tantangan paling serius dalam dunia kesehatan global. Ketika bakteri yang sebelumnya dapat diatasi dengan antibiotik mulai berevolusi dan menjadi kebal terhadap pengobatan, sistem kesehatan menghadapi ancaman besar terhadap efektivitas terapi yang selama ini menjadi standar medis. Organisasi kesehatan global bahkan memperkirakan bahwa pada tahun 2050, resistensi antimikroba dapat menyebabkan hingga sepuluh juta kematian setiap tahun jika tidak ditemukan solusi baru untuk mengatasinya.

Salah satu bakteri yang paling banyak menjadi perhatian dalam konteks ini adalah Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA)—patogen yang dikenal memiliki tingkat resistensi tinggi terhadap berbagai antibiotik. MRSA termasuk dalam kelompok patogen berbahaya yang sering menyebabkan infeksi serius di rumah sakit maupun komunitas. Bakteri ini bahkan termasuk dalam kelompok ESKAPE pathogens, yaitu kelompok bakteri yang dikenal memiliki kemampuan tinggi untuk “melarikan diri” dari efek antibiotik modern. 

Dalam upaya mencari alternatif terapi yang lebih efektif dan berkelanjutan, sekelompok peneliti yang terdiri dari Sri Amelia, Nenni Dwi Aprianti Lubis, Abdi Santoso, Alvin Ivander, dan Yulia Putri melakukan penelitian yang mengeksplorasi potensi tanaman herbal sebagai agen antimikroba alami. Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Journal of Medicinal and Pharmaceutical Chemistry Research dengan judul Inhibitory Effects of Alpinia galanga and Lawsonia inermis on Methicillin Resistant Staphylococcus aureus: An In Vitro Study.

Dalam penelitian ini, Sri Amelia berperan penting dalam perumusan konsep penelitian, metodologi eksperimen, analisis hasil, serta penyusunan naskah ilmiah. Kontribusinya mencerminkan pendekatan ilmiah yang sistematis dalam mengeksplorasi potensi tanaman obat lokal sebagai solusi terhadap krisis resistensi antibiotik yang semakin meningkat.

Penelitian ini berangkat dari satu premis ilmiah yang semakin mendapat perhatian dalam dunia kesehatan global: bahwa tanaman obat tradisional menyimpan potensi besar sebagai sumber agen antimikroba baru. Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, penggunaan tanaman herbal telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional selama berabad-abad. Bahkan diperkirakan sekitar 65–80 persen populasi di negara berkembang masih menggunakan herbal sebagai bagian dari terapi kesehatan mereka.

Sri Amelia dan tim peneliti melihat potensi tersebut sebagai peluang ilmiah yang layak dieksplorasi secara lebih sistematis. Alih-alih hanya mengandalkan pengetahuan empiris, penelitian ini bertujuan mengevaluasi secara eksperimental apakah tanaman herbal lokal memiliki aktivitas nyata dalam menghambat pertumbuhan bakteri MRSA.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan in vitro experimental study dengan memanfaatkan beberapa jenis tanaman yang telah dikenal memiliki aktivitas antibakteri dalam literatur ilmiah sebelumnya. Tanaman-tanaman tersebut meliputi lengkuas (Alpinia galanga), daun inai (Lawsonia inermis), bamban (Donax canniformis), kunyit (Curcuma longa), serta beberapa tanaman herbal lainnya yang umum ditemukan di wilayah Sumatera Utara.

Proses penelitian dimulai dengan tahap ekstraksi bahan herbal menggunakan pelarut etanol 96 persen melalui metode maceration, yaitu teknik perendaman bahan tanaman dalam pelarut untuk mengekstraksi senyawa aktif yang terkandung di dalamnya. Metode ini dipilih karena mampu mempertahankan stabilitas berbagai senyawa bioaktif yang terdapat dalam tanaman.

Setelah proses ekstraksi selesai, tim peneliti melakukan screening fitokimia untuk mengidentifikasi jenis senyawa aktif yang terkandung dalam masing-masing ekstrak herbal. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh tanaman yang diuji mengandung berbagai senyawa bioaktif penting, termasuk alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, dan triterpenoid. Senyawa-senyawa ini dikenal memiliki berbagai mekanisme biologis yang dapat berperan sebagai agen antimikroba alami.

Langkah berikutnya adalah menguji kemampuan ekstrak tanaman tersebut dalam menghambat pertumbuhan bakteri MRSA. Untuk tujuan ini, penelitian menggunakan metode Kirby–Bauer disc diffusion, yaitu teknik laboratorium yang umum digunakan untuk mengukur aktivitas antibakteri suatu senyawa. Dalam metode ini, cakram kecil yang telah direndam dalam ekstrak herbal ditempatkan pada media kultur bakteri, kemudian diamati apakah terbentuk zona hambat yang menunjukkan kemampuan ekstrak dalam menghalangi pertumbuhan bakteri.

Pengujian dilakukan terhadap dua jenis bakteri MRSA, yaitu strain standar MRSA ATCC 49136 serta dua isolat klinis yang diperoleh dari laboratorium mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Vancomycin digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan dimethyl sulfoxide (DMSO) digunakan sebagai kontrol negatif dalam eksperimen tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan temuan yang menarik. Dari seluruh tanaman yang diuji, lengkuas (Alpinia galanga) menunjukkan aktivitas antibakteri paling kuat terhadap MRSA. Diameter zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak lengkuas bahkan mencapai hingga 37,5 mm, yang menurut kriteria CLSI termasuk dalam kategori sensitivitas tinggi terhadap bakteri.

Sementara itu, daun inai (Lawsonia inermis) juga menunjukkan aktivitas antibakteri yang cukup signifikan dengan zona hambat mencapai sekitar 19,5 mm, yang dikategorikan sebagai tingkat inhibisi menengah terhadap MRSA. Temuan ini menunjukkan bahwa kedua tanaman tersebut memiliki potensi sebagai sumber agen antimikroba alami yang dapat dikembangkan lebih lanjut dalam penelitian lanjutan.

Menurut Sri Amelia dan tim peneliti, aktivitas antibakteri tanaman herbal ini tidak terlepas dari kombinasi berbagai senyawa bioaktif yang bekerja secara sinergis dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Misalnya, flavonoid diketahui mampu merusak membran sel bakteri dan menghambat sintesis asam nukleat. Senyawa ini juga dapat menghambat aktivitas enzim tertentu yang penting dalam metabolisme bakteri.

Selain itu, saponin memiliki kemampuan meningkatkan permeabilitas membran sel bakteri, sehingga struktur sel menjadi lebih mudah rusak. Tannin juga diketahui dapat mengganggu stabilitas dinding sel bakteri serta menghambat berbagai proses metabolisme penting dalam sel mikroorganisme.

Sementara itu, alkaloid diketahui berperan sebagai inhibitor efflux pump, yaitu mekanisme yang sering digunakan bakteri untuk memompa keluar antibiotik dari dalam selnya. Dengan menghambat mekanisme ini, senyawa alkaloid dapat meningkatkan efektivitas aktivitas antibakteri terhadap bakteri resisten.

Temuan ilmiah ini memperkuat hipotesis bahwa kombinasi kompleks senyawa bioaktif dalam tanaman herbal dapat memberikan efek antibakteri yang kuat, bahkan terhadap bakteri yang telah resisten terhadap antibiotik konvensional.

Bagi Sri Amelia, penelitian ini juga menunjukkan pentingnya mengeksplorasi kekayaan biodiversitas Indonesia sebagai sumber inovasi di bidang kesehatan. Tanaman herbal yang selama ini digunakan dalam praktik pengobatan tradisional ternyata memiliki potensi ilmiah yang dapat dikembangkan menjadi sumber terapi modern.

Dalam konteks riset kesehatan global, pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan. Pengembangan obat berbasis tanaman tidak hanya membuka peluang penemuan agen antimikroba baru, tetapi juga mendukung pendekatan natural product drug discovery yang semakin banyak digunakan dalam penelitian farmasi modern.

Selain memberikan kontribusi pada pemahaman ilmiah mengenai aktivitas antibakteri tanaman herbal, penelitian ini juga memberikan dasar bagi pengembangan studi lanjutan. Sri Amelia dan tim peneliti menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi senyawa aktif spesifik yang bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakteri tersebut.

Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk menentukan minimum inhibitory concentration (MIC) dan minimum bactericidal concentration (MBC) dari ekstrak tanaman tersebut, serta untuk mengevaluasi efektivitasnya dalam model biologis yang lebih kompleks, termasuk uji in vivo dan pengembangan formulasi farmasi.

Melalui penelitian ini, Sri Amelia menunjukkan bagaimana pendekatan ilmiah yang menggabungkan mikrobiologi, farmasi, dan ilmu tanaman dapat menghasilkan kontribusi penting dalam upaya menghadapi krisis resistensi antibiotik global. Karya ini juga mencerminkan peran aktif akademisi Universitas Sumatera Utara dalam menghasilkan riset yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memiliki implikasi nyata bagi kesehatan masyarakat.

Dalam lanskap penelitian kesehatan modern, inovasi sering kali lahir dari pertemuan antara pengetahuan tradisional dan metodologi ilmiah yang ketat. Penelitian ini menjadi contoh bagaimana kekayaan tanaman obat lokal dapat menjadi sumber inspirasi ilmiah dalam mencari solusi bagi tantangan kesehatan global yang semakin kompleks.

Dengan kontribusi seperti ini, Sri Amelia dan tim peneliti tidak hanya memperkaya literatur ilmiah di bidang mikrobiologi dan farmasi, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan terapi alternatif berbasis bahan alam yang lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap dinamika resistensi antimikroba di masa depan.

SDGsSDGs 3

Detail Paper

JurnalJournal of Medicinal and Pharmaceutical Chemistry Research
JudulInhibitory Effects of Alpinia galanga and Lawsonia inermis on Methicillin Resistant Staphylococcus aureus: An In Vitro Study
PenulisSri Amelia, Nenni Dwi Aprianti Lubis, Abdi Santoso, Alvin Ivander, Yulia Putri
Afiliasi Penulis
  1. Department of Microbiology, Faculty of Medicine, Universitas Sumatera Utara
  2. Department of Nutrition, Faculty of Medicine, Universitas Sumatera Utara
  3. Faculty of Pharmacy, Universitas Sumatera Utara
  4. Faculty of Medicine, Universitas Sumatera Utara
  5. Faculty of Sports Science, Universitas Negeri Medan

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin