Mahasiswa Vokasi USU Raih Dua Prestasi pada INSTINCT 10 di Universitas Riau Tahun 2026

Mahasiswa Vokasi USU Raih Dua Prestasi pada INSTINCT 10 di Universitas Riau Tahun 2026
Diterbitkan oleh
Bambang Riyanto, S.S., M. Si
Diterbitkan pada
Rabu, 07 Oktober 2026

HUMAS USU – Program Studi D4 Statistika, Fakultas Vokasi, Universitas Sumatera Utara (USU), berhasil meraih dua prestasi dalam ajang Incredible Research and National Competition (INSTINCT) 10 Universitas Riau 2026. Kompetisi yang berlangsung pada 1–3 Oktober 2026 di Universitas Riau tersebut mengantarkan mahasiswa USU meraih Juara 2 Business Plan Competition dan Juara 3 Essay Competition.
Pada kategori Business Plan Competition dengan nama SISAKU, yang terdiri atas Arya Dwi Ardhana Wibowo sebagai ketua, bersama Sadina Umeko dan Cahaya Nahura, berhasil menempati posisi kedua dari 27 tim peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi.
Sementara itu, pada kategori Essay Competition dengan CALMIO, tim yang diketuai Salwa Tafabila Barus, dengan anggota Arya Dwi Ardhana Wibowo dan Hafiza Sabrina Sirait berhasil meraih Juara 3. Kompetisi tersebut diikuti 67 tim dari berbagai universitas.
SISAKU Tawarkan Pemanfaatan Sisa Produksi melalui Ekonomi Sirkular
Pada kategori Business Plan Competition, tim Arya mengangkat SISAKU, sebuah platform digital berbasis circular economy yang dirancang untuk mengubah surplus dan sisa produksi UMKM menjadi sumber daya yang masih memiliki nilai guna.
SISAKU menggunakan konsep resource exchange dengan mempertemukan pemilik sisa produksi, seperti kain, kayu, kardus, kemasan, plastik, dan pangan, dengan pihak yang membutuhkan bahan baku alternatif. Platform tersebut menyasar UMKM, pengrajin, komunitas, hingga pelaku industri kreatif.
Gagasan tersebut berangkat dari masih banyaknya sisa produksi yang sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali, tetapi belum memiliki sistem yang mempertemukan pihak yang memiliki material dengan pihak yang membutuhkannya.
Arya menjelaskan, SISAKU dikembangkan untuk melihat sisa produksi bukan sekadar sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang dapat kembali masuk ke dalam proses produksi.
“SISAKU kami gagas untuk mempertemukan pihak yang memiliki sisa produksi dengan pihak yang masih membutuhkan material tersebut. Jadi, barang yang sebelumnya dianggap sebagai sisa bisa memiliki nilai dan dimanfaatkan kembali,” ujar Arya.

CALMIO Angkat Teknologi AI untuk Mendukung Kemandirian Penyandang Autis
Pada Essay Competition, Salwa dan tim mengangkat CALMIO, perangkat portabel berbasis Artificial Intelligence yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian penyandang autis di era ekonomi digital.
Mengambil subtema teknologi, CALMIO menawarkan pemanfaatan perkembangan Artificial Intelligence untuk menghadirkan perangkat yang dapat menjadi salah satu pendukung aktivitas penyandang autis.
Gagasan tersebut tidak hanya menempatkan teknologi sebagai bentuk inovasi, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana perkembangan teknologi dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Perangkat portabel yang ditawarkan melalui CALMIO diarahkan untuk memberikan dukungan yang lebih praktis dalam aktivitas sehari-hari.
Salwa mengatakan, gagasan CALMIO menjadi salah satu bentuk upaya tim dalam melihat perkembangan teknologi dari sisi manfaat dan kebutuhan pengguna.
“Kami ingin mengangkat teknologi bukan hanya sebagai sesuatu yang berkembang secara digital, tetapi juga sebagai solusi yang dapat memberikan manfaat dan membantu meningkatkan kemandirian penyandang autis dalam menjalani aktivitas sehari-hari,” ungkap Salwa.
Ia menambahkan, proses penyusunan esai membuat tim tidak hanya berfokus pada ide, tetapi juga perlu memahami persoalan yang ingin diangkat serta bagaimana teknologi yang ditawarkan dapat menjawab persoalan tersebut.

Kompetisi Jadi Ruang Menguji dan Mengembangkan Ide
Bagi kedua tim, INSTINCT 10 Universitas Riau 2026 tidak hanya menjadi ajang untuk memperoleh penghargaan, tetapi juga kesempatan menguji gagasan di hadapan peserta dari berbagai perguruan tinggi.
Arya menilai proses mengikuti kompetisi memberikan pengalaman dalam mengembangkan sebuah ide bisnis secara lebih terstruktur, mulai dari melihat persoalan, menyusun solusi, hingga mempertimbangkan bagaimana gagasan tersebut dapat diterapkan.
Hal serupa dirasakan Salwa. Menurutnya, proses mengikuti Essay Competition memberikan kesempatan bagi tim untuk memperdalam gagasan sekaligus belajar menyampaikan ide agar dapat dipahami dengan baik oleh orang lain.