Menggali Potensi Limbah: Revolusi Pengolahan Limbah Tinja di Malaysia

Diterbitkan PadaRabu, 29 Mei 2024
Diterbitkan OlehFarida Hanum
Thumbnail
WhatsappTwitterFacebook

"Di tengah hiruk-pikuk perkotaan Malaysia, tersembunyi sebuah tantangan yang sering terlupakan namun sangat penting untuk keberlanjutan lingkungan: pengolahan limbah tinja. Kondisi ini semakin mendesak dengan ancaman kelayakan lingkungan yang menghantui Malaysia. Seperti diketahui, negara ini tengah berjuang dengan pengelolaan air limbah. Dampak dari perlakuan yang tidak memadai tersebut sangat besar, memaksa pergeseran menuju solusi yang lebih komprehensif."

Fenomena ini menjadi perhatian bagi kelompok peneliti yang terdiri dari Farida Hanum dari Universitas Sumatera Utara, Indonesia; Lee Chang Yuan, Hirotsugu Kamahara, Yoichi Atsuta, Takeshi Yamada, dan Hiroyuki Daimon dari Toyohashi University of Technology, Jepang; dan Hamidi Abdul Aziz dari Universiti Sains Malaysia. Mereka melakukan penelitian untuk mengungkap penanggulangan dan pemanfaatan limbah serta hambatannya di Malaysia.

Farida menjelaskan bahwa Malaysia tengah menghadapi tantangan serius dalam mengelola pemanfaatan lingkungan, terutama di daerah perkotaan. Pemukiman padat penduduk serta bangunan beton menjadi hambatan dalam pengelolaan. Selain itu, hambatan konvensional berupa masalah teknis, politik, dan ekonomi, serta karakteristik limbah tinja di Malaysia juga menimbulkan kekhawatiran tambahan terkait kelayakan.

“Department of Environment (DOE) Malaysia mengkategorikan lumpur dari pabrik pengolahan air limbah sebagai limbah terjadwal, mewajibkan pembuangan dengan pedoman yang ketat. Tanggung jawab untuk pengelolaan air limbah di sebagian besar negara bagian jatuh kepada Indah Water Konsortium (IWK) Sdn Bhd, yang mengawasi jaringan infrastruktur yang luas. Namun, tantangan tetap ada,” sebut Farida.

Metode pembuangan tradisional, seperti pembuangan ke tempat pembuangan sampah dan insinerasi, menimbulkan risiko lingkungan dan menghasilkan abu serta endapan. Fakta ini mendorong upaya yang lebih efektif dan efisien. Farida menyebutkan penguraian secara anaerobik menjadi opsi yang menjanjikan untuk mengatasi masalah tersebut. “Proses ini menawarkan penanggulangan limbah secara komprehensif untuk biotransformasi materi organik,” katanya.

Saat bayangan perubahan iklim semakin besar dan cadangan bahan bakar fosil menipis, Pemerintah Malaysia mendukung energi terbarukan. Keadaan ini memposisikan penguraian anaerobik sebagai program prioritas dalam agenda hijau. Penguraian anaerobik muncul sebagai titik terang, menawarkan proses multi-tahap. Proses ini memanfaatkan pencernaan simultan substrat yang beragam untuk meningkatkan produksi metana. Dengan menggabungkan limbah tinja dengan limbah organik seperti limbah makanan, penguraian anaerobik tidak hanya meningkatkan produksi biogas tetapi juga mengatasi hambatan logistik dan ekonomi.

Namun, Farida menjelaskan bahwa potensinya belum maksimal dan membutuhkan penelitian serta pengembangan untuk mengoptimalkan efisiensinya. Kompleksitas teknis dan pertimbangan modal pembangunan yang cukup tinggi turut menghambat. Selain itu, dibutuhkan pula tenaga profesional yang terampil untuk mengoperasikan dan memelihara pabrik penguraian anaerobik. Namun, di tengah tantangan ini tetap terdapat kesempatan untuk transformasi.

Perjalanan menuju pengolahan limbah tinja yang berkelanjutan di Malaysia menghadapi tantangan namun penuh dengan peluang. Penguraian anaerobik, yang dikombinasikan dengan praktik penguraian inovatif, menjadi kunci untuk membuka potensi limbah negara ini. “Malaysia perlu lebih tegas menetapkan jalannya menuju keberlanjutan lingkungan melalui kolaborasi, penelitian, dan pengembangan. Hal ini akan menjadi dasar keberhasilannya. Dengan upaya bersama, negara ini dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih hijau dan lebih bersih, satu pencernaan pada satu waktu,” pungkas Farida.

Artikel
Artikel Penelitian

Detail Paper

JurnalWaste Biorefineries: Future Energy, Green Products and Waste Treatment
JudulTreatment of Sewage Sludge Using Anaerobic Digestion in Malaysia: Current State and Challenges
PenulisFarida Hanum, Lee Chang Yuan, Hirotsugu Kamahara, Hamidi Abdul Aziz, Yoichi Atsuta, Takeshi Yamada, Hiroyuki Daimon
Afiliasi Penulis
  1. Department of Environmental and Life Sciences, Toyohashi University of Technology, Toyohashi, Japan
  2. Department of Chemical Engineering, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
  3. Institute for Global Network Innovation in Technology Education, Toyohashi University of Technology, Toyohashi, Japan
  4. School of Civil Engineering, Universiti Sains Malaysia, Nibong Tebal, Malaysia
Accessibility Icon
disability features
accesibility icon
accesibility icon
accesibility icon
accesibility icon
Scroll Down