USU Gelar Bedah Buku "Babad Alas" Karya Wamendagri

USU Gelar Bedah Buku "Babad Alas" Karya Wamendagri
Diterbitkan oleh
Bambang Riyanto, S.S., M. Si
Diterbitkan pada
Kamis, 30 April 2026

Rektor USU Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si., menyampaikan universitas bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang dialog gagasan, pertukaran perspektif, serta penguatan budaya literasi. Bedah buku seperti ini menjadi jembatan antara dunia akademik dan praktik kebijakan publik, sekaligus membuka ruang kritis bagi mahasiswa dan dosen untuk berdiskusi secara konstruktif.
HUMAS USU - Universitas Sumatera Utara (USU) menjadi tuan rumah dari kegiatan Bedah Buku “Babad Alas” yang ditulis langsung oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Dr. Bima Arya, S.Hum., M.A. Sebuah karya autobiografi yang tidak hanya bernilai literer berbasis pengalaman tetapi juga sarat dengan makna historis, kultural, dan refleksi kebangsaan. Bedah buku dilakukan di Digital Learning Center Building Lt. 8, pada Kamis (30/04/2026).
Kehadiran buku Babad Alas di tengah-tengah kita merupakan kontribusi penting dalam memperkaya khasanah literasi nasional. Kata “babad” sendiri membawa kita pada tradisi penulisan sejarah yang tidak sekadar mencatat peristiwa, tetapi juga merangkai nilai, identitas, dan perjalanan suatu masyarakat. Sementara “alas” dapat dimaknai sebagai ruang awal, sebuah titik mula peradaban yang penuh tantangan, sekaligus peluang.
Rektor USU Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si., menyampaikan universitas bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang dialog gagasan, pertukaran perspektif, serta penguatan budaya literasi. Bedah buku seperti ini menjadi jembatan antara dunia akademik dan praktik kebijakan publik, sekaligus membuka ruang kritis bagi mahasiswa dan dosen untuk berdiskusi secara konstruktif.
“Dalam bedah buku ini kita bisa dapat inspirasi mengenai makna sebuah kota. Jadi kota itu menjadi penting untuk memajukan peradaban orang yang tinggal di kota itu,” sampai Rektor dalam kata sambutannya.
Wakil Menteri Dalam Negeri Dr. Bima Arya Sugiarto, S.Hum., M.A., menuturkan dirinya menemukan inspirasi dalam menulis buku dari kehidupannya sehari-hari sebagai pemangku kekuasaan. Seorang pemimpin harus bisa mengelola berbagai kepentingan di setiap lapisan masyarakat. Termasuk di antaranya memberantas koruptor.
“Awalnya, jiwa aktivis saya bergejolak ingin sikat koruptor, hajar ormas preman. Tapi ternyata tidak bisa begitu. Kita harus punya jurus, cara, dan yang paling penting ideologi,” tuturnya.
Dr. Bima Arya, menambahkan bahwasanya setiap pemangku kekuasaan harus mempunyai ideologi. Ideologi tersebut tidak bisa jalan tanpa strategi. Strategi terpenting adalah mencicil harapan. Leaders are dealers of hope. Tidak bisa memuaskan semua harapan sekaligus, maka harus dicicil agar terlihat perubahan fisiknya. Dilihat dari program kerja untuk membangun kota ke arah yang lebih baik. “Menjadi pemimpin adalah soal keberanian berdiri di atas keyakinan dan ideologi, sambil tetap cerdik dalam menyusun strategi untuk mewujudkan harapan masyarakat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, mengatakan buku Babad Alas memuat tentang keberhasilan-keberhasilannya dalam mengambil kebijakan dan aturan. Senantiasa untuk mendengar dan melihat keluhan masyarakat, serta perlu dikaji sehingga setiap peraturan tepat dengan sasaran.
“Sebenarnya buku ini kayaknya ditujukan sama saya ini kayaknya. Karena saya baru memimpin satu tahun, tapi begitu saya lihat di dalamnya, ini adalah perjalanan-perjalanan seorang pemimpin yang sudah menjalani kepemimpinannya selama dua periode di Kota Bogor,” kata Walkot Medan.