A11Y

HOME

MENU

CARI

Senyawa Alami Lawan Hipertensi yang Menembus Jalur Molekuler Tubuh

Diterbitkan Pada10 Juli 2025
Diterbitkan OlehDavid Kevin Handel Hutabarat
Senyawa Alami Lawan Hipertensi yang Menembus Jalur Molekuler Tubuh
Copy Link
IconIconIcon

Senyawa Alami Lawan Hipertensi yang Menembus Jalur Molekuler Tubuh

 

Diterbitkan oleh

David Kevin Handel Hutabarat

Diterbitkan pada

Kamis, 10 Juli 2025

Logo
Download

Peneliti dari USU dan sejumlah kampus nasional meneliti senyawa fitokimia dalam mengatasi hipertensi dari berbagai jalur biologis. Studi ini membuka peluang terapi alami berbasis tumbuhan yang lebih aman dan presisi.

Di dunia yang semakin modern dan cepat, tekanan darah tinggi dapat dipelajari dan ditemukan solusi sebelum sakit tersebut datang. Ya, darah tinggi ini menyelinap dalam diam, mengintai pekerja kantor yang kurang bergerak. Bahkan ibu rumah tangga yang sibuk mengurus keluarga, bahkan mahasiswa yang dicekik stres dan kurang tidur. Hipertensi, penyakit yang kerap dianggap sepele ya. Padahal justru menjadi pembunuh diam-diam nomor satu penyebab kematian akibat penyakit jantung dan stroke.


Sementara apotek sibuk meracik obat-obatan sintetis dan rumah sakit tak pernah sepi dari pasien hipertensi, tim peneliti dari berbagai universitas ternama di Indonesia menawarkan sudut pandang baru yang tak kalah mencengangkan. Peneliti kolaborasi dari Universitas Sumatera Utara, BRIN, Unair, Unand, dan Unimed ini menelusuri dunia kecil senyawa tumbuhan yang diam-diam punya potensi besar: fitokimia. Dalam jurnal ilmiah bertajuk “Molecular Mechanism of Phytochemical Compounds in Mitigating Hypertension”, yang dipublikasikan di Phytomedicine Plus (2025), Putri Cahaya Situmorang (USU) sebagai penulis pertama dan tim menyodorkan temuan yang bukan hanya ilmiah, tetapi juga revolusioner.


“Hipertensi itu kompleks, ia bukan hanya tentang pembuluh darah yang menyempit, tapi juga soal gaya hidup, stres oksidatif, bahkan keseimbangan molekuler tubuh. Dan justru karena kompleks itu, kita membutuhkan pendekatan yang bisa bekerja di banyak sisi. Fitokimia menawarkan itu,” ungkap Putri Cahaya.


Fitokimia bukan benda asing dalam dunia herbal, melainkan zat aktif yang diproduksi tumbuhan seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, polifenol, dan sebagainya. Kita mungkin mengenalnya sebagai antioksidan dalam teh hijau, sebagai pedasnya cabai rawit, atau sebagai warna merah buah delima. Namun di balik rasa, warna, dan aroma itu, tersembunyi kemampuan untuk masuk ke jantung masalah: meredakan tekanan darah dari dalam sel.


Tim peneliti mengurai satu per satu bagaimana senyawa alami ini bekerja di tubuh manusia. Pertama, mereka menyusuri jalur yang disebut Vascular Smooth Muscle Cells (VSMCs), otot polos yang melapisi pembuluh darah dan bisa menyempitkan saluran aliran darah. Di sinilah beberapa senyawa seperti capsaicin dan curcumin menunjukkan kekuatannya, mampu menekan pertumbuhan sel yang berlebihan yang seringkali menjadi pemicu penyempitan pembuluh darah.


Namun kerja fitokimia tak berhenti di situ, melainkan masuk ke arena yang lebih rumit. Tak lain ialah stres oksidatif, atau ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan dalam tubuh. Dalam kondisi ini, tubuh memproduksi lebih banyak molekul perusak (Reactive Oxygen Species atau ROS) daripada molekul pelindung. Akibatnya, pembuluh darah bisa rusak, fungsinya menurun, dan tekanan darah pun melonjak. Tapi di sinilah quercetin, yakni senyawa dari bawang merah dan resveratrol dari anggur merah hadir sebagai pahlawan. Mereka meningkatkan produksi (NO), molekul ajaib yang bisa melebarkan pembuluh darah dan menurunkan tekanan secara alami.


“Banyak yang tidak tahu kalau fitokimia bisa menarget begitu banyak jalur dalam tubuh, bekerja di sistem renin-angiotensin, di NF-κB yang mengatur peradangan. Bahkan di prostasiklin yang mengendalikan penggumpalan darah,” terang Putri.


Sistem renin-angiotensin yang disebutnya adalah pusat pengatur tekanan darah di tubuh. Ketika volume darah rendah, tubuh melepaskan renin untuk menaikkan tekanan darah. Tapi terlalu banyak renin atau angiotensin II bisa membuat tekanan darah melonjak kronis. Beberapa senyawa alami seperti rutin, anthocyanin, dan apigenin terbukti mampu menghambat jalur ini. Dengan cara yang lebih lembut dibandingkan obat kimia, tanpa efek samping seperti pusing atau kerusakan ginjal.


Hal lain yang tak kalah menarik dari jurnal ini adalah pembahasan tentang nanoteknologi. Masalah klasik dari pengobatan herbal adalah bioavailabilita, berapa banyak zat aktif yang benar-benar diserap tubuh. Banyak senyawa alami yang bagus di laboratorium, tapi tak efektif di tubuh karena cepat larut, hancur, atau tak terserap. Di sinilah teknologi nano menjadi harapan baru. Melalui langkah membungkus senyawa seperti curcumin atau epigallocatechin dalam partikel mikroskopik, peneliti bisa mengontrol pelepasan zat aktif dan memastikan penyerapannya lebih maksimal.


Namun, sebaik apa pun hasil laboratorium, dunia medis tak bisa bergerak tanpa bukti klinis. Putri dan timnya menyadari ini. “Kami masih butuh banyak uji klinis manusia. Tapi kami sudah melihat bagaimana senyawa ini bekerja di tingkat sel, tikus percobaan, dan jaringan. Latarbelakang ini menjadi fondasi yang kuat untuk terapi berbasis tumbuhan yang lebih presisi dan aman.” katanya terbuka.


Tak semua hipertensi disebabkan oleh hal yang sama. Ada yang karena faktor genetik, ada yang karena ginjal, ada yang karena resistensi insulin. Pendekatan multi-target dari fitokimia menjadi sangat relevan. Misalnya, pada hipertensi yang disebabkan oleh inflamasi, senyawa seperti kaempferol dan luteolin bisa menghambat jalur NF-κB, yang selama ini dikenal sebagai “master switch” peradangan. Sementara pada hipertensi pulmonal, senyawa seperti ursolic acid dan epigallocatechin membantu mengatur ulang prostasiklin dan mencegah kerusakan endotel.


Kisah fitokimia ini tidak hanya tentang obat. Lebih dalam dari itu, merupakan cerita tentang kembali ke akar, tentang bagaimana alam menyimpan jawaban yang telah lama kita abaikan. Tumbuhan-tumbuhan yang biasa tumbuh di halaman rumah, dari daun salam hingga kunyit, menyimpan kode-kode molekuler yang bisa menyembuhkan tanpa menyakiti.


Di masa depan, kita tidak hanya akan mengandalkan satu jenis pil untuk semua orang. Kita akan memilih fitokimia sesuai jenis hipertensinya, sesuai profil genetik pasiennya. Obatnya bisa datang dari tumbuhan, tapi formulanya berbasis sains tingkat tinggi. Itulah yang yang tim peneliti ini impikan. Dan jika impian itu terwujud, bisa jadi masa depan pengobatan hipertensi bukanlah ruang rawat rumah sakit, melainkan halaman kebun yang ditanam dengan penuh kesadaran dan pemahaman ilmiah.

SDGsSDGs 3

Detail Paper

JurnalPhytomedicine Plus
JudulMolecular mechanism of phytochemical compounds in mitigating hypertension
PenulisPutri Cahaya Situmorang (1), Syahputra Wibowo (2), Masitta Tanjung (1), Raden Jokokuncoroningrat Susilo (3), Ananda (4), Rizal Mukra (5), Alexander Patera Nugraha (6), Wida Akasah (7)
Afiliasi Penulis
  1. Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Medan, Universitas Sumatera Utara, Indonesia
  2. Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cibinong, Bogor, 16911, Indonesia
  3. Program Studi Rekayasa Nanoteknologi, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia
  4. Departemen Teknologi Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Andalas, Padang, Indonesia
  5. Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan, Medan, Indonesia
  6. Departemen Ortodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia
  7. Departemen Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin