A11Y

HOME

MENU

CARI

Sastra Melayu Menggelar Tunjuk Ajar Melayu: Jaga Adat Melayu

Diterbitkan Pada15 Juni 2026
Diterbitkan OlehBambang Riyanto, S.S., M. Si
Sastra Melayu Menggelar Tunjuk Ajar Melayu: Jaga Adat Melayu
Copy Link
IconIconIcon

Sastra Melayu Menggelar Tunjuk Ajar Melayu: Jaga Adat Melayu

 

Diterbitkan oleh

Bambang Riyanto, S.S., M. Si

Diterbitkan pada

Senin, 15 Juni 2026

Logo
Download

Universitas Sumatera Utara Fakultas Ilmu Budaya (FIB USU) menggelar pagelaran budaya Melayu sebagai bagian dari praktik mata kuliah Tunjuk Ajar Melayu, pada hari Senin (15/06/2026), di Pagelaran FIB.


Kegiatan ini menghadirkan dosen, praktisi budaya, serta alumni untuk memperkenalkan langsung nilai-nilai adat Melayu kepada mahasiswa melalui metode pembelajaran berbasis praktik.


Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya, Prof. Dr. Dra. Rozanna Mulyani, M.A., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga praktik budaya secara nyata. “Ini adalah praktik dari mata kuliah Tunjuk Ajar Melayu, agar mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi benar-benar memahami bagaimana adat itu dijalankan,” ujarnya.


Ia juga menegaskan bahwa dalam budaya Melayu, setiap proses memiliki aturan dan nilai yang tidak dilakukan secara sembarangan. “Pada masyarakat Melayu itu, segala sesuatu tidak dilakukan dengan sembarangan, semuanya dilakukan dengan adat istiadat,” tambahnya.


Sekretaris Program Studi Sastra Melayu, Arie Azhari Nasution, S.S., M.A., menjelaskan bahwa metode project based learning diterapkan agar mahasiswa lebih memahami konteks budaya secara langsung. “Selama ini mahasiswa hanya mendapatkan teori, jadi melalui praktik ini mereka bisa melihat langsung bagaimana proses adat Melayu itu berlangsung,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, pembicara Drs. Dt. Chairul Anwar menyoroti pentingnya menjaga keaslian adat Melayu di tengah perkembangan zaman. “Sekarang banyak yang menampilkan adat Melayu tidak sesuai aslinya, padahal adat itu punya aturan yang harus dijaga,” ungkapnya.


Ia juga menjelaskan bahwa dalam prosesi adat Melayu, terdapat tahapan-tahapan yang memiliki makna mendalam. “Dalam adat perkawinan Melayu ada tahapan seperti merisik, melamar, hingga prosesi lainnya yang tidak bisa dilakukan sembarangan,” jelasnya.


Alumni Sastra Melayu, Syahril, turut memberikan motivasi kepada mahasiswa agar bangga dengan bidang keilmuan yang mereka tekuni. “Jangan merasa minder sebagai mahasiswa Sastra Melayu, karena justru dari sini kita bisa berkontribusi besar dalam pelestarian budaya,” katanya.


Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat lebih memahami, menjaga, serta melestarikan budaya Melayu sebagai bagian dari identitas bangsa.

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin