A11Y

HOME

MENU

CARI

Inovasi Ramah Lingkungan di Tengah Kilang Sawit

Diterbitkan Pada10 Juli 2025
Diterbitkan OlehDavid Kevin Handel Hutabarat
Inovasi Ramah Lingkungan di Tengah Kilang Sawit
Copy Link
IconIconIcon

Inovasi Ramah Lingkungan di Tengah Kilang Sawit

 

Diterbitkan oleh

David Kevin Handel Hutabarat

Diterbitkan pada

Kamis, 10 Juli 2025

Logo
Download

Tim peneliti Indonesia mengembangkan sistem berbasis mikroba dan tumbuhan air untuk menyerap gas H₂S dari limbah POME dan memurnikan airnya. Inovasi ini menghasilkan energi bersih, air yang bisa digunakan kembali, dan pupuk organik secara efisien dan ramah lingkungan.

Ketika asap mengepul dari cerobong kilang kelapa sawit, dan limbah cairnya mengalir ke kolam penampungan, jarang ada yang bertanya ke mana semua zat itu pergi. Palm Oil Mill Effluent atau lebih dikenal sebagai POME, selama ini dianggap limbah biasa, bagian tak terhindarkan dari industri yang menopang ekonomi Indonesia. Tapi siapa sangka, dari limbah ini ternyata bisa lahir energi, dan lebih dari itu, bisa dilahirkan kembali menjadi air bersih, pupuk, bahkan udara yang lebih layak hirup.


Inilah kisah dari jantung laboratorium yang basah dan penuh aroma fermentasi, kisah dari riset yang ditulis oleh tim ilmuwan Indonesia dalam jurnal Case Studies in Chemical and Environmental Engineering tahun 2025. Tim yang terdiri dari Bambang Trisakti, Rivaldi Sidabutara, Irvana, Gloria Clarita Sinamo, Renata Ambarita, Vikram Alexander, Michael Michael, Juan Akmal Nasution, Yasmin Nabilah, Hiroyuki Daimon, Mohd Sobri Takriff membawa sebuah gagasan sederhana namun revolusioner: menghilangkan gas beracun hidrogen sulfida (H₂S) dari biogas dan mendaur ulang air limbah dengan pendekatan berbasis makhluk hidup. Bukan mesin canggih atau bahan kimia keras. Solusinya? Bakteri tanah dan tanaman air.


Peneliti utama, Bambang Trisakti, menyambut saya lewat percakapan virtual dari ruang kerjanya yang dikelilingi kolom kaca mini berisi mikroba aktif. “Kami percaya, solusi untuk limbah industri bukan harus mahal atau rumit. Seringkali jawabannya ada di sekitar kita: mikroorganisme dan tumbuhan air yang selama ini kita anggap sepele,” tuturnya dengan antusias.


Masalah yang mereka hadapi bukan main-main. Biogas hasil dari pengolahan limbah sawit memang kaya energi, tetapi kerap tercemar oleh H₂S, gas berbau busuk yang menyebabkan korosi pada peralatan dan berbahaya bagi manusia. Biasanya, industri menggunakan bahan kimia untuk mengatasi gas ini, namun biaya operasional tinggi dan menimbulkan limbah baru. Di sinilah tim ini membuat terobosan: menggunakan air sebagai media penyerap H₂S dalam kolom isian vertikal, lalu meregenerasi air itu menggunakan dua agen biologis alami—bakteri Thiobacillus sp. dan tanaman air Azolla microphylla.


Dengan sistem ini, biogas yang sebelumnya “kotor” menjadi bersih dan siap digunakan, sementara air limbah tak dibuang, tapi dimurnikan dan digunakan ulang. Semua ini dilakukan tanpa menghasilkan limbah tambahan. “Kami tidak ingin hanya menyelesaikan satu masalah dan menciptakan masalah baru. Sistem ini didesain agar siklusnya tertutup. Ya zero-waste,” ujar Bambang Trisakti menekankan.


Uji coba dilakukan dengan ketelitian tinggi. Air menyerap H₂S dari biogas dalam kolom berisi packing Raschig ring, struktur kecil berbentuk silinder yang memperluas permukaan kontak antara gas dan air. Kemudian, air yang mengandung H₂S dialirkan ke kolam kultur Thiobacillus sp., mikroba yang secara alami mengoksidasi H₂S menjadi sulfat. Dalam waktu sembilan jam, konsentrasi H₂S turun drastis dari 3000 ppm menjadi 900 ppm, yang Tingkat efisiensi hingga 70%.


Namun keajaiban sesungguhnya muncul saat air itu dikombinasikan dengan kolam berisi Azolla microphylla, sejenis tumbuhan air kecil yang sering tumbuh liar di sawah. Azolla, dengan kemampuan fitoremediasinya, mampu menurunkan konsentrasi H₂S dari 10.000 ppm menjadi hanya 1700 ppm dalam waktu empat hari, efisiensi luar biasa hingga 83%. Tumbuhan ini bukan hanya membersihkan air, tetapi juga tumbuh subur dan siap dipanen sebagai biofertilizer bernutrisi tinggi.


“Azolla bukan cuma penyerap polutan, ia juga produsen oksigen, penstabil pH, dan sumber pupuk alami. Dalam satu kolam kecil, Anda mendapatkan fungsi dari tiga teknologi sekaligus.” Papar Bambang Trisakti


Pengujian lanjut menunjukkan bahwa sistem ini tidak hanya menurunkan H₂S, tetapi juga menurunkan nilai BOD (biochemical oxygen demand), COD (chemical oxygen demand), dan kadar zat padat terlarut, indikator penting dalam pengolahan air limbah. Bahkan, pH air yang tadinya bersifat asam karena H₂S, kembali mendekati netral. Hasilnya, air bisa digunakan kembali sebagai air teknis di pabrik, atau menjadi bahan baku pupuk cair organik.


Salah satu kekuatan riset ini adalah efisiensi biaya yang luar biasa. Biaya produksi sistem penyerap dan pemurni ini hanya sekitar 54,8 rupiah per liter, sementara nilai ekonominya mencapai 709 rupiah per liter, terutama dari penjualan biofertilizer Azolla dan sulfur hasil oksidasi. Ini adalah contoh konkret bagaimana keberlanjutan dan keuntungan bisa berjalan beriringan.


“Kami ingin membuktikan bahwa teknologi ramah lingkungan tidak harus mahal dan eksklusif. Dengan pendekatan berbasis hayati seperti ini, pabrik kelapa sawit kecil sekalipun bisa mengadopsinya,” ucap Bambang Trisakti


Dampak sistem ini juga tidak terbatas pada lingkungan mikro di pabrik. Dengan penerapan yang luas, sistem ini mampu menjawab tantangan besar sektor kelapa sawit: membuang limbah tanpa mencemari, menghasilkan energi bersih, dan memulihkan air untuk penggunaan ulang. Ia menyentuh tiga pilar keberlanjutan sekaligus, tak lain ialah ekonomi, sosial, dan ekologi.


Kisah ini adalah contoh nyata bagaimana riset ilmiah bisa menjawab persoalan konkret bangsa. Bukan sekadar menara gading, tapi jembatan menuju industri yang lebih bersih, hemat, dan adil. Sebuah kolom kecil yang menyerap gas beracun, sebaris bakteri di bawah mikroskop, dan tumbuhan air mungil yang melayang di permukaan kolam, semuanya berpadu dalam sistem yang mengubah limbah menjadi berkah.


Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kilang-kilang sawit di Indonesia tidak lagi memuntahkan bau menyengat atau air limbah ke sungai, kita bisa melihat ke belakang dan berkata bahwa semuanya berawal dari laboratorium kecil, dari secercah keberanian menantang arus limbah, dan dari keyakinan bahwa setetes air terakhir pun tak boleh terbuang sia-sia.

SDGsSDGs 9

Detail Paper

JurnalCase Studies in Chemical and Environmental Engineering
JudulEnhanced H2S absorption and water recovery using Thiobacillus sp. and Azolla microphylla for zero-waste palm oil mill applications
PenulisBambang Trisakti (1,2), Rivaldi Sidabutar (1,2), Irvan (1,2), Gloria Clarita Sinamo (1), Renata Ambarita (1), Vikram Alexander (1), Michael Michael (1), Juan Akmal Nasution (1), Yasmin Nabilah (3), Hiroyuki Daimon (4), Mohd Sobri Takriff (5)
Afiliasi Penulis
  1. Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Indonesia
  2. Pusat Energi Berkelanjutan dari Limbah ke Industri, Universitas Sumatera Utara, Medan, 20155, Indonesia
  3. Department of Chemical Engineering for Energy and Environment, KTH Royal Institute of Technology, SE–100 44, Stockholm, Sweden
  4. Department of Applied Chemistry and Life Science, Toyohashi University of Technology, Toyohashi, 441-8580, Japan
  5. Department of Mechanical and Nuclear Engineering, College of Engineering, University of Sharjah, United Arab Emirates

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin