Sarasehan Kebangsaan: Akademisi USU Soroti Kesehatan, Ketahanan Bangsa, dan Keberlanjutan Lingkungan

Sarasehan Kebangsaan: Akademisi USU Soroti Kesehatan, Ketahanan Bangsa, dan Keberlanjutan Lingkungan
Diterbitkan oleh
Renny Julia Harahap
Diterbitkan pada
Selasa, 30 Juni 2026

MEDAN-HUMAS USU: Universitas Sumatera Utara (USU) turut serta berkontribusi dalam memperkuat diskursus pembangunan nasional pada penyelenggaraan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026, yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026 di Hall B, Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Kegiatan yang dihadiri dan dibuka oleh Presiden Prabowo Subianto tersebut mengangkat tema “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia”. Forum kebangsaan ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan gagasan pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan dalam melihat tantangan serta peluang Indonesia dalam menghadapi dinamika global.
Para akademisi Universitas Sumatera Utara yang hadir dalam kesempatan itu, turut mengemukakan pendapat dan pemikirannya. Ir Ikhsan Siregar, ST, M. Eng, Ph.D, selaku Sekretaris Universitas Sumatera Utara, sekaligus dosen di Fakultas Teknik mengemukakan, bahwa Sarasehan Kebangsaan 2026 menunjukkan adanya perubahan paradigma pembangunan Indonesia. Pemerintah tidak lagi memandang perguruan tinggi hanya sebagai institusi pendidikan, melainkan sebagai mitra strategis dalam menghasilkan inovasi yang dapat dihilirisasikan menjadi produk, teknologi, maupun kebijakan yang berdampak langsung terhadap masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut terlihat dari berbagai paparan narasumber yang secara konsisten mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam riset terapan, pengembangan teknologi, hingga implementasi pada sektor industri, pertanian, energi, kelautan, dan kesehatan.
Dalam konteks pembangunan kesehatan nasional, Prof. Dr. dr. Elmeida Effendy, M.Ked., Sp.KJ, Subsp.B.P(K), Guru Besar Fakultas Kedokteran USU, memberikan pandangan bahwa arah pembangunan kesehatan Indonesia perlu terus bergerak dari paradigma pengobatan menuju pencegahan. Menurutnya, penguatan layanan kesehatan primer, peningkatan literasi kesehatan, perbaikan gizi masyarakat, serta deteksi dini penyakit menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang lebih sehat dan produktif.
Ia menilai kebijakan kesehatan yang berorientasi promotif dan preventif menjadi langkah strategis dalam menghadapi meningkatnya penyakit tidak menular. Upaya peningkatan kualitas gizi, terutama melalui perhatian terhadap kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak-anak dalam periode 1.000 hari pertama kehidupan, merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Selain itu, penguatan layanan kesehatan mental juga menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan individu dan bangsa.
Sementara itu, dari perspektif sosial dan pengembangan sumber daya manusia, Prof. Dr. Vivi Gusrini Rahmadani, MSc., MA., Psikolog, Guru Besar Fakultas Psikologi USU, menyoroti pentingnya menjaga persatuan dan membangun ketangguhan bangsa di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Ia menyampaikan bahwa tantangan dunia saat ini menuntut bangsa Indonesia memiliki kemampuan beradaptasi, menjaga kepercayaan, serta membangun produktivitas melalui kekuatan sumber daya manusia yang berintegritas.
Menurut Prof Vivi, ketangguhan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan sosial dan psikologis masyarakat. Dalam menghadapi berbagai tekanan global, bangsa Indonesia perlu memperkuat semangat gotong royong, komunikasi yang sehat, kepemimpinan yang berintegritas, serta perhatian terhadap kesehatan mental masyarakat agar mampu bertahan dan berkembang.
Pada aspek ketahanan pangan, kehutanan, lingkungan, dan perubahan iklim, Prof. Dr. Arida Susilowati, S.Hut., M.Si, Dekan Fakultas Kehutanan USU, menegaskan bahwa pembangunan masa depan harus menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi utama. Perubahan iklim saat ini tidak lagi hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi telah menjadi tantangan multidimensi yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
Prof Arida menjelaskan bahwa keberadaan hutan memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan, mulai dari menyerap karbon, mengatur tata air, menjaga kesuburan tanah, hingga mendukung kehidupan masyarakat. Karena itu, pengelolaan hutan berkelanjutan, rehabilitasi lahan, konservasi keanekaragaman hayati, serta pengembangan teknologi berbasis sains menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Perspektif akademik tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Pembangunan manusia, penguatan ketahanan sosial, transformasi kesehatan, serta keberlanjutan lingkungan harus berjalan secara bersama sebagai satu kesatuan strategi nasional.
Melalui Sarasehan Kebangsaan 2026, USU meneguhkan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga ruang lahirnya gagasan strategis bagi masa depan bangsa. Kontribusi pemikiran para akademisi menjadi bagian penting dalam memperkuat agenda pembangunan nasional yang berorientasi pada kemandirian, daya saing, dan keberlanjutan menuju Indonesia Emas 2045.