A11Y

HOME

MENU

CARI

Mahasiswa FK USU Raih Juara 3 Kompetisi Parasitologi Internasional di Universiti Malaya

Diterbitkan Pada21 Oktober 2026
Diterbitkan OlehRenny Julia Harahap
Mahasiswa FK USU Raih Juara 3 Kompetisi Parasitologi Internasional di Universiti Malaya
Copy Link
IconIconIcon

Mahasiswa FK USU Raih Juara 3 Kompetisi Parasitologi Internasional di Universiti Malaya

 

Diterbitkan oleh

Renny Julia Harahap

Diterbitkan pada

Rabu, 21 Oktober 2026

Logo
Download

Mahasiswa FK USU Raih Juara 3 Kompetisi Parasitologi Internasional di Universiti Malaya

HUMAS USU – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) meraih 2nd Runner Up (Juara 3) kategori Oral Quiz pada ajang 9th Intervarsity Parasitology Quiz and Oral Competition (IPQOC) 2026 yang diselenggarakan di Faculty of Medicine, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (17/10/2026).

Prestasi tersebut diraih oleh Enrico Franditho Sihombing (NIM 250131119), Vincentius Haholongan Tito Sihaloho (NIM 240100115), dan Yusuf Rahman Priatna (NIM 230100085).

Ketiganya mengikuti kompetisi dengan bimbingan advisor Prof. Dr. dr. Dewi Masyithah Darlan, DAP&E, MPH, Sp.ParK, bersama tim pengajar Departemen Parasitologi FK USU, yakni dr. Yunilda Andriyani, M.KT, Sp.ParK, dr. Adelina Haryani Sinambela, M.KT, dr. Sunna Vyatra Hutagalung, serta Dra. Merina Panggabean, M.Med.Sc.

Persiapan dan Strategi Menghadapi Kompetisi

Persiapan dilakukan selama kurang lebih dua bulan melalui bimbingan dosen, pendalaman materi parasitologi, serta latihan menggunakan metode flashcards untuk meningkatkan kecepatan, ketepatan, dan daya ingat. Tim juga mempelajari berbagai penelitian Departemen Parasitologi Universiti Malaya sebagai bagian dari strategi menghadapi soal-soal kompetisi.

Salah satu anggota tim, Vincentius, mengatakan IPQOC terdiri atas tiga level pengujian, mulai dari soal jawaban singkat, identifikasi gambar, hingga pertanyaan yang menuntut penjelasan dan penalaran ilmiah. Level ketiga menjadi tantangan tersendiri karena peserta harus memberikan jawaban yang tepat sekaligus menjelaskan dasar pemikirannya.

”Pada lomba ini terdapat 3 Level. Level 1 berupa soal dengan jawaban pendek, Level 2 berupa soal identifikasi gambar, dan Level 3 berupa soal yang perlu dijawab serta dijelaskan alasan dari jawaban tersebut. Soal level 3 diberi poin 1-5 berdasarkan ketepatan dan kelengkapan jawaban. Bagian yang paling menantang adalah soal level 3 ini yang membutuhkan pemahaman penuh dan dalam mengenai parasitologi,” tuturnya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, tim berupaya menjaga ketenangan dan berdiskusi sebelum menentukan jawaban. Mereka juga memaksimalkan perolehan poin pada dua level awal. Strategi ini mengantarkan tim FK USU meraih skor tertinggi pada babak penyisihan sebelum akhirnya memperoleh Juara 3 pada kategori Oral Quiz.

Di balik persiapan tersebut, para mahasiswa juga harus membagi waktu dengan kegiatan perkuliahan yang berlangsung pukul 07.00 hingga 16.00 WIB. Mereka bahkan menjalani bimbingan hingga empat kali dalam sepekan karena turut mempersiapkan diri sebagai delegasi FK USU untuk kompetisi SIMPIC 2027 yang dijadwalkan berlangsung pada Februari mendatang. Proses ini menjadi pengalaman untuk melatih kedisiplinan dan kemampuan mengatur waktu.

Memperluas Wawasan Parasitologi di Tingkat Internasional

Bersaing dengan mahasiswa dari berbagai universitas memberikan kesempatan bagi tim untuk melihat perbedaan pendekatan pembelajaran parasitologi di setiap negara. Peserta dari Malaysia, misalnya, menunjukkan penguasaan terhadap parasit seperti Plasmodium knowlesi dan Blastocystis, yang relevan dengan konteks epidemiologi dan penelitian di negara tersebut.

Pengalaman ini memperluas pemahaman tim bahwa ilmu parasitologi tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teori, tetapi juga membutuhkan ketelitian dalam mengidentifikasi parasit dan memahami pola penyebaran penyakit. Salah satu pengalaman yang membekas terjadi ketika seorang anggota tim digigit nyamuk di Malaysia. Vincentius kemudian mengamati ciri toraks nyamuk tersebut dan mengidentifikasinya sebagai Aedes albopictus berdasarkan garis putih tunggal pada bagian tengah skutum.

”Selama di sana, saya digigit nyamuk, dan secara refleks saya memperhatikan nyamuk itu lalu mengidentifikasinya sebagai Aedes albopictus dari ciri pada toraksnya, yaitu garis putih tunggal di bagian tengah skutum, berbeda dengan Aedes aegypti yang memiliki pola seperti kecapi (lyre). Saat itu saya sadar bahwa ilmu yang kami pelajari untuk kompetisi bukan sekadar hafalan, tetapi benar-benar bisa langsung diterapkan di dunia nyata,” ungkapnya.

Bagi tim, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu yang dipelajari dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penguasaan parasitologi juga penting bagi calon dokter, terutama di negara tropis seperti Indonesia, tempat berbagai penyakit akibat parasit, termasuk malaria, kecacingan, filariasis, toksoplasmosis, dan amebiasis, masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat.

Pemahaman terhadap parasitologi membantu calon dokter mengenali penyakit, mendukung ketepatan diagnosis, serta memahami upaya pencegahan melalui edukasi kesehatan, perbaikan sanitasi, dan pengendalian vektor. Kompetisi ini sekaligus mengasah ketelitian dan penalaran sistematis yang dibutuhkan dalam praktik kedokteran.

Menatap SIMPIC 2027

Setelah meraih prestasi di IPQOC 2026, tim FK USU kini mempersiapkan diri untuk mengikuti SIMPIC 2027. Pengalaman di Malaysia akan menjadi bekal untuk meningkatkan penguasaan materi, menyusun strategi kompetisi, dan memperkuat kerja sama tim.

Mereka juga mengajak mahasiswa FK USU lainnya untuk berani mengambil kesempatan mengikuti kompetisi ilmiah, termasuk di tingkat internasional. Menurut mereka, mahasiswa tidak perlu menunggu hingga merasa sepenuhnya siap untuk memulai. Persiapan dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari membentuk tim, mempelajari materi, hingga memperbaiki kekurangan melalui latihan.

”Banyak orang menunda ikut kompetisi karena merasa belum siap atau bingung dengan detailnya, mulai dari tim, materi, hingga biaya. Padahal detail-detail itu bisa diurus sambil berjalan saat menjalani persiapan. Yang paling penting adalah keputusan untuk mendaftar dan memulai,” ucapnya.

Bagi ketiganya, pengalaman mengikuti kompetisi bukan semata-mata tentang kemenangan, melainkan juga kesempatan untuk belajar, memperluas wawasan, dan mengembangkan kepercayaan diri. Capaian ini diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa FK USU untuk terus mengembangkan kemampuan akademik dan berani berkompetisi di tingkat internasional.

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin