Tim Pakar USU Kaji Kesiapan SELCARE Menuju Hilirisasi Teknologi Kesehatan Lansia

Tim Pakar USU Kaji Kesiapan SELCARE Menuju Hilirisasi Teknologi Kesehatan Lansia
Diterbitkan oleh
Bambang Riyanto, S.S., M. Si
Diterbitkan pada
Kamis, 01 Oktober 2026

SELCARE menggabungkan AI Adaptive Cognitive Assessment, pemantauan kondisi pengguna secara longitudinal, serta Decision Support System. Integrasi tersebut memungkinkan platform memberikan rekomendasi latihan kognitif yang lebih sesuai dengan kondisi pengguna sekaligus membantu tenaga kesehatan dalam proses pengambilan keputusan.
HUMAS USU – Universitas Sumatera Utara (USU) melalui tim pakar multidisiplin terlibat dalam Program Pra-Studi Kelayakan Tahun Anggaran 2027 melalui skema Hilirisasi Riset-Dorongan Teknologi Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI). Program tersebut diarahkan untuk mengkaji kesiapan teknologi SELCARE, sebuah platform digital berbasis web yang dikembangkan untuk mendukung deteksi dini, pemantauan, dan pelatihan fungsi kognitif pada lansia.
Ketua tim, Prof. Dr. Reni Asmara Ariga, S.Kp., MARS., menjelaskan bahwa kajian yang dilakukan tidak berhenti pada pengembangan teknologi. Tim juga melihat sejauh mana SELCARE dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih luas sebelum memasuki tahap hilirisasi.
“Posisi kami bukan sekadar mengembangkan teknologinya, tetapi menilai apakah SELCARE sudah memiliki kesiapan yang memadai untuk masuk ke tahap hilirisasi,” jelas Prof. Reni.
SELCARE menggabungkan AI Adaptive Cognitive Assessment, pemantauan kondisi pengguna secara longitudinal, serta Decision Support System. Integrasi tersebut memungkinkan platform memberikan rekomendasi latihan kognitif yang lebih sesuai dengan kondisi pengguna sekaligus membantu tenaga kesehatan dalam proses pengambilan keputusan.
Melibatkan Lima Pakar dengan Keahlian Berbeda
Untuk mendapatkan gambaran kelayakan yang lebih menyeluruh, kajian SELCARE dilakukan oleh lima pakar dengan latar belakang keilmuan yang berbeda. Prof. Reni Asmara Ariga bertindak sebagai Ketua Tim Pakar yang mengoordinasikan keseluruhan proses sekaligus mengintegrasikan hasil kajian dari berbagai aspek.
Tim tersebut juga melibatkan Dr. Erna Budhiarti Nababan, M.IT. sebagai pakar teknologi informasi dan kecerdasan buatan/ teknis; Prof. Dr. Arlina Nurbaity Lubis, S.E., MBA. sebagai pakar manajemen pemasaran/ pasar dan model bisnis; Prof. Dr. Khaira Amalia Fachrudin, S.E., Ak., MBA. sebagai pakar keuangan dan risiko; serta Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, S.H., MLI. sebagai pakar regulasi dan legal.
Masing-masing pakar melakukan kajian sesuai bidang keahliannya. Hasilnya kemudian dibahas dan disatukan untuk memperoleh gambaran mengenai kesiapan SELCARE secara keseluruhan. Tim juga akan melibatkan Focus Group Discussion (FGD) dan business matching untuk mempertemukan teknologi tersebut dengan calon mitra yang berpotensi mendukung proses hilirisasi.
“Kolaborasinya bersifat multidisiplin. Setiap pakar melakukan kajian sesuai kompetensinya, kemudian hasilnya kami integrasikan dalam satu kerangka penilaian kelayakan,” ungkap Prof. Reni.
Mengukur Kesiapan Teknologi dan Jalur Hilirisasi
Dalam kajian tersebut, tim akan melihat sejumlah aspek yang menjadi dasar untuk menentukan arah pengembangan SELCARE. Penilaian mencakup kesiapan teknologi, aspek teknis, pasar dan model bisnis, keuangan serta kelayakan ekonomi, risiko, legal dan regulasi, hingga rencana hilirisasi.
Pada sisi teknis, tim akan melihat kesiapan teknologi beserta bukti validasinya. Sementara dari sisi pasar dan bisnis, kajian diarahkan untuk mengetahui kebutuhan pengguna, kondisi pasar, kompetitor, model bisnis, serta kemungkinan strategi komersialisasi.
Aspek keuangan juga menjadi bagian penting untuk melihat kebutuhan investasi, biaya, potensi pendapatan, dan kelayakan ekonomi. Di sisi lain, kajian risiko dan legal dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai potensi risiko, termasuk perlindungan kekayaan intelektual, perizinan, dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Menurut Prof. Reni, inovasi tidak cukup hanya dinilai dari sisi teknologinya. Potensi pemanfaatan juga perlu dibuktikan melalui kajian yang terukur agar teknologi yang dikembangkan benar-benar memiliki arah implementasi yang jelas.
“Kami harus membuktikan kesiapan teknis, kebutuhan pasar, model bisnis, aspek regulasi, kelayakan finansial, serta risiko implementasinya. Jadi, inovasi harus dibuktikan dengan evidence, bukan hanya klaim,” tegasnya.
Membuka Peluang Pemanfaatan di Layanan Kesehatan Lansia
SELCARE memiliki potensi untuk dikembangkan pada berbagai lingkungan layanan kesehatan yang berkaitan dengan lansia. Platform tersebut dapat diarahkan untuk mendukung layanan di puskesmas, posyandu lansia, klinik, rumah sakit, panti wreda, maupun layanan kesehatan berbasis komunitas.
Salah satu keunggulan yang dikaji dari SELCARE terletak pada penggabungan asesmen kognitif adaptif berbasis AI, pemantauan kondisi pengguna dalam jangka waktu tertentu, dan sistem pendukung keputusan dalam satu platform. Pendekatan adaptif memungkinkan tingkat kesulitan asesmen menyesuaikan dengan performa pengguna.
Meski demikian, tim pakar tetap menempatkan bukti dan kesiapan implementasi sebagai dasar utama dalam menentukan arah pengembangan teknologi tersebut.
Menyiapkan Rekomendasi untuk Tahap Selanjutnya
Setelah seluruh rangkaian kajian selesai, tim menargetkan tersusunnya Pra-Studi Kelayakan yang dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah SELCARE berikutnya. Hasil kajian nantinya akan memberikan gambaran mengenai posisi teknologi saat ini, aspek yang masih perlu diperkuat, serta jalur hilirisasi yang dapat ditempuh.
Selain itu, tim akan mengidentifikasi calon pengguna dan mitra potensial yang dapat mendukung pengembangan SELCARE. FGD dan business matching menjadi bagian dari upaya tersebut agar kebutuhan teknologi dapat dipertemukan dengan pihak yang memiliki kapasitas untuk mengimplementasikannya.
“Output akhirnya bukan sekadar menyatakan teknologi ini layak atau tidak layak, tetapi memberikan rekomendasi yang operasional: apa yang harus diperbaiki, siapa calon pengguna atau mitranya, model implementasinya, kebutuhan pengembangan berikutnya, serta strategi untuk mengurangi risiko sebelum masuk ke tahap hilirisasi,” tutur Prof. Reni.