Tim Dosen USU Optimisasi Usaha Kuliner Online Bakso Frozen

Diterbitkan PadaKamis, 03 Februari 2022
Diterbitkan OlehDavid Kevin Handel Hutabarat
Thumbnail
WhatsappTwitterFacebook

"Pandemi Covid-19, yang belum juga berakhir di Indonesia, telah menyebabkan banyaknya tenaga kerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dan berimbas pada penurunan pendapatan. Untuk mengatasi masalah tersebut, banyak dari mereka yang mulai melakukan usaha rumahan. Namun, usaha rumahan ini masih kalah dalam bersaing dengan usaha skala besar."

Untuk mencari solusi atas kondisi tersebut, tim dosen Universitas Sumatera Utara (USU) di bawah Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) melakukan program pengabdian masyarakat yang ditujukan kepada pelaku usaha kuliner bakso frozen di Medan. Tim terdiri dari Beby Kendida Hasibuan, S.E., M.Si., sebagai Ketua Tim Pengabdian dan beranggotakan Prof. Dr. Prihatin Lumbanraja, S.E., M.Si. dan Prof. Dr. Arlina Nurbaity Lubis, S.E., MBA. Kegiatan dilaksanakan di kediaman mitra yakni Dika Trisna Wulansari yang beralamat di Jl. Bunga Wijaya Kesuma Gang Bunga Wijaya XXVI No. 2 Medan. Dika sehari-hari merupakan pelaku usaha bakso frozen.

Beby Kendida mengatakan, kondisi pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan saja, melainkan berdampak kepada sektor perekonomian. Sekitar 88% perusahaan terdampak pandemi telah menderita kerugian pada sektor operasional perusahaan.

“Salah satu cara yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengurangi kerugian tersebut adalah dengan melakukan pengurangan karyawan. Kementerian Tenaga Kerja mencatat 17,8% perusahaan telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) selama pandemi. Selain itu, 25,6% perusahaan telah merumahkan pekerjanya dan 10% perusahaan melakukan keduanya. Kondisi ini selain merugikan perusahaan juga merugikan tenaga kerja. Mereka kehilangan pekerjaannya sehingga berimbas pada perekonomian keluarga. Akhirnya, mulai banyak tenaga kerja dengan usia produktif (20–55 tahun) yang melakukan kegiatan berwirausaha, dimulai dari menjual produk sampai dengan menawarkan jasa. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan perekonomiannya,” paparnya.

Kegiatan yang dilakukan pada Desember 2021 itu merupakan skim Dosen Wajib Mengabdi dengan mengambil judul “Optimisasi Usaha Kuliner Online Bakso Frozen dalam Menyikapi Pandemi Covid-19”.

“Mitra pengabdian saat ini cukup mumpuni dalam melakukan adaptasi, namun perlu bantuan ipteks dalam pengembangan usaha. Hal ini yang membuat mitra menjadi sangat menjanjikan untuk pengabdian kemitraan. Dalam kegiatannya, ada beberapa kendala yang dihadapi oleh pelaku wirausaha ini, yaitu optimisasi dalam produksi dan pemasaran. Dari sisi produksi, metode yang digunakan oleh mitra masih jauh dari optimal sehingga membuat daya saing produk relatif rendah di pasar,” ungkap Beby Kendida. 

Selain itu, ia juga menyebutkan, kendala dari aspek pemasaran di mana aktivitas pemasaran relatif belum optimal karena masih kurangnya kreativitas. Kegiatan pengabdian ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah produksi mitra serta memperbaiki kualitas dan aktivitas pemasaran mitra. Para pelaku usaha harus jeli melihat peluang pasar dan apa yang tengah disukai masyarakat. Usaha kuliner merupakan salah satu usaha yang sangat diminati, baik oleh para pelaku usaha maupun konsumen. Dengan bantuan media sosial, platform transportasi dan kurir online, usaha yang dijalankan dapat laris di pasar dan diminati konsumen.

Salah satu kuliner yang disukai masyarakat Indonesia adalah bakso, baik itu bakso beku yang harus diolah kembali ataupun bakso yang siap dikonsumsi langsung, yang tentunya bisa menjadi peluang tersendiri bagi pelaku usaha. Saat ini, program kegiatan pengabdian pada masyarakat dengan skim dosen wajib mengabdi memiliki mitra penjual bakso dengan kedua metode penjualan tersebut. Kedua metode penjualan bakso ini memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Jika berjualan dengan tidak memiliki lokasi sudah tentu lebih menghemat biaya, akan tetapi proses penjualan lebih terbatas karena hanya orang tertentu saja yang mengetahuinya, sedangkan dengan memiliki tempat berjualan secara permanen, konsumen lebih mudah mendapatkan bakso tersebut. Kelemahannya adalah biaya yang besar dan proses pemasaran produk yang terbatas.

Sampai saat ini, mitra hanya menjual produknya di sekitar lokasi tempat tinggal saja. Adakalanya mereka tidak mampu memenuhi permintaan konsumen karena jumlah produksi yang masih terbatas disebabkan karena peralatan produksi yang sangat sederhana dan peralatan produksi yang digunakan berupa peralatan rumah tangga sederhana dengan kapasitas yang terbatas. Kondisi ini yang menyebabkan mereka membatasi produksi hariannya karena jika mereka ingin memproduksi dalam skala besar, mereka harus memasak bahan secara berulang-ulang yang sudah tentu akan memakan banyak waktu.

Hasil kunjungan yang dilakukan ke lokasi mitra mengindikasikan bahwa proses produksi mitra masih kurang dari proses produksi yang higienis. Oleh karena itu, kualitas produk yang dihasilkan oleh mitra pengabdian relatif rendah dan kurang mampu bertahan lama. Produk dibentuk langsung oleh tangan sehingga diindikasikan kurang bersih.

Mitra juga hanya mampu memasarkan produk mereka di lokasi terbatas karena untuk memasuki pasar yang lebih luas, mereka belum mampu, sedangkan bagi mitra yang menjual bakso secara permanen, mereka belum memiliki metode bagaimana menjual produk beku untuk dipasarkan lebih jauh. Hal ini disebabkan oleh pengemasan produk yang tak menarik dan minimnya pengetahuan dan kemampuan dalam menjual produk. Dalam menjalankan usahanya, mitra dihadapkan pada masalah bagaimana memasarkan produknya agar dikenal orang banyak, di mana selama ini mitra hanya mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut dan rekomendasi teman.

“Hal tersebut yang melatarbelakangi kami melaksanakan pengabdian ini, dengan tujuan utama meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata Beby.

Pada kegiatan itu, tim memberikan pelatihan bagaimana melakukan proses produksi yang baik dan menganjurkan mitra untuk membuat diversifikasi produk, misalnya membuat varian baru dari bakso. Selain itu, tim juga menyarankan menjual bakso serta pelengkap, seperti kuah dan cabai yang terpisah, sehingga konsumen mudah untuk mengonsumsinya. Mitra juga dibimbing untuk menjaga stok produk secara berkesinambungan.

“Tim juga mendampingi dalam hal proses pemasaran yang tepat. Khususnya untuk UMKM, proses pemasaran yang tepat adalah digital marketing dengan memanfaatkan media sosial yang ada. Selain itu, juga dilatih dalam membuat perhitungan harga pokok penjualan dan menghitung break event point,” katanya.

Program pengabdian yang dilakukan berupaya mengembangkan produksi mitra secara optimal dan memperluas pemasaran produk dengan memperbaiki kemasan dan memasarkan produk di media sosial. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan potensi dan pendapatan mitra. Dengan peningkatan proses produksi, diharapkan mitra mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak di sekitar lokasi mitra.

Tujuan dari pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah untuk pemberdayaan masyarakat melalui pengoptimalan potensi yang dimiliki mitra, serta membangun semangat Pancasila. Pelatihan diharapkan mampu membuka wawasan mitra tentang bagaimana produksi yang baik, dengan mempertimbangkan berapa banyak produksi yang sebaiknya dilakukan dan seberapa banyak stok barang yang harus dimiliki mitra pada saat mendekati saat-saat hari besar keagamaan. Dengan adanya solusi di bidang produksi berupa pemberian peralatan, maka target luaran yang ingin dicapai adalah peningkatan jumlah produksi harian. 

Kegiatan pengabdian di bidang pemasaran difokuskan pada bagaimana memasarkan produk mitra dengan lebih luas. Pelatihan packaging yang baik diharapkan dapat memperbaiki kualitas packaging yang sudah ada sehingga meningkatkan keinginan masyarakat dalam membeli produk dan memasuki pasar baru yang lebih baik. Pelatihan media sosial diharapkan dapat membuka wawasan mitra untuk menggunakan media sosial dalam pemasaran produknya secara lebih luas. Mitra diarahkan untuk memiliki akun media sosial dalam memasarkan produknya.

Kegiatan yang telah dilakukan dalam upaya penyelesaian permasalahan mitra berdasarkan tahapan pelaksanaan, baik dari bidang produksi maupun bidang pemasaran, di antaranya, pelatihan proses produksi, di mana pada tahap ini mitra diberikan pengetahuan bagaimana proses produksi yang sebaiknya dilakukan, khususnya dari sisi kebersihan dan higienitas produksi pangan. Selain itu, ada juga edukasi dan sosialisasi pembuatan makanan olahan beku siap jual dan pemberian bantuan alat guna menunjang penambahan jumlah produksi bakso. Pelatihan kemampuan menjual diberikan untuk memberikan masukan terkait promosi produk dan pembuatan media sosial bagi mitra.

Metode pendekatan yang dilakukan adalah berdiskusi dengan mitra mengenai masalah apa saja yang menjadi kendala dalam produksi dan pemasaran produk, maka selanjutnya adalah memberikan peralatan apa saja yang dibutuhkan mitra dalam menunjang proses produksi dan pemasaran agar menjadi lebih baik. Pemberian peralatan yang dibutuhkan mitra diharapkan dapat meningkatkan proses produksi dan juga membuat waktu produksi menjadi lebih singkat.

Kegiatan yang dimulai dari tanggal 25 Oktober 2021 ini akan dievaluasi dua bulan setelah dilaksanakannya kegiatan pengabdian, yang mencakup seluruh aspek edukasi dan pemanfaatan bantuan. Pengabdian masyarakat ini diharapkan mampu meningkatkan produksi bakso frozen secara optimal, sehingga mampu meningkatkan pendapatan pelaku usaha. Di samping itu, tim juga mengajarkan mengenai pembuatan laporan keuangan, perhitungan harga pokok penjualan, dan menghitung break event point. Tim pengabdian menganjurkan untuk menggunakan media sosial seperti Facebook dalam memasarkan produknya, juga media sosial lainnya seperti Instagram, Tiktok, ataupun aplikasi market place, seperti Shopee dan Lazada. (RJ)

Artikel
Kegiatan Universitas
Kegiatan Pengabdian

Detail Paper

Fitur Aksesibilitas

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

A11Y

HOME

MENU

CARI

Scroll Down