A11Y

HOME

MENU

CARI

Bersama Akhiri Kelaparan, Wujudkan Keadilan Pangan untuk Semua

Ketahanan Pangan untuk Masa Depan yang Sejahtera

Banner
Jejak Modul Bergambar untuk Lawan Stunting di Pulau Nias

Penelitian dari UISU dan USU mengembangkan modul edukasi dwibahasa bergambar yang efektif meningkatkan kesadaran stunting di kalangan ibu-ibu pedesaan Nias. Modul ini menggunakan pendekatan berbasis budaya lokal, visual, dan bahasa ibu untuk menyampaikan pesan kesehatan dengan empati.

Di tengah bentang perbukitan dan ladang hijau yang menghampar di Pulau Nias, Sumatera Utara, ada sebuah persoalan besar yang diam-diam menggerogoti masa depan anak-anak. Tubuh-tubuh kecil yang pendek tak sesuai usianya, mata yang lesu meski hari baru dimulai, dan prestasi sekolah yang tertingga. Semuanya hanyalah permukaan dari satu kata: stunting. Bagi sebagian masyarakat Nias, anak bertubuh pendek dianggap sebagai warisan dari orang tua, bukan sebagai sinyal darurat kesehatan yang perlu segera ditangani. Namun pemahaman seperti itu kini mulai bergeser, bukan karena kedatangan alat canggih dari kota besar, tetapi berkat sebuah benda sederhana: modul bergambar dalam bahasa Nias. Modul ini bukan buku biasa. Ia adalah jembatan antara pengetahuan medis dan kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan. Ia lahir dari observasi tajam, diskusi hangat bersama ibu-ibu desa, dan hasrat kuat untuk menjangkau yang selama ini terabaikan. Cashtri Meher dan Fotarisman Zaluchu dalam jurnal berjudul “Methods for Stunting Education in Impoverished Rural Areas Using Illustrated Modules in Local Languages”, membagikan kisah di balik layar penelitian yang kini dipublikasikan di jurnal MethodsX. “Kami tidak bisa datang dengan bahasa formal dan ekspektasi bahwa semua orang akan mengerti. Di sini, edukasi harus dimulai dari yang paling dasar: bahasa ibu, visual, dan empati,” ujar Cashtri Meher Langkah pertama mereka bukanlah menyusun teori, tapi datang dan mendengar langsung. Melalui enam Focus Group Discussion (FGD) di tiga wilayah Nias bagian Utara, Selatan, dan Gunungsitoli, tim mendengarkan cerita, mitos, dan kebingungan para ibu tentang stunting. Banyak dari mereka percaya stunting adalah bawaan genetik, tak ada kaitan dengan pola makan atau sanitasi. “Itu bukan salah mereka,” ujar Fotarisman Zaluchu, penulis kedua yang juga seorang antropolog. “Informasi yang sampai ke mereka selama ini tidak pernah memakai bahasa mereka, tidak pernah memakai cara mereka memahami dunia.” Dari hasil FGD dan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat serta tenaga kesehatan, terungkap satu kebutuhan mendesak: media edukasi yang berakar dari konteks lokal. Maka lahirlah ide untuk membuat modul ilustrasi dwibahasa, dengan narasi dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan cermat ke dalam bahasa Nias, dilengkapi gambar-gambar yang menggambarkan suasana dan karakter lokal: ibu yang sedang menumbuk padi, ayah yang mencangkul di ladang, balita yang digendong dengan kain tradisional. Proses penerjemahan bukan sekadar alih bahasa, tapi alih makna budaya. Setiap kalimat dibahas secara saksama bersama penerjemah dan warga lokal, memastikan bahwa setiap pesan tentang gizi, air bersih, dan pola asuh tidak hanya terdengar akrab, tapi juga bisa diterima dengan hati. Sementara itu, sang ilustrator diberi pengarahan agar setiap gambar menampilkan pakaian adat, lingkungan rumah khas Nias, dan ekspresi wajah yang ramah dan komunikatif. “Kami ingin ibu-ibu melihat gambar itu dan berkata ini seperti saya,” ujar Cashtri sambil memperlihatkan halaman modul yang penuh warna. Modul ini terdiri dari 29 halaman narasi, yang mencakup definisi stunting, tanda-tandanya seperti keterlambatan bicara atau malas bergerak, dampak jangka panjang seperti penyakit kronis dan putus sekolah, hingga anjuran praktis tentang pentingnya ASI eksklusif, makanan bergizi, keterlibatan ayah dalam merawat anak, dan pentingnya tidak membeda-bedakan anak perempuan dan laki-laki. Hal paling menyentuh adalah bagaimana narasi-narasi ini tidak sekadar memberi tahu, tapi mengajak berdialog. Salah satu halaman misalnya menunjukkan seorang ayah yang sedang membantu istrinya memasak, dengan pesan yang berbunyi: “Suami yang membantu pekerjaan rumah bisa membuat istri lebih sehat selama hamil.” Di halaman lain, ditampilkan anak-anak yang sedang menimbang berat badan di Posyandu, menggambarkan pentingnya pemantauan tumbuh kembang. Sebelum modul ini dicetak massal dan dibagikan di pertemuan komunitas dan gereja, tim melakukan pilot test dengan 30 ibu-ibu di tiga lokasi berbeda dari target program. Mereka diminta menilai modul berdasarkan delapan pertanyaan, mulai dari apakah bahasanya mudah dipahami, apakah gambarnya menarik, hingga apakah mereka akan mengikuti rekomendasi dalam modul. Hasilnya luar biasa: nilai rata-rata mencapai 9,06 dari 10. Skor tertinggi diberikan pada aspek “modul bermanfaat” dan “modul penting dibaca orang lain”. Reaksi spontan peserta pun positif. Mereka tidak hanya membaca, tapi juga berdiskusi, bertanya, bahkan mulai mengingatkan sesama ibu tentang pentingnya makanan bergizi dan pemeriksaan kehamilan. “Hal yang paling mengejutkan kami adalah bagaimana satu modul kecil ini bisa menyalakan percakapan di komunitas yang sebelumnya sunyi soal stunting. Bahasa mereka, cerita mereka, gambar yang seperti kehidupan mereka. Semuanya membuat modul ini hidup.” Jelas Cashtri Meher Namun keberhasilan ini tidak datang tanpa tantangan. Modul ini dirancang khusus untuk masyarakat berbahasa Nias, dan penerapannya sulit jika tidak melibatkan tim lokal yang memahami budaya dan bahasa daerah. Ini sekaligus menjadi kekuatan dan keterbatasannya. Tapi tim peneliti melihat ini sebagai prototipe. Sebuah model yang bisa diadaptasi untuk daerah lain dengan pendekatan yang serupa: berbasis budaya, visual, dan partisipasi warga lokal. “Kami ingin modul seperti ini menjadi arus utama dalam pendidikan kesehatan masyarakat. Bukan hanya soal isi, tapi soal cara menyampaikan. Masyarakat berhak mendapatkan informasi dengan cara yang menghormati identitas mereka.” Tutup Cashtri Meher Dalam dunia yang sering menyamakan pendidikan dengan ceramah atau poster formal, modul ini mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: bahwa pengetahuan harus dibungkus dengan empati, dihantar dalam bahasa ibu, dan disampaikan dengan gambar yang bisa membuat siapa pun tersenyum, lalu berpikir. Di pedalaman Nias, satu modul kecil telah menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai bukan dari layar komputer atau pidato pejabat, tapi dari lembar demi lembar buku yang dibaca seorang ibu sambil menggendong anaknya.

SDGs Center USU

Cari tahu informasi selengkapnya mengenai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) Universitas Sumatera Utara (USU) melalui website resmi SDGs Center USU.

Kunjungi Halaman SDGs Center USU

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin