Dalam Senyap Mereka Menjaga Dunia: Menyelami Dunia Para Interpreter PBB





Dalam Senyap Mereka Menjaga Dunia: Menyelami Dunia Para Interpreter PBB
Diterbitkan oleh
David Kevin Handel Hutabarat
Diterbitkan pada
Kamis, 10 Juli 2025


Penelitian dari USU mengupas tantangan teknis, emosional, dan kognitif yang dihadapi interpreter simultan PBB. Studi ini menyoroti strategi mereka dalam menjaga makna lintas bahasa di tengah tekanan diplomasi global.
Di balik perundingan damai, pemungutan suara Dewan Keamanan, dan pidato-pidato diplomatik yang mengubah arah dunia. Ada hal yang terkadang luput, suara lain yang bekerja tanpa sorotan. Suara yang menerjemahkan kemauan suatu bangsa kepada bangsa lain, dalam hitungan detik, tanpa boleh salah, tanpa boleh ragu. Mereka adalah para interpreter simultan di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pekerja bahasa yang tak hanya menjembatani makna, tetapi juga menjadi penentu lancar atau gagalnya diplomasi global.
Sebuah penelitian menarik dari Universitas Sumatera Utara yang ditulis oleh Susi Masniari Nasution bersama rekan-rekannya mengupas lebih dalam kehidupan para interpreter ini. Lewat artikel bertajuk “Insights into the Challenges and Strategies of United Nations Conference Interpreters: A Qualitative Study” yang diterbitkan di World Journal of English Language. Tim yang beranggotakan Syahron Lubis, Deliana Deliana1 & Umar Mono memaparkan realitas yang jauh dari glamor. Tekanan psikologis, tuntutan teknis, dan ketegangan intelektual yang menyatu dalam ruang kecil bernama booth.
“Interpreter PBB bukan sekadar penerjemah. Mereka adalah penjaga makna, pembawa pesan, dan kadang penentu apakah sebuah kalimat akan menenangkan atau justru menyalakan api konflik,” ujar Susi.
Penelitian ini tidak lahir dari ruang-ruang teori yang hampa. Para peneliti membedah video dokumenter YouTube Interpretation at Work dari UN Geneva, lalu melakukan transkripsi dan analisis terhadap percakapan enam interpreter profesional yang mewakili enam bahasa resmi PBB: Inggris, Spanyol, Arab, Prancis, Rusia, dan Mandarin. Dari sana, terkuak berbagai tantangan luar biasa yang mereka hadapi, baik yang terlihat maupun yang tidak.
Tantangan pertama datang dari dunia teknis: kecepatan bicara pembicara yang kadang melampaui kemampuan mendengar manusia, istilah teknis dari ranah hukum, politik, atau sains yang harus dipahami dan langsung dialihbahasakan, serta kualitas mikrofon dan headset yang jika bermasalah bisa membuat satu kalimat diplomatik berubah menjadi bencana komunikasi. Belum lagi ketika mereka harus menerjemahkan secara dua arah, misalnya dari bahasa ibu ke bahasa asing dan sebaliknya. Tanpa waktu jeda, setiap detik adalah pertaruhan.
Namun, seperti yang diungkapkan Susi, tantangan terbesar justru berada di dalam kepala dan dada. “Banyak yang tidak tahu bahwa interpreter PBB bekerja di bawah tekanan psikologis yang sangat besar. Mereka tahu bahwa satu kata yang salah bisa berdampak pada persepsi politik sebuah negara. Itu beban yang tidak ringan,” jelasnya.
Ketika seorang diplomat berbicara dengan gaya retoris, berlapis-lapis makna, interpreter harus segera mengurai pesan tersebut, meringkasnya, dan mengatakannya ulang dalam bahasa lain tanpa kehilangan intensi atau nada. Tidak ada waktu untuk berpikir dua kali. Tidak ada ruang untuk gugup. Tapi gugup itu nyata.
Dalam dokumenter yang dianalisis oleh tim, seorang interpreter bernama Paul Pottingen berkata dengan jujur, “I needed a good feeling. Everything must be continuous along a soft mood. I was very tired of concentrating fully.” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi menyimpan keletihan kognitif luar biasa. Fokus penuh selama satu jam dalam booth kedap suara, dengan mata menatap layar, telinga mendengar, dan mulut berbicara dalam waktu yang sama. Dan yap itu bukan pekerjaan biasa.
Lalu datang tantangan emosional. Maria Carolina López Uribe, interpreter bahasa Spanyol, mengaku dalam dokumenter tersebut, “We feared that we would be personally attacked, even though the UN is neutral.” Ia berbicara tentang rasa takut jika salah menerjemahkan topik sensitif yang menyangkut bangsa tertentu. Netralitas PBB tak selalu menjamin rasa aman bagi interpreter yang duduk hanya beberapa meter dari kepala negara atau perwakilan diplomatik.
Tapi justru dari tekanan itu, lahir energi luar biasa. “Kami menemukan bahwa banyak interpreter justru mengubah ketegangan menjadi dorongan,” kata Susi. Salah satu contoh datang dari Soumiya Lahlao, interpreter Arab. Ia berkata, “This adrenaline is the energy that drives us forward.” Tegang, tapi terarah. Gugup, tapi produktif. Mereka menyalurkan emosi itu untuk mempercepat proses berpikir, memperkuat intuisi, dan menjaga konsentrasi tetap stabil.
Strategi-strategi yang digunakan pun tak kalah menarik. Interpreter belajar mengantisipasi pola bicara pembicara, menebak kalimat berikutnya sebelum diucapkan. Mereka juga sering memparafrase atau menyederhanakan struktur kalimat agar lebih cepat disampaikan. Kadang, mereka bahkan membagi kalimat panjang menjadi segmen-segmen kecil agar tidak kehilangan makna. Semuanya dilakukan dalam hitungan detik. Di tengah ruang sunyi, tanpa naskah, tanpa jeda.
Penelitian ini menyingkap bahwa interpreting simultan adalah bentuk kerja otak tingkat tinggi. Ia membutuhkan kemampuan memori jangka pendek yang kuat, koordinasi pikiran dan bahasa yang sempurna, serta ketajaman intuisi yang terus diasah. Bukan sekadar soal bisa dua bahasa, tapi soal bagaimana dua bahasa bisa hidup dalam pikiran di saat bersamaan—tanpa bertabrakan.
“Kalau orang berpikir interpreter cuma duduk di ruang nyaman dan menerjemahkan seperti Google Translate, mereka keliru besar. Interpreter adalah atlet mental. Mereka dilatih untuk kuat secara emosi, cepat secara kognisi, dan peka secara budaya,” kata Susi sambil tersenyum
Rekomendasi akhir dari penelitian ini bukan sekadar memperbaiki teknologi atau memperluas kosakata interpreter, tetapi memperkuat ketahanan emosional, kecerdasan lintas budaya, dan refleksi personal dalam pelatihan penerjemahan profesional. Pendidikan bahasa tidak cukup jika tidak mengajarkan bagaimana bertahan dalam tekanan, bagaimana mengolah rasa takut, dan bagaimana memahami dunia dari banyak lensa budaya.
Dalam konteks globalisasi, ketika diplomasi antarnegara menjadi semakin rapuh dan mudah dipelintir oleh miskomunikasi, peran interpreter menjadi semakin krusial. Mereka bukan hanya penerjemah pesan, tapi penjaga makna. Dalam senyap mereka bekerja, dalam presisi mereka menjaga perdamaian. Dan kini, lewat riset seperti ini, dunia bisa mulai memahami betapa menegangkannya pekerjaan yang terlihat sunyi itu.
Barangkali kita tak pernah mengenal nama-nama mereka, tak pernah melihat wajah mereka di layar saat pidato besar berlangsung. Tapi tanpa mereka, tak akan ada saling mengerti. Tanpa mereka, tak akan ada kesepahaman. Dan tanpa kesepahaman, apa yang tersisa dari pertemuan dunia selain kebisingan?
Detail Paper
- Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, Indonesia