A11Y

HOME

MENU

CARI

Inovasi Alami untuk Luka Anak Pasca Kemoterapi

Diterbitkan Pada10 Juli 2025
Diterbitkan OlehDavid Kevin Handel Hutabarat
Inovasi Alami untuk Luka Anak Pasca Kemoterapi
Copy Link
IconIconIcon

Inovasi Alami untuk Luka Anak Pasca Kemoterapi

 

Diterbitkan oleh

David Kevin Handel Hutabarat

Diterbitkan pada

Kamis, 10 Juli 2025

Logo
Download

Peneliti dari USU menemukan kombinasi tetes oral dari ekstrak teripang dan kulit buah naga yang efektif menyembuhkan mukositis oral akibat kemoterapi. Studi ini menunjukkan potensi fitoterapi dalam mendukung pemulihan anak penderita kanker secara alami dan efisien.

Di tengah perjuangan panjang anak-anak melawan leukemia, ada luka lain yang kerap luput dari perhatian. Luka kecil di mulut yang terasa perih setiap kali mereka menelan air, berbicara, atau bahkan tersenyum. Luka itu bernama mukositis oral, peradangan menyakitkan di rongga mulut yang muncul sebagai efek samping dari kemoterapi. Tidak hanya menyiksa fisik, luka ini juga merampas hak dasar anak untuk menikmati makanan, tidur nyenyak, dan berbicara tanpa rasa sakit.


Namun kini, harapan datang dari tempat yang tidak terduga laut dan kebun. Tepatnya dari tubuh seekor teripang pasir (Holothuria scabra) dan kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus). Dua bahan alami ini menjadi tokoh utama dalam sebuah studi menakjubkan yang dipublikasikan di Journal of Pharmacy & Pharmacognosy Research oleh Timmauli Parulian Gultom dan rekan-rekannya. Penelitian yang beranggotakan Siti Salmiah, Zulfi Amalia Bachtiar, Ika Devi Adiana, Gita Wulan Sari, Kerenha dan Deborah Christina Tambunan dari Universitas Sumatera Utara dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sumatera Utara ini bukan hanya soal sains. Lebih dalam dari itu, tentang bagaimana alam, jika diramu dengan cermat, bisa menjadi penyembuh luka yang lembut dan ampuh. 


“Sebagian besar pasien anak leukemia mengalami mukositis pasca kemoterapi. Luka di rongga mulut ini sering kali dianggap sebagai efek samping biasa, padahal sangat menyiksa dan memperlambat pemulihan,” ungkap Timmauli. Ia menyuarakan keprihatinannya sebagai peneliti dan juga sebagai ibu yang paham betul betapa pentingnya kualitas hidup anak dalam masa penyembuhan.


Dalam penelitian ini, tim mengembangkan tetes oral kombinasi dari ekstrak teripang dan kulit buah naga dengan tiga konsentrasi berbeda: 20%, 30%, dan 40%. Subjeknya adalah tikus-tikus Wistar yang telah diinduksi mukositis menggunakan methotrexate, obat kemoterapi yang umum digunakan. Tiap kelompok diberi perlakuan berbeda, termasuk kelompok kontrol positif (menggunakan asam hialuronat) dan kelompok kontrol negatif (tanpa perlakuan). Obat diberikan dua kali sehari selama 3, 7, dan 14 hari.


Hasilnya sangat mencengangkan. Pada hari ketiga, memang belum terlihat perbedaan yang signifikan. Tapi saat hari ketujuh tiba, kelompok yang mendapat kombinasi 20% dan 40% telah menunjukkan penyembuhan sempurna. Tanpa pembengkakan, tanpa luka terbuka. Bahkan lebih cepat dari kelompok yang menggunakan obat standar.


Apa yang sebenarnya bekerja di balik tetes sederhana ini? Jawabannya adalah fitokimia dan bioaktif laut. Teripang pasir bukanlah sekadar makanan eksotis. Ia mengandung kolagen, triterpenoid, flavonoid, dan saponin yakni zat yang berperan dalam regenerasi sel, anti-inflamasi, dan penyembuhan luka. Kolagen membantu mempercepat tumbuhnya jaringan baru, sementara triterpenoid meredam peradangan yang menyakitkan.


Sementara itu, kulit buah naga, yang selama ini dibuang begitu saja, ternyata menyimpan kekuatan antioksidan yang luar biasa. Kandungan betasianin, flavonoid, dan tannin dalam kulit buah ini berfungsi menangkal radikal bebas, mengurangi inflamasi, dan mempercepat pemulihan jaringan yang rusak. 
“Kami ingin memanfaatkan limbah buah yang sering diabaikan. Kulit buah naga ternyata sangat kaya akan senyawa aktif, dan efeknya luar biasa ketika dikombinasikan,” jelas Timmauli.


Tak hanya menyembuhkan secara fisik, kombinasi tetes ini juga mampu mengalahkan waktu. Rata-rata waktu penyembuhan kelompok 20% adalah 7,33 hari, dan untuk kelompok 40% adalah 6,83 hari. Bandingkan dengan kontrol positif yang butuh waktu 9 hari, dan kelompok tanpa obat yang bahkan belum sembuh hingga hari ke-14. Ini menunjukkan betapa efektifnya kombinasi alami ini dalam mempercepat pemulihan luka pasca kemoterapi.


“Hal yang membuat kami terharu adalah melihat hasil histopatologi. Luka benar-benar menutup, jaringan baru terbentuk sempurna, dan peradangan menghilang. Ini bukan hanya angka di tabel, tapi bukti bahwa pendekatan alami bisa menjadi solusi nyata,” tutur Timmauli dengan antusias.


Meski hasilnya menjanjikan, tim peneliti tidak buru-buru mengklaim keajaiban. Mereka sadar, ada banyak hal yang masih harus disempurnakan. Misalnya, uji organoleptik menunjukkan bahwa tetes ini belum ideal dari sisi viskositas dan daya sebar. Beberapa formulasi terlalu kental atau tidak melekat baik di rongga mulut. Maka, tahap selanjutnya adalah menyempurnakan tekstur agar nyaman digunakan pada anak-anak.


Mekanisme kerjanya pun luar biasa kompleks. Saponin dan flavonoid bekerja menekan enzim pro-inflamasi seperti COX-2 dan PLA2. Triterpenoid mendorong produksi kolagen, mempercepat perbaikan jaringan. Tannin dan alkaloid bertugas sebagai agen antibakteri alami, mencegah infeksi sekunder pada luka terbuka. Sementara itu, betasianin sebagai senyawa berpigmen merah dari buah naga, bertindak sebagai penjaga sistem kekebalan, menghambat jalur inflamasi yang dipicu oleh protein IKK.


“Bayangkan, hanya dengan tetesan alami, kita bisa menekan begitu banyak jalur biologis yang berkontribusi pada nyeri dan luka. Ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan bisa bersinergi dengan warisan alam,” ujar Timmauli.


Rekomendasi akhirnya pun menarik: dari tiga konsentrasi, kombinasi 20% dinilai paling optimal. Ia memberikan hasil penyembuhan cepat, dengan efisiensi bahan baku yang baik. Dalam skala produksi, hal ini sangat penting untuk menekan biaya dan meningkatkan aksesibilitas. Bayangkan jika formula ini bisa tersedia sebagai terapi dukungan standar untuk anak-anak penderita kanker dengan harga terjangkau dan tanpa efek samping.


Artikel ini bukan hanya sekadar hasil laboratorium. Melainkan jadi refleksi dari pendekatan baru dalam dunia medis, menggabungkan keajaiban alam dan kecermatan sains. Ia adalah bukti bahwa dalam tubuh seekor teripang dan kulit buah yang sering dibuang, tersembunyi harapan untuk menyembuhkan luka terdalam anak-anak pejuang kanker.


Harapannya pada suatu hari nanti, ketika seorang anak tersenyum lebar tanpa rasa sakit setelah kemoterapi, kita akan tahu bahwa tetes kehidupan itu telah bekerja. Diam-diam, penuh kasih, dari alam untuk manusia.

SDGsSDGs 3

Detail Paper

JurnalJournal of Pharmacy & Pharmacognosy Research
JudulCombination effects oral drops of Holothuria scabra extract and Hylocereus polyrhizus peel on enhancing recovery from postchemotherapy oral mucositis
PenulisEssie Octiara, Siti Salmiah, Zulfi Amalia Bachtiar, Ika Devi Adiana, Gita Wulan Sari, Kerenha, Deborah Christina Tambunan
Afiliasi Penulis
  1. Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
  2. Rumah Sakit Gigi dan Mulut, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin