A11Y

HOME

MENU

CARI

Sarasehan Kebangsaan 2026 sebagai Arah Baru Pembangunan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045

Diterbitkan Pada30 Juni 2026
Diterbitkan OlehRenny Julia Harahap
Sarasehan Kebangsaan 2026 sebagai Arah Baru Pembangunan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045
Copy Link
IconIconIcon

Sarasehan Kebangsaan 2026 sebagai Arah Baru Pembangunan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045

 

Diterbitkan oleh

Renny Julia Harahap

Diterbitkan pada

Selasa, 30 Juni 2026

Logo
Download

Sarasehan Kebangsaan 2026 menunjukkan adanya perubahan paradigma pembangunan Indonesia. Pemerintah tidak lagi memandang perguruan tinggi hanya sebagai institusi pendidikan, melainkan sebagai mitra strategis dalam menghasilkan inovasi yang dapat dihilirisasikan menjadi produk, teknologi, maupun kebijakan yang berdampak langsung terhadap masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini terlihat dari berbagai paparan narasumber yang secara konsisten mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam riset terapan, pengembangan teknologi, hingga implementasi pada sektor industri, pertanian, energi, kelautan, dan kesehatan.
Berbagai paparan narasumber memperlihatkan bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% menuju Indonesia Emas 2045 hanya dapat dicapai apabila seluruh sektor bergerak secara terpadu. Pada bidang ekonomi dan keuangan dijelaskan bahwa Indonesia menargetkan menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada tahun 2045 dengan didukung fundamental ekonomi yang relatif kuat, antara lain pertumbuhan ekonomi 5,61%, inflasi yang terkendali sebesar 3,08%, surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut, serta cadangan devisa mencapai USD 144,9 miliar. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk mendorong investasi, industrialisasi, dan penguatan daya saing nasional.
Pada sektor pertanian, pemerintah menegaskan keberhasilan swasembada beras pada akhir tahun 2025 dengan cadangan beras mencapai sekitar 5,17 juta ton, tertinggi dalam sejarah Indonesia. Transformasi pertanian modern melalui mekanisasi, drone, dan sistem Precision Modern Agriculture (PM-AAS) diklaim mampu menekan biaya produksi hingga 50% sekaligus meningkatkan produktivitas hingga 100%, bahkan berpotensi menghasilkan lebih dari 10 ton gabah per hektare. Di sisi lain, revitalisasi industri pupuk dilakukan melalui penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20%, penambahan 700 ribu ton pupuk bersubsidi, serta pembangunan 7 pabrik pupuk baru, yang menunjukkan bahwa modernisasi pertanian diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.
Pada sektor energi, tantangan utama masih terletak pada tingginya ketergantungan terhadap impor energi. Produksi minyak nasional saat ini sekitar 605 ribu barel per hari, sementara konsumsi telah mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, pemerintah melakukan reaktivasi sumur migas yang tidak produktif, menawarkan 118 blok migas baru, mengembangkan bioetanol menuju E20, mempertahankan program biodiesel, serta menargetkan bauran energi baru terbarukan sebesar 76% dalam RUPTL PLN 2025–2034. Kebijakan ini menunjukkan bahwa swasembada energi tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada diversifikasi sumber energi dan pengembangan teknologi nasional.
Pada bidang hilirisasi dan industri, pemerintah menempatkan investasi sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi. Realisasi investasi tahun 2025 mencapai sekitar Rp1.931 triliun dengan penyerapan sekitar 2,7 juta tenaga kerja, sementara investasi hilirisasi meningkat lebih dari 43%. Hilirisasi nikel berhasil meningkatkan nilai ekspor dari sekitar USD3,3 miliar menjadi USD33,9 miliar, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemilik sekitar 42% cadangan nikel dunia. Ke depan, pemerintah juga mendorong hilirisasi kelapa, rumput laut, serta komoditas strategis lainnya agar nilai tambah tidak lagi dinikmati oleh negara lain.
Di sisi lain, muncul pesan yang konsisten bahwa Indonesia harus mengurangi ketergantungan terhadap impor, baik pada sektor pangan, energi, teknologi, maupun bahan baku industri. Hal tersebut tidak dimaknai sebagai sikap anti-globalisasi, tetapi sebagai upaya membangun daya saing nasional sehingga Indonesia memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam dinamika geopolitik dunia. Pembentukan Danantara, pengembangan industri semikonduktor, kendaraan listrik nasional, kecerdasan buatan (AI), hingga penguatan industri farmasi merupakan contoh strategi yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian teknologi Indonesia.
Yang menarik, pembangunan ekonomi dalam forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) Tahun 2026 tidak hanya dipandang dari sisi investasi dan pertumbuhan PDB. Kebudayaan ditempatkan sebagai fondasi identitas nasional sekaligus instrumen diplomasi dan penggerak ekonomi kreatif. Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, yaitu sekitar 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, lebih dari 49 ribu objek diduga cagar budaya, dan 2.727 Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Kekayaan tersebut dipandang sebagai modal sosial sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi berbasis budaya dan pariwisata.
Hal serupa juga terlihat pada sektor kelautan dan perikanan melalui konsep Ekonomi Biru. Indonesia merupakan produsen perikanan terbesar kedua di dunia dengan nilai ekspor sekitar USD6,2 miliar. Pemerintah menetapkan lima kebijakan utama ekonomi biru, termasuk konservasi laut, penangkapan ikan terukur, pengembangan budidaya berkelanjutan, dan pengurangan sampah plastik di laut. Selain itu, hilirisasi rumput laut diarahkan untuk menghasilkan produk biomaterial, pangan fungsional, dan bioplastik sehingga tidak lagi hanya diekspor sebagai bahan mentah.
Paparan Prof. Jeffrey Sachs memberikan perspektif global bahwa perubahan geopolitik, perkembangan kecerdasan buatan (AI), transisi energi, dan perubahan iklim akan menjadi faktor penentu keberhasilan pembangunan pada masa depan. Menurutnya, dunia telah bergerak menuju tatanan multipolar dengan kebangkitan Tiongkok, India, dan Rusia, sementara perkembangan AI, kendaraan listrik, serta teknologi digital akan menentukan daya saing suatu negara. Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu pemimpin pembangunan berkelanjutan apabila mampu mengintegrasikan inovasi teknologi, investasi, pendidikan, dan kebijakan yang berorientasi pada Sustainable Development Goals (SDGs).
Namun demikian, beberapa target yang dipaparkan dalam sarasehan masih memerlukan pembuktian melalui implementasi yang konsisten, indikator keberhasilan yang terukur, serta evaluasi yang transparan. Tantangan terbesar bukan lagi menyusun visi, tetapi memastikan koordinasi antar kementerian, dunia usaha, pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta masyarakat berjalan efektif sehingga berbagai program strategis tidak berhenti pada level kebijakan, tetapi benar-benar menghasilkan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Secara keseluruhan, Sarasehan Kebangsaan 2026 memberikan pesan bahwa kemandirian Indonesia tidak dapat dibangun oleh satu sektor saja. Kunci keberhasilan menuju Indonesia Emas 2045 terletak pada kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi, memperkuat hilirisasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan pelestarian budaya nasional. Perguruan tinggi memiliki peran sentral sebagai penghasil ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan nasional sehingga hasil riset tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi menjadi solusi nyata bagi kemajuan bangsa.

*Penulis:
Ir. Ikhsan Siregar, ST., M. Eng., Ph.D
Sekretaris Universitas
Universitas Sumatera Utara

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin