A11Y

HOME

MENU

CARI

Dosen Fahutan USU Ingatkan Ancaman Ikan Red Devil terhadap Ekosistem Danau Toba

Diterbitkan Pada18 Juni 2026
Diterbitkan OlehRenny Julia Harahap
Dosen Fahutan USU Ingatkan Ancaman Ikan Red Devil terhadap Ekosistem Danau Toba
Copy Link
IconIconIcon

Dosen Fahutan USU Ingatkan Ancaman Ikan Red Devil terhadap Ekosistem Danau Toba

 

Diterbitkan oleh

Renny Julia Harahap

Diterbitkan pada

Kamis, 18 Juni 2026

Logo
Download

Pakar biodiversitas Universitas Sumatera Utara (USU), Onrizal, S.Hut, M.Si, Ph.D, mengingatkan bahwa keberadaan ikan red devil tidak dapat dipandang sebagai persoalan biasa. Menurutnya, spesies yang berasal dari Amerika Tengah tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam keberlanjutan perikanan masyarakat di kawasan Danau Toba.

MEDAN-HUMAS USU: Danau Toba selama ini dikenal sebagai salah satu kekayaan alam terbesar Indonesia. Namun di balik keindahan bentang alamnya, danau vulkanik terbesar di dunia itu menghadapi ancaman yang tidak kasatmata: invasi ikan red devil (Amphilophus labiatus), spesies asing yang kini semakin mendominasi perairan Danau Toba.

Pakar biodiversitas Universitas Sumatera Utara (USU), Onrizal, S.Hut, M.Si, Ph.D, mengingatkan bahwa keberadaan ikan red devil tidak dapat dipandang sebagai persoalan biasa. Menurutnya, spesies yang berasal dari Amerika Tengah tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam keberlanjutan perikanan masyarakat di kawasan Danau Toba.

"Red devil bukan spesies asli Danau Toba. Ketika berada pada lingkungan yang sesuai, ikan ini dapat berkembang sangat cepat dan menekan populasi ikan lokal," ujar Onrizal.

Dosen Fakultas Kehutanan USU tersebut menjelaskan, red devil diduga masuk ke Danau Toba melalui perdagangan ikan hias. Seiring waktu, ikan tersebut terlepas atau sengaja dilepaskan ke perairan umum hingga akhirnya mampu beradaptasi dan berkembang biak secara masif.

Menurut Dr Onrizal, kondisi Danau Toba justru menjadi habitat yang ideal bagi spesies invasif tersebut. Luas perairan yang sangat besar, ketersediaan pakan yang melimpah, serta minimnya predator alami membuat populasi red devil terus bertambah dari tahun ke tahun.

Yang lebih mengkhawatirkan, lanjutnya, red devil memiliki karakter agresif dan teritorial. Ikan ini dikenal sangat protektif terhadap wilayah pemijahan dan anak-anaknya.

"Dalam ekosistem danau, sifat seperti ini dapat memicu persaingan ketat dalam memperebutkan makanan dan ruang hidup. Bahkan, ada kemungkinan anakan ikan lokal menjadi mangsa," jelasnya.

Ancaman tersebut tidak hanya berdampak pada aspek ekologis. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan, dominasi red devil juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi.

Onrizal menuturkan bahwa nilai jual red devil relatif lebih rendah dibandingkan beberapa jenis ikan konsumsi yang selama ini menjadi andalan nelayan Danau Toba. Ketika hasil tangkapan didominasi spesies invasif tersebut, pendapatan nelayan pun dapat terdampak.

"Persoalannya bukan hanya jumlah ikan yang tertangkap, tetapi juga nilai ekonominya. Jika ikan yang mendominasi memiliki harga jual rendah, tentu akan memengaruhi kesejahteraan masyarakat," katanya.

Meski demikian, Onrizal menilai pemberantasan total red devil bukanlah pilihan yang realistis. Dengan populasi yang sudah terlanjur mapan dan wilayah Danau Toba yang sangat luas, pendekatan yang lebih memungkinkan adalah pengendalian populasi dan pembatasan penyebaran.

Ia menyarankan penangkapan intensif pada lokasi pemijahan maupun wilayah yang diketahui memiliki konsentrasi populasi tinggi. Hasil tangkapan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan atau produk olahan sehingga memiliki nilai tambah tanpa mendorong budidaya maupun penyebaran ke perairan lain.

Lebih jauh, Onrizal menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menangani persoalan tersebut. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan kelompok nelayan perlu membangun program pengendalian terpadu berbasis data.

"Kita memerlukan pemetaan yang jelas mengenai sebaran populasi, dampaknya terhadap ikan lokal, serta efektivitas langkah-langkah pengendalian yang dilakukan. Dengan begitu, upaya yang dilakukan tidak bersifat sporadis, tetapi terukur dan berkelanjutan," ujarnya.

Bagi Onrizal, menjaga Danau Toba tidak hanya berarti melestarikan keindahan alamnya, tetapi juga memastikan keseimbangan ekologi yang menjadi penopang kehidupan masyarakat di sekitarnya. Invasi red devil mungkin tidak dapat dihapuskan sepenuhnya, tetapi dengan strategi yang tepat, dampaknya dapat dikendalikan demi masa depan Danau Toba yang lebih lestari. (RJ)

Foto/Ilustrasi: Wikipedia

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin