Tim Ora Iso USU Raih Juara 2 LKTI PIMPI IPB 2026 melalui Inovasi Pertanian Berbasis AI dan IoT

Tim Ora Iso USU Raih Juara 2 LKTI PIMPI IPB 2026 melalui Inovasi Pertanian Berbasis AI dan IoT
Diterbitkan oleh
Bambang Riyanto, S.S., M. Si
Diterbitkan pada
Selasa, 08 September 2026

Dengan inovasi SIP-PETANI 5.0, sebuah sistem pertanian yang mengintegrasikan teknologi untuk membantu petani menghadapi perubahan iklim, sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan. Inovasi tersebut lahir dari persoalan yang masih dihadapi para petani kecil, terutama keterbatasan dalam mengadopsi teknologi digital yang dapat membantu kegiatan pertanian.
Bogor, HUMAS USU – Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) kembali menorehkan prestasi pada ajang Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) IPB 2026. Tim Ora Iso yang beranggotakan mahasiswa lintas fakultas, berhasil meraih Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) melalui gagasan inovasi pertanian berbasis teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).
Tim Ora Iso beranggotakan M. Ghozi Muzakki dari Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian (FP), Aisyah Tsani dari Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), serta Ronny dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) selaku ketua tim. Dalam proses pengembangan karya, tim tersebut mendapat bimbingan dari Dr. Erna Mutiara, M.Kes.
Dengan inovasi SIP-PETANI 5.0, sebuah sistem pertanian yang mengintegrasikan teknologi untuk membantu petani menghadapi perubahan iklim, sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan. Inovasi tersebut lahir dari persoalan yang masih dihadapi para petani kecil, terutama keterbatasan dalam mengadopsi teknologi digital yang dapat membantu kegiatan pertanian.
Hadirkan Teknologi yang Dekat dengan Petani
Menurut M. Ghozi Muzakki, salah satu persoalan yang menjadi perhatian tim adalah masih terbatasnya pemanfaatan teknologi digital oleh petani kecil. Kondisi tersebut semakin kompleks dengan perubahan iklim yang menyebabkan cuaca tidak menentu, kekeringan, hingga ancaman hama yang dapat memengaruhi produktivitas pertanian.
Melalui SIP-PETANI 5.0, tim berupaya menghadirkan sistem pertanian yang mengintegrasikan teknologi dari hulu hingga hilir. Sistem tersebut terdiri atas AgroSense sebagai sensor IoT di lahan, AgriTrack untuk pencatatan kegiatan dan hasil panen, serta TaniTalk AI Chatbot yang terhubung melalui WhatsApp.
AgroSense dirancang untuk memantau kondisi tanah dan cuaca secara real-time, sehingga pengairan dan pemupukan dapat dilakukan berdasarkan kondisi lahan. Sementara itu, TaniTalk membantu petani memperoleh informasi dan peringatan dini terkait kondisi cuaca maupun permasalahan tanaman. Petani juga dapat mengirimkan foto daun untuk memperoleh arahan mengenai kondisi tanaman. Data kegiatan dan hasil panen selanjutnya dapat dicatat melalui AgriTrack.
Ghozi menjelaskan, integrasi teknologi tersebut dirancang untuk mengubah pola bertani dari yang sebelumnya bersifat reaktif menjadi lebih preventif. Dengan adanya pemantauan kondisi lahan dan peringatan dini, petani dapat mengambil tindakan sebelum risiko seperti kekeringan, serangan hama, maupun gagal panen semakin besar.
“Inovasi ini mengubah kebiasaan bertani dari yang sifatnya reaktif menjadi preventif. Di tengah ancaman El Nino atau kemarau ekstrem, sistem ini memberikan peringatan dini. Irigasi presisinya bisa menghemat air sampai 30 persen, mencegah akar busuk, dan menekan persentase gagal panen. Jadi secara langsung, ini adalah langkah nyata menuju Climate-Smart Agriculture yang ramah lingkungan,” ungkap Ghozi.
Senada dengan hal tersebut, Aisyah Tsani menjelaskan bahwa SIP-PETANI 5.0 dirancang untuk membantu petani beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui pemanfaatan teknologi yang terintegrasi. Selain efisiensi penggunaan air dan pemantauan kondisi lahan, sistem tersebut juga memungkinkan petani memperoleh informasi secara lebih cepat ketika menghadapi ancaman cuaca ekstrem maupun hama.

Kolaborasi Lintas Disiplin
Berbeda latar belakang keilmuan tidak menjadi hambatan bagi Tim Ora Iso dalam mengembangkan gagasannya. Justru, perbedaan bidang tersebut membuat setiap anggota dapat memberikan sudut pandang yang berbeda dalam membangun SIP-PETANI 5.0.
Ghozi menangani aspek agronomis, efisiensi penggunaan air, hingga kualitas komoditas dari hulu ke hilir. Aisyah berfokus pada aspek kimia tanah, metodologi teknis, sensor IoT, serta analisis pemupukan dan irigasi. Ronny mengembangkan aspek sosial-ekonomi petani, pemberdayaan masyarakat, kebijakan, serta keberlanjutan berbasis SDGs.
Proses tersebut tentu tidak selalu berjalan mudah. Perbedaan sudut pandang dari masing-masing bidang sempat membuat tim membutuhkan diskusi yang cukup panjang untuk menemukan titik temu. Namun, perbedaan tersebut justru membantu mereka melihat persoalan pertanian secara lebih menyeluruh.
Tidak Berhenti sebagai Gagasan
Tim Ora Iso berharap SIP-PETANI 5.0 tidak berhenti sebagai karya ilmiah dalam kompetisi, tetapi dapat dikembangkan hingga benar-benar diterapkan di tengah masyarakat. Salah satu rencana pengembangannya adalah menggunakan model kepemilikan komunal melalui kelompok tani atau Koperasi Unit Desa (KUD), sehingga penggunaan teknologi tidak menjadi beban bagi satu petani.
Tim juga masih melihat sejumlah aspek yang perlu dikembangkan, seperti memperluas basis bahasa daerah pada sistem AI, memperkuat sensor agar mampu bertahan dalam kondisi cuaca ekstrem, mengembangkan fitur prediksi harga pasar, hingga mencari komponen lokal agar biaya teknologi semakin terjangkau bagi petani kecil.
Ghozi berharap inovasi tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya petani. Menurutnya, keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi dari sejauh mana gagasan tersebut mampu diterapkan dan memberikan dampak nyata.
“Ide yang bagus bukanlah sekadar inovasi yang paling canggih, melainkan gagasan yang bisa ‘hidup’ dan berdampak luas untuk kesejahteraan petani kita,” ungkap Ghozi.
Keberhasilan Tim Ora Iso menjadi Juara 2 LKTI PIMPI IPB 2026 sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dapat melahirkan gagasan yang responsif terhadap persoalan nyata. Capaian tersebut diharapkan menjadi dorongan bagi mahasiswa USU untuk terus mengembangkan inovasi yang tidak hanya kompetitif dalam ajang ilmiah, tetapi juga memiliki manfaat bagi masyarakat.