A11Y

HOME

MENU

CARI

Bahaya Cacing Pita pada Tradisi Kuliner Ekstrem di Simalungun

Diterbitkan Pada03 Juni 2026
Diterbitkan OlehProf.Dr. dr. Dewi Masyithah Darlan DAP& E.MPH.Sp.Park
Bahaya Cacing Pita pada Tradisi Kuliner Ekstrem di Simalungun
Copy Link
IconIconIcon

Bahaya Cacing Pita pada Tradisi Kuliner Ekstrem di Simalungun

 

Diterbitkan oleh

Roni Hikmah Ramadhan, S.S.

Diterbitkan pada

Rabu, 03 Juni 2026

Logo
Download

Tim peneliti Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) yang dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Dewi Masyithah Darlan berhasil mengidentifikasi Kecamatan Raya Kahean, Kabupaten Simalungun, sebagai wilayah fokus endemik baru penyakit cacing pita (Taenia asiatica) di Sumatra Utara. Melalui pemeriksaan sampel feses terhadap 428 warga, riset ini menemukan angka prevalensi taeniasis yang tinggi sebesar 21,7%, di mana pemicu utamanya adalah kebiasaan mengonsumsi hati babi domestik dan babi hutan mentah atau setengah matang. Konfirmasi molekuler berbasis uji Multiplex PCR dan analisis filogenetik menyimpulkan bahwa parasit yang mewabah merupakan keturunan hibrida purba dari T. asiatica dan T. saginata, yang menuntut intervensi sanitasi, edukasi kuliner, dan pengobatan massal segera dari otoritas kesehatan setempat.

MEDAN – Bagi sebagian masyarakat Simalungun, menyantap hidangan daging babi atau babi hutan dengan campuran hati mentah—yang dikenal sebagai tradisi kuliner lokal—merupakan bagian dari suguhan adat atau santapan kebersamaan yang nikmat. Namun, di balik kebiasaan kuliner ekstrem ini, tersimpan ancaman kesehatan yang nyata. Sebuah riset kedokteran terbaru berhasil membongkar bahwa kebiasaan mengonsumsi hati babi mentah telah memicu ledakan kasus penyakit cacing pita (taeniasis) di wilayah tersebut.  
Kajian ilmiah berskala internasional bertajuk "A new focus of Taenia asiatica taeniasis in North Sumatra, Indonesia: Molecular confirmation and prevalence" yang terbit di jurnal Parasitology International (2025) berhasil memetakan wilayah endemik baru ini. Riset besar berbasis pelacakan genetik ini dipimpin langsung oleh pakar parasitologi terkemuka dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. dr. Dewi Masyithah Darlan, DAP&E, MPH, Sp.ParK, bersama tim peneliti lintas negara: Hemma Yulfi, Sunna Vyatra Hutagalung, Merina Pangabean, Yunilda Andriyani, Irma Sepala Sari Siregar, Inke Nadia Diniyanti Lubis, Toni Wandra, Ivan Elisabeth Purba, Hiroshi Yamasaki, dan Yasuhito Sako.  
Detektif Parasit: Profesor Dewi Masyithah Temukan Lokasi Endemik Baru
Sebagai penggagas utama riset ini, Prof. Dewi Masyithah Darlan memfokuskan pelacakannya di Kecamatan Raya Kahean, Kabupaten Simalungun. Wilayah ini bertetangga dengan Kecamatan Silau Kahean yang pada tahun 2014 lalu sudah dinyatakan sebagai daerah endemik cacing pita jenis Taenia asiatica. Tergerak oleh laporan puskesmas setempat, Prof. Dewi Masyithah menerjunkan tim untuk memeriksa ratusan sampel feses warga desa.  
Hasil penelusuran Prof. Dewi Masyithah sangat mengejutkan. Dari 428 warga yang diperiksa, sebanyak 21,7% atau hampir seperempat populasi positif bersarang cacing pita di dalam perutnya. Bahkan, di beberapa desa terpencil seperti Sorba Dolok dan Bah Tonang, angka penularannya melonjak ekstrem hingga mencapai 65,4% dan 44,3%. Kasus ini paling banyak menyerang kaum pria dewasa berumur di atas 18 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai petani di perkebunan kelapa sawit.  
Rahasia Genetik: Jejak Cacing "Blasteran" dalam Perut
Guna memastikan jenis cacing pita yang mewabah, Prof. Dewi Masyithah Darlan membawa sampel proglottid (potongan tubuh cacing) yang keluar dari perut pasien untuk diuji secara molekuler menggunakan teknologi Multiplex PCR di laboratorium. Hasilnya sangat akurat: seluruh sampel terkonfirmasi positif sebagai spesies Taenia asiatica.  
Melalui analisis genetik yang lebih mendalam pada gen COX1 dan pold, tim Prof. Dewi Masyithah berhasil mengungkap fakta ilmiah yang unik. Cacing pita Taenia asiatica yang ditemukan di Simalungun memiliki keragaman genetik yang sangat rendah (miskin variasi) dan terbukti merupakan keturunan hasil persilangan atau "blasteran" purba antara Taenia asiatica (cacing pita babi Asia) dan Taenia saginata (cacing pita sapi). Penemuan cacing hibrida ini menegaskan bahwa penularan di Raya Kahean telah mengakar kuat dalam ekosistem lokal.  
Memutus Rantai Penularan dari Lapangan hingga Meja Makan
Berdasarkan wawancara lapangan dan kuesioner yang disebarkan oleh Prof. Dewi Masyithah, rantai penularan abadi ini dipicu oleh dua faktor utama: peternakan tradisional dan kebiasaan makan. Sebagian warga masih membiarkan babi peliharaan mereka berkeliaran bebas di sekitar kebun sawit, sehingga babi-babi tersebut dengan mudah memakan kotoran manusia yang mengandung telur cacing saat warga buang air sembarangan di ladang. Telur cacing itu lalu tumbuh menjadi kista (cysticerci) di dalam hati babi.  
Ketika babi atau babi hutan hasil buruan disembelih, potongan hati yang mengandung kista hidup ini langsung dicampur ke dalam masakan tradisional tanpa dimasak dengan matang, lalu disantap bersama-sama. Begitu masuk ke perut manusia, kista tersebut tumbuh subur menjadi cacing pita dewasa yang panjang.  
Lewat publikasi riset ini, Prof. Dewi Masyithah Darlan mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan. Beliau menegaskan perlunya edukasi sanitasi dasar yang ketat, perbaikan cara memasak makanan tradisional, serta penerapan surveilans berkala dan pengobatan massal bagi pembawa cacing guna memutus total mata rantai penyakit parasit ini demi masa depan kesehatan masyarakat Simalungun.

SDGs 3SDGs 6

Detail Paper

JurnalParasitology International
JudulA new focus of Taenia asiatica taeniasis in North Sumatra, Indonesia: Molecular confirmation and prevalence
PenulisHemma Yulfi, Sunna Vyatra Hutagalung, Merina Pangabean, Yunilda Andriyani, Irma Sepala Sari Siregar, Inke Nadia Diniyanti Lubis, Toni Wandra, Ivan Elisabeth Purba, Hiroshi Yamasaki
Afiliasi Penulis
  1. Department of Parasitology, Faculty of Medicine, Universitas Sumatera Utara, Medan, North Sumatra, Indonesia
  2. Department of Pediatrics, Faculty of Medicine, Universitas Sumatera Utara, Medan, North Sumatra, Indonesia
  3. Directorate of Postgraduate, Sari Mutiara Indonesia University, Medan, Indonesia
  4. Department of Parasitology, National Institute of Infectious Diseases, Tokyo, Japan

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin