Desa Rumah Galuh Laboratorium Sosial USU

Diterbitkan PadaSenin, 06 Desember 2021
Diterbitkan OlehDavid Kevin Handel Hutabarat
Thumbnail
WhatsappTwitterFacebook

"Keindahan Air Terjun Pelaruga menjadi magnet ekonomi untuk masyarakat sekitar, khususnya Desa Rumah Galuh. Untuk merawat dan memastikan keberlangsungan ekosistem hijau di kawasan itu, para dosen peneliti dari Universitas Sumatera Utara (USU) berinisiatif melakukan pendampingan dan menjadikannya sebagai Laboratorium Sosial."

Air terjun nan eksotik menjadi pesona tersendiri di desa yang terletak di Kabupaten Langkat ini. Dalam tahun-tahun belakangan, air terjun yang dikenal dengan nama Pelaruga itu dikunjungi para wisatawan lokal. Pemandangan yang masih asri dan terjal air terjun serta aliran sungai yang jernih menambah daya tarik para wisatawan untuk mengeksplorasi keindahan Pelaruga yang tersembunyi.

Keindahan air terjun Pelaruga menjadi magnet ekonomi untuk masyarakat sekitar, khususnya Desa Rumah Galuh. Untuk merawat dan memastikan keberlangsungan ekosistem hijau di kawasan itu, para dosen peneliti dari Universitas Sumatera Utara (USU) berinisiatif melakukan pendampingan dan menjadikannya sebagai Laboratorium Sosial.

Melalui Program Desa Binaan USU, Desa Rumah Galuh disulap menjadi laboratorium pendidikan pariwisata. Dengan itu, masyarakat diedukasi tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam dan sosial, menciptakan iklim yang kondusif, aman, dan ramah agar para wisatawan terus meningkat sehingga masyarakat sekitar sadar bahwa keberlangsungan ekonominya tertopang pada habitat alam yang harus mereka jaga dan rawat.

Sementara untuk USU, Desa Rumah Galuh adalah sarana belajar jangka panjang. Mahasiswa yang mengambil konsentrasi D-3 Perjalanan Wisata, misalnya, mampu melihat secara nyata persoalan yang menghinggapi para penduduk desa wisata. Dari laboratorium sosial itu, mahasiswa USU belajar langsung tentang dinamika pengembangan wisata alam di Sumatera Utara, bagaimana menjaga dan mengembangkannya.

Ketua Tim Program Desa Binaan Langkat 2021, Samerdanta Sinulingga, S.ST.Par., M.Par mengatakan, Desa Rumah Galuh sudah dirintis oleh dosen dan mahasiswa D-3 Perjalanan Wisata sejak tahun 2014, atau kurang lebih 8 tahun, sebagai mitra eksklusif Program Studi D-3 Perjalanan Wisata dalam penyelenggaraan praktik mahasiswa dan kegiatan KKN.

Selama 8 tahun ini, proses kegiatan belajar tidak pernah putus antara institusi D-3 Perjalanan Wisata USU dengan mitra Desa Rumah Galuh. Dengan adanya Program Desa Binaan USU, kegiatan lebih ditingkatkan, dan pada tahun ini, kami fokus pada peningkatan sarana dan prasarana untuk menunjang Desa Rumah Galuh yang memiliki Air Terjun Pelaruga, menjadi ikon pariwisata baru di Sumatera Utara, ujar Samerdanta dalam keterangannya kepada HUMAS USU.

Samerdanta menjelaskan, fungsi dari laboratorium sosial di Desa Rumah Galuh adalah memperkuat industri jasa, seperti pelayanan masyarakat dan penyelenggaraan organisasi. Hal itu selaras dengan motto USU, yaitu “Toward Excellence as University for Industry”.

Kita ketahui, untuk mencapai World Class University, ada beberapa syarat yang harus USU capai, yakni kualitas pembelajaran dalam perkuliahan, keunggulan penelitian (excellence in research), dan keragaman ranah keilmuan.

Ketiga hal ini tidak akan tercapai oleh keilmuan dalam bidang humaniora apabila tidak ada laboratorium sosial yang ditunjuk sebagai Desa Binaan USU yang diharapkan tidak hanya untuk project per tahunnya, namun harus dipikirkan tentang kesinambungan desa binaan yang menjadi konsentrasi pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.

Tim Desa Binaan USU yang terdiri dari Amalia Meutia, M.Psi., Andi Pratama Lubis, S.S., M.Hum., Dhani Syahputra Bukit, S.K.M., M.Kes., Solahuddin Nasution, S.E., M.S.P., Dr. Alemina Br. Perangin-angin, S.S., M.Hum., Dr. Miswar Budi Mulya, M.Si., Ronald Leonardo Siregar, S.T., M.T., Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si., Prof. Dra. Pujiati, M.Soc.Sc, Ph.D, Dra. Peninna Simanjutak, M.S., Riko Andika Rahmat Pohan, S.S., M.Hum., Niza Ayuningtias, S.S., MTCSOL, Wahyu Sugeng Imam Soeparno, S.E., M.Si., dan Rahmadsyah Rangkuti, M.A., Ph.D itu telah melaksanakan beberapa program.

Program-program tersebut adalah pembuatan sarana dan prasarana untuk keselamatan wisatawan Desa Rumah Galuh, pembinaan peduli lingkungan dan pembuatan sarana dan prasarana kebersihan lingkungan, memberdayakan masyarakat dan memberikan sarana peningkatan fasilitas pendukung, pembinaan pelayanan prima untuk pengelola wisata mengedepankan 5S (senyum, salam, sapa, sopan dan santun), serta pembinaan dan pengembangan UKM dalam peningkatan ekonomi masyarakat dengan membuat Mini Café.

Samerdanta menegaskan, Desa Rumah Galuh memiliki potensi wisata yang lengkap, yaitu alam, budaya, dan buatan manusia, dan masih dalam proses pengembangan. Namun, di lain sisi, di desa ini masih banyak terdapat konflik-konflik lingkungan, sosial, dan budaya yang memang sering terjadi pada saat pengembangan industri wisata.

Permasalahan yang terjadi di desa, masyarakatnya belum siap akan terjadinya industrialisasi pariwisata. Masalah-masalah itu berupa perebutan dan sengketa lahan yang menjadi jalur wisata, kepedulian yang rendah terhadap lingkungan, tidak adanya grand design, pergesekan budaya antara budaya kota dengan budaya induk, pelayanan yang tidak berdasarkan pada keunikan budaya, namun hanya sebatas transaksi ekonomi, tegasnya.

Keuntungan ekonomi yang besar dalam bidang wisata membuat sistim pemerintaan desa menjadi makelar dan mafia administrasi hukum di desa, kemampuan penguasaan bahasa yang lemah dari pihak tuan rumah dalam melayani wisatawan internasional, indeks pernikahan dini masih cukup tinggi, serta keuntungan yang dihasilkan dari aktivitas wisata sering tidak dimanajemen dengan baik oleh pelaku wisata dan perangkat desa.

Masalah tersebut masih merupakan sebagian kecil dari permasalahan yang terjadi di Desa Rumah Galuh. USU memiliki berbagai bidang profesi dalam pemberian solusi di tengah masyarakat tersebut, yakni dari sisi hukum, lingkungan, teknik, budaya, psikologi, politik, bahasa, kesehatan, dan ekonomi. Di sinilah letak mengapa Desa Rumah Galuh menjadi desa pilihan sebagai desa binaan USU bukan hanya setahun atau dua tahun ke depan, namun untuk 20 hingga 25 tahun ke depan, Desa Rumah Galuh akan terus menjadi Laboratorium Sosial untuk USU, ujar Samerdanta, Dosen D-3 Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU ini.

Artikel
Kegiatan Universitas
Kegiatan Pengabdian

Detail Paper

Fitur Aksesibilitas

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

A11Y

HOME

MENU

CARI

Scroll Down