
Fenomena Bahasa Slang Medan: Dari “Sikik Aaa” sampai “Ica”, Tinjauan Linguistik dari Ahli Bahasa USU
Sejumlah istilah pergaulan seperti “sikik aaa”, “kek”, dan “ica” belakangan viral di media sosial dan memicu rasa ingin tahu publik. Menurut Dr. Muhammad Yusuf, S.Pd., M.A., dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU), ketiga istilah tersebut merupakan bentuk bahasa slang Medan yang lahir dari proses kontak bahasa di kota multikultural, bukan sekadar tren sesaat di media sosial. “Sikik aaa” bermakna “sedikit saja”, “kek” merupakan bentuk singkat dari “kayak”, sementara “ica” adalah pemendekan dari kata “bisa”, bukan nama orang. Dalam kajian linguistik, fenomena semacam ini dikenal sebagai dialek, sebuah kekayaan budaya yang layak dipelajari secara akademik, bukan sekadar diperbincangkan sebagai tren belaka.
21 Juli 2026

Stagnasi Upah dan Daya Tawar Tenaga Kerja: Tinjauan Ekonomi dari FEB USU
Kesenjangan antara laju kenaikan upah dan laju kenaikan harga kebutuhan menjadi salah satu persoalan ekonomi yang banyak dirasakan pekerja di Indonesia saat ini. Menurut Dr. Monika Andrasari, SE., M.Si., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sumatera Utara (USU), fenomena ini dikenal dalam ilmu ekonomi sebagai stagnasi upah atau wage stagnation, yaitu kondisi ketika kenaikan gaji tidak sebanding dengan fluktuasi harga barang di pasaran. Meski inflasi nasional tercatat stabil di angka 3,34% per Juni 2026 (BPS dan Bank Indonesia), daya tawar (bargaining power) pekerja di pasar tenaga kerja yang melemah membuat banyak pekerja tetap kesulitan meningkatkan kesejahteraan. Dr. Monika menekankan bahwa solusi paling realistis pada tingkat individu adalah meningkatkan nilai diri melalui kombinasi keahlian yang unik, bukan menambah intensitas kerja.
21 Juli 2026
Belajar dari Heatwave Eropa: Rumah Adat Batak Bukti Arsitektur Zero Carbon Sudah Ada Sejak Dulu
Heatwave ekstrem yang melanda Eropa pada Juni–Juli 2026 (40,5°C di Barcelona, rekor baru di Inggris) menegaskan dampak modernisme arsitektur pasca-Perang Dunia II yang seragam, boros energi, dan berbahan kaca-aluminium. Menurut Dr. Ir. Ar. Achmad Delianur Nasution (dosen Arsitektur FT USU), Indonesia sebenarnya sudah punya solusinya sejak ratusan tahun lalu: rumah adat Batak, yang menerapkan prinsip zero carbon lewat material alami serta pencahayaan dan pengudaraan alami. Artikel ini menelusuri pergeseran dari arsitektur tradisional ke modernisme, lahirnya gerakan green architecture pada 1980–90an dan regulasinya di Indonesia, hingga bagaimana prinsip SDGs PBB sesungguhnya sudah lama dipraktikkan lewat kearifan lokal Nusantara.
21 Juli 2026
Total 3 data