Ujian Baru Ketahanan Hutan Tropis

Ujian Baru Ketahanan Hutan Tropis
Diterbitkan oleh
Renny Julia Harahap
Diterbitkan pada
Rabu, 20 Mei 2026

Penulis: Onrizal S.Hut, M.Si, Ph.D (Dosen Fakultas Kehutanan USU)
Studi pantropis menunjukkan bahwa kekayaan jenis pohon di skala tapak sangat dipengaruhi kondisi air pada bulan terkering. Ini petunjuk kebijakan yang praktis untuk adaptasi iklim dan pengurangan risiko bencana.
Di Indonesia, kita sudah akrab dengan dua wajah iklim ekstrem: hujan lebat yang memicu banjir bandang dan longsor, serta kemarau panjang yang membuka ruang bagi kebakaran hutan dan krisis air. Yang sering luput adalah satu pertanyaan yang seharusnya menjadi titik awal kebijakan: indikator apa yang paling cepat memberi sinyal bahwa suatu lanskap sedang bergerak ke arah rapuh—sebelum bencana datang.
Sebuah studi baru kami (kerja sama antarbenua) yang terbit di jurnal peer-review bergengsi National Science Review menawarkan kompas yang lebih tajam. Para peneliti melatih model ”spatial random forest” menggunakan jaringan 429 plot permanen berukuran 1 hektar di tiga kawasan tropis utama (Asia, Amerika, dan Afrika), dengan 24 variabel lingkungan yang mencakup iklim, tanah, dan topografi. Hasilnya tegas, kombinasi variabel lingkungan menjelaskan sekitar 86 persen variasi kekayaan jenis pohon pada skala lokal (alpha diversity) antarplot.
Angka itu penting karena menunjukkan bahwa keanekaragaman pohon di tingkat tapak bukan sekadar ”nasib geografis”. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang dapat dipetakan dan, pada batas tertentu, dikelola. Dengan kata lain, ketika iklim berubah dan lanskap terfragmentasi, kita sedang mengubah prasyarat ekologis yang membentuk kekayaan jenis pohon dan dampaknya akan terasa pada fungsi ekosistem (penyimpanan karbon, pengaturan air, stabilitas tanah, hingga peluang pemulihan setelah gangguan).
Temuan paling kuat dari studi tersebut adalah peran air pada puncak kemarau. Dalam analisis hutan acak non-spasial, curah hujan pada bulan terkering (precipitation of the driest month) muncul sebagai variabel tunggal paling penting untuk memprediksi kekayaan jenis pohon, disusul pH tanah. Peneliti juga menemukan bahwa interaksi antara curah hujan bulan terkering dan proporsi partikel silt (debu halus) dalam fraksi tanah halus ikut berkontribusi signifikan. Ketika model memperhitungkan autokorelasi spasial, indikator defisit air dan volatilitas kelembaban menjadi semakin dominan—antara lain rentang kelembaban relatif tahunan, musiman hujan (bio15), potensi evapotranspirasi (PET), dan indeks kelembaban iklim.
Jika disederhanakan, pesan ilmiahnya mudah dipahami. Hutan tropis paling kaya jenis cenderung berada pada lokasi yang tetap memiliki pasokan air memadai di bulan paling kering, dan tidak mengalami fluktuasi kelembaban yang terlalu ekstrem. Sebaliknya, ketika bulan terkering makin kering atau kondisi kelembaban makin ”bergejolak”, kekayaan jenis pohon di tingkat tapak cenderung menurun.
Untuk publik, angka-angka itu menerjemahkan satu hal sederhana, menanam saja tidak cukup. Penegakan saja tidak cukup. Mengurus satu komponen tanpa yang lain sering menghasilkan perbaikan semu. Ketahanan biodiversitas (dan ketahanan lanskap terhadap bencana) memerlukan paket intervensi yang memperhitungkan air, tanah, topografi, dan tata kelola gangguan secara sekaligus. Ini menjadi catatan penting bagi Kementerian Kehutanan dalam rencana pemulihan lahan dan hutan kritis di Indonesia.
Lalu, apa implikasinya untuk kebijakan perubahan iklim dan ketahanan bencana di Indonesia?
Pertama, perlakukan bulan terkering sebagai indikator risiko yang ”lebih tajam” daripada rerata tahunan. Banyak perencanaan masih bertumpu pada angka rata-rata, padahal ekosistem dan bencana sering ditentukan oleh ekstrem. Bulan terkering adalah ujian paling keras bagi pohon: tekanan air meningkat, risiko kebakaran naik, regenerasi melemah, dan dampaknya bisa berantai hingga musim hujan berikutnya (misalnya peningkatan limpasan permukaan pada lanskap yang vegetasinya rusak). Mengabaikan bulan terkering berarti kita gagal membaca titik paling rapuh ekosistem.
Kedua, lindungi refugia lembab sebagai infrastruktur alam. Di tingkat lanskap, variabel terkait kelembaban dan topografi berperan besar. Itu berarti kawasan sempadan sungai, hutan kaki pegunungan, rawa dan lahan gambut yang masih berfungsi, serta mosaik topografi yang menjaga kelembaban mikro perlu diperlakukan sebagai ”benteng” ganda: benteng biodiversitas dan benteng bencana. Melindungi refugia bukan hanya soal melestarikan spesies, tetapi juga menurunkan peluang kebakaran saat kemarau ekstrem dan mempercepat pemulihan setelah gangguan.
Ketiga, reformasi restorasi, dari ”tanam” menjadi ”pulihkan fungsi air dan tanah”. Pada skala tapak, tanah—terutama pH dan sifat fisiknya—memengaruhi keberhasilan pemulihan. Restorasi yang efektif harus dimulai dengan diagnosis tanah (pH, tekstur, bahan organik) dan pemulihan neraca air (perbaikan drainase yang merusak, rehabilitasi riparian, pengendalian erosi). Keberhasilan seharusnya diukur melalui indikator ketahanan: stabilitas kelembaban tapak, penurunan hotspot kebakaran, peningkatan kelangsungan hidup dan pertumbuhan pohon, serta menguatnya regenerasi alami, bukan hanya luas tertanam.
Keempat, jadikan peta ”risiko musim kering dan refugia lembab” sebagai layer resmi perencanaan. Pemerintah pusat dan daerah dapat membangun peta risiko berbasis indikator bulan terkering dan defisit air (misalnya PET dan volatilitas kelembapan), lalu menumpangkannya dengan tutupan lahan, akses, dan riwayat gangguan. Layer ini harus hidup dalam RTRW/RDTR, perizinan, dan prioritas patroli serta kesiapsiagaan pada puncak kemarau. Tanpa integrasi ke instrumen tata ruang dan operasi lapangan, peta hanya akan menjadi dokumen teknis yang tidak mengubah realitas.
Terakhir, buat target yang terukur dalam horizon waktu yang jelas. Dalam 12 bulan, keluarkan peta operasional versi pertama, terapkan SOP kesiapsiagaan puncak kemarau pada unit pengelolaan prioritas, dan jalankan pilot restorasi berbasis hidrologi-tanah di lanskap berisiko tinggi. Dalam 24 bulan, integrasikan layer risiko ke perencanaan ruang dan perizinan, perluas koridor riparian dan konektivitas habitat, serta bangun dashboard monitoring (mortalitas saat kemarau, regenerasi, proxy kelembaban). Dalam 36 bulan, lakukan audit dampak: apakah kebakaran berulang menurun, apakah tapak restorasi lebih stabil kelembabannya, dan apakah indikator biodiversitas menunjukkan pemulihan yang konsisten.
Pelajaran terpenting dari studi pantropis ini sederhana: hutan tropis memberi sinyal yang bisa dibaca lebih dini, dan sinyal itu bernama ”bulan terkering”. Jika kita ingin ketahanan bencana yang benar-benar terasa bagi masyarakat, infrastruktur, dan ekonomi, maka kebijakan harus menguatkan ekosistem tepat pada saat ia paling rentan—sebelum api menyala, sebelum banjir datang, sebelum kerugian membesar.
*Tulisan ini telah dipublikasikan di Kompas.id
*Foto: https://dinosgrow.com/