Mahasiswa KKNT USU Hadirkan Dashboard Mitigasi Banjir Berbasis Digital

Mahasiswa KKNT USU Hadirkan Dashboard Mitigasi Banjir Berbasis Digital
Diterbitkan oleh
Bambang Riyanto, S.S., M. Si
Diterbitkan pada
Senin, 03 Agustus 2026

Tim KKNT terdiri dari 11 mahasiswa dari 2 program berbeda, yaitu Statistika dan Sastra Melayu. Pada awalnya, ide tersebut lahir setelah melakukan observasi lapangan serta berdiskusi langsung dengan pemerintah desa dan masyarakat. Setelah melalui pengkajian dan penelusuran, diketahui bahwa informasi mengenai data kependudukan, kelompok rentan, lokasi posko evakuasi, hingga fasilitas pendukung masih tersebar dalam berbagai dokumen sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk diakses saat kondisi darurat.
HUMAS USU - Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Sumatera Utara (USU) di Desa Lalang, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, berhasil membuat inovasi berupa dashboard mitigasi banjir berbasis digital. Inovasi tersebut dirancang untuk membantu pemerintah desa mengakses berbagai informasi penting secara cepat dan terintegrasi ketika terjadi bencana.
Tim KKNT terdiri dari 11 mahasiswa dari 2 program berbeda, yaitu Statistika dan Sastra Melayu. Pada awalnya, ide tersebut lahir setelah melakukan observasi lapangan serta berdiskusi langsung dengan pemerintah desa dan masyarakat. Setelah melalui pengkajian dan penelusuran, diketahui bahwa informasi mengenai data kependudukan, kelompok rentan, lokasi posko evakuasi, hingga fasilitas pendukung masih tersebar dalam berbagai dokumen sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk diakses saat kondisi darurat.
Ketua Tim, Billy Saputra Purba, Program Studi Statistika, stambuk '24 menjelaskan inovasi dashboard ini memungkinkan berbagai informasi penting ditampilkan dalam satu halaman sehingga perangkat desa tidak perlu membuka banyak dokumen untuk mengetahui kondisi desa.
"Jadi pendekatan digital kami gunakan untuk mempercepat akses informasi dan mendukung proses pengambilan keputusan saat terjadinya banjir," jelas Billy.

Dalam pengembangannya, tim memanfaatkan Microsoft Power BI sebagai media visualisasi data dan Google My Maps sebagai platform pemetaan lokasi. Menurut mereka, Power BI dipilih karena mampu menyajikan data dalam bentuk dashboard interaktif yang mudah dipahami, sedangkan Google My Maps memudahkan penyajian informasi spasial, seperti lokasi posko evakuasi, jalur evakuasi, dan fasilitas pendukung, tanpa memerlukan perangkat lunak sistem informasi geografis (GIS) yang kompleks.
Lebih lanjut, Billy menyampaikan apabila terjadi banjir, perangkat desa cukup membuka dashboard untuk memperoleh informasi mengenai jumlah penduduk, kelompok rentan, maupun fasilitas yang tersedia di wilayah terdampak.
"Perangkat desa dapat mengakses lokasi posko evakuasi, jalur evakuasi, serta fasilitas pendukung di sekitar lokasi sehingga proses penentuan prioritas evakuasi dan distribusi bantuan dapat dilakukan dengan lebih cepat," sampainya.

Upaya tersebut mendapat respons positif dari pemerintah desa maupun masyarakat. Tim mengungkapkan bahwa pemerintah desa menyambut baik inovasi tersebut karena seluruh informasi penting kini dapat diakses melalui satu tampilan yang sederhana. Agar pemanfaatannya berjalan optimal, tim juga memberikan pendampingan mengenai cara membaca dashboard dan mengakses peta evakuasi.
Terakhir, Billy berharap dashboard mitigasi banjir ini dapat dikembangkan menjadi sistem yang lebih komprehensif. Pengembangan tersebut meliputi integrasi data yang diperbarui secara berkala, penambahan informasi kapasitas posko, ketersediaan logistik, kondisi banjir secara real-time.
"Dashboard ini tidak berhenti sebagai luaran KKN, tetapi dapat menjadi dasar bagi pengembangan sistem informasi desa di masa mendatang," harapnya.