Pengabdian USU, Raja Bius dan Si Hali Aek di Desa Tipang

Diterbitkan PadaJumat, 20 Januari 2023
Diterbitkan OlehFildzah Zata Amani Nasution
Thumbnail
WhatsappTwitterFacebook

"“Bagi kami yang berkecimpung dalam bidang sosial humaniora, hal ini sangat menarik untuk diteliti dan dieksplorasi lebih jauh. Terlebih dengan adanya dua pemerintahan desa yang saling mengisi di Desa Tipang, di mana mereka saling komplementer atau melengkapi, yakni Perangkat Desa (Kepala Desa) dan Raja Bius (Raja Adat), masing-masing dengan perangkatnya,” ungkap Prof. Dr. Robert Sibarani, MS."

Desa wisata Tipang yang berada di tepian Danau Toba, di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, merupakan salah satu daerah yang menawarkan banyak pilihan obyek wisata, terutama obyek wisata budaya, baik warisan budaya benda dan warisan budaya tak benda. Desa ini menjadi salah satu desa wisata kebanggaan pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan.

Desa Tipang memiliki panorama alam yang indah serta wisata budaya dan sejarah yang sangat menarik untuk dieksplorasi. Beberapa di antara beragam potensi wisata yang sangat menarik itu adalah air terjun Sigota-gota dan Sampuran Sipultak Hoda, yang menjadi sumber irigasi tradisional dan inspirasi sistem Terasering Sibara-bara, keberadaan Raja Bius, yang merupakan raja adat yang memiliki pengaruh dan kekuasaan di Desa Tipang, serta komunitas Si Hali Aek (Pekerja Irigasi).

Tiga hal tersebut merupakan faktor utama yang menjadi pertimbangan bagi tim dosen Universitas Sumatera Utara (USU), untuk melaksanakan pengabdian masyarakat sekaligus menetapkan Desa Tipang sebagai desa binaan USU.

“Bagi kami yang berkecimpung dalam bidang sosial humaniora, hal ini sangat menarik untuk diteliti dan dieksplorasi lebih jauh. Terlebih dengan adanya dua pemerintahan desa yang saling mengisi di Desa Tipang, di mana mereka saling komplementer atau melengkapi, yakni Perangkat Desa (Kepala Desa) dan Raja Bius (Raja Adat), masing-masing dengan perangkatnya,” ungkap Prof. Dr. Robert Sibarani, MS, dosen USU yang juga menjadi Ketua Tim Pengabdian Masyarakat USU di Desa Tipang.

Potensi besar dalam sektor kepariwisataan itu mendorong Tim dosen USU untuk meningkatkan kemandirian masyarakat Desa Tipang, yang difokuskan untuk meningkatkan keaktifan dan peran masyarakat dalam mengembangkan destinasi wisata Desa Tipang. Desa Tipang diproyeksikan menjadi desa wisata berbasis kearifan lokal, sehingga memerlukan peran masyarakat setempat sebagai pihak yang melaksanakan tradisi budaya tersebut.

Berada di tepian Danau Toba, dengan luas wilayah 512,33 Ha, Desa Tipang memiliki topografi memukau berupa perbukitan/pegunungan dengan ketinggian 900 s/d 1.200 m di atas permukaan laut, serta lembah yang indah. Penduduk Desa Tipang berjumlah 450 kepala keluarga dengan 1.800 jiwa, yang hingga saat ini masih mempraktikkan tradisi budaya, termasuk ritual dalam siklus mata pencaharian (livelihood cycle) dan upacara siklus kehidupan (life cycle).

“Desa ini menarik untuk ekowisata. Disebut dengan desa wisata budaya karena potensi wisata yang dimiliki masih berhubungan dengan tradisi budaya. Hukum adat juga masih berlaku untuk masyarakat Desa Tipang. Di sana masih ada 29 kampung,” kata Prof Robert.

Sebelum dibuka akses menyeberang ke Pulau Samosir, Desa Tipang kerap dikatakan sebagai ujung dunia, karena setelah Desa Tipang tidak ada lagi wilayah yang bisa dijalani.

Desa Tipang dikenal sebagai tempat asal-usul 7 marga, sehingga disebut Bius Si Pitu Marga (nama lain dari Desa Tipang). Si Pitu Marga merupakan keturunan Raja Sumba, yang memiliki dua orang putera, yaitu Toga Simamora sebagai anak pertama dan Toga Sihombing sebagai anak kedua. Toga Simamora memiliki tiga anak, yaitu Purba, Manalu dan Debata Raja. Sementara Toga Sihombing memiliki empat anak, yaitu Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit. Ketujuh marga inilah yang disebut sebagai Marga Napitu atau Raja Napitu yang mendiami Desa Tipang, sekaligus diyakini sebagai daerah asal ketujuh marga tersebut.

Daerah ini masih menyimpan sistem pemerintahan lama yang disebut dengan Desa Bius dan memiliki raja yang disebut Raja Bius. Raja Bius terdiri dari dua orang yang memerintah, yang mewakili Toga Simamora dengan sebutan Parsanggul Baringin dan yang mewakili Toga Sihombing dengan sebutan Pangulu Oloan. Raja Bius itu didampingi oleh Raja Jolo (tokoh yang dikedepankan), masing-masing 3 orang dari setiap marga.

“Mereka berasal dari dua kelompok marga berbeda yang hidup di Desa Tipang. Perannya saling berdampingan, seperti Raja dan wakilnya begitulah. Sepanjang pengetahuan saya, cuma itu satu-satunya desa di pinggiran Danau Toba yang masih memiliki sistem pemerintahan adat dan ini menarik sekali,” imbuh Prof Robert.

Untuk kepentingan umum yang berhubungan dengan pembangunan, pajak dan pemerintahan, itu menjadi tugas kepala desa dan perangkatnya. Namun yang berhubungan dengan humaniora dan adat istiadat, termasuk juga pertanian tradisionalnya, dikelola oleh Raja Bius dan perangkatnya.

Prof Robert juga menjelaskan, adanya dua irigasi dari air terjun Sigota-gota dan air terjun Sipultak hoda yang mengairi persawahan, juga menjadi daya tarik tersendiri dari desa tersebut. Salah satu irigasi panjangnya 4,5 km dan satu lagi 2,5 km, yang dikelola dengan kearifan lokal.

“Hanya di daerah itulah air bisa naik ke atas untuk mengairi sawah tanpa bantuan mesin, melainkan dengan kearifan lokal. Ini juga saya pikir salah satu hal yang menarik untuk obyek wisata, sebagaimana yang ada di Subak, Bali. Karena sangat jarang diterapkan sistem tersebut dalam pertanian di dunia. Selain itu, masyarakat di Desa Tipang juga relatif lebih ramah dan santun, sehingga dapat membuat wisatawan yang berkunjung menjadi lebih nyaman,” tandas lelaki yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian USU tersebut.

Menurut Prof Robert, terdapat 6 perubahan yang dihasilkan melalui pengabdian masyarakat yang dilakukan USU. Pertama, adanya atraksi wisata. Yang sudah berhasil dibuat, yakni atraksi berbasis budaya, yang disebut dengan atraksi Si Hale Aek (Pekerja Irigasi). Di mana atraksi sudah 2 kali tampil di depan umum dan mendapatkan sambutan yang antusias dari wisatawan. Atraksi budaya tersebut diciptakan melalui penelitian-penelitian budaya yang dilakukan sebelumnya oleh dosen USU dengan melibatkan masyarakat setempat.

Yang kedua adalah amenitas, yang lebih difokuskan kepada something to buy dan something to do, seperti adanya cenderamata khas setempat, restoran/rumah makan, homestay, toilet, parkir, dan sebagainya.

“Kita berhasil mendorong pemerintah dan masyarakat untuk membuat homestay di Desa Tipang, yang bisa dimanfaatkan, baik oleh para mahasiswa KKN, maupun wisatawan. Saat ini sudah banyak homestay yang didirikan, selain penginapan-penginapan kecil. Cenderamata asli Desa Tipang juga harus lebih banyak dibuat, tentunya juga dengan pendampingan ahli,” ujar Prof Robert.

Perubahan ketiga ada pada aksesibilitas, di mana USU sudah memfasilitasi 4.500 meter jalan setapak untuk ekowisata, yang menjadi akses bagi para wisatawan untuk menuju ke puncak air terjun, yang dulunya tidak ada. Karena hanya pekerja irigasi yang menggunakan jalur dari sawah menuju air terjun.

Keempat adalah perubahan dalam ancillary, dengan meningkatkan bidang pelayanan melalui pegiat-pegiat wisata, kelompok sadar wisata, tokoh adat, tokoh masyarakat, kaum ibu, anak muda dan anak-anak. Mereka diedukasi bagaimana melayani, membantu wisatawan dan memberikan keramahan kepada wisatawan. Yang terakhir adalah comfort and safety, tentang bagaimana menjaga keamanan dan kenyamanan, agar tidak mengganggu wisatawan dan memberikan rasa aman terhadap keberadaan mereka beserta barang bawaannya. Media yang digunakan melalui sosialisasi dan pelatihan.

Perubahan yang terjadi di Desa Tipang membawa rezeki tersendiri dengan terpilihnya desa tersebut masuk ke dalam 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Tahun 2021, yang juga buah dari kerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Hal ini secara bertahap telah meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke desa tersebut, sebagaimana diungkapkan oleh masyarakat dan kepala desa setempat. Desa Tipang merasa sangat terbantu atas kerja sama dengan Universitas Sumatera Utara. Pengabdian masyarakat ini telah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, serta memperbaiki infrastruktur pendukung desa wisata. Juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih sadar lingkungan dan ramah pengunjung.

“Sampai saat ini terutama yang 4ASC (Attraction, Accessibility, Amenity, Ancilliary, Safety and Comfort) sebagai komponen pariwisata dan pengembangan destinasi wisata Desa Tipang, telah berhasil kita laksanakan dengan baik. Tentu tidak bisa sekali, harus terus-menerus, Namanya juga desa binaan. Kita berharap melalui kerja sama yang dilakukan dengan banyak pihak, baik pemerintah, swasta dan organisasi yang memiliki kepedulian, ke depannya Desa wisata Tipang dapat lebih baik dan lebih maju lagi, sehingga kunjungan wisatawan juga semakin meningkat,” harap Prof Robert.

Mata pencaharian masyarakat Desa Tipang dominan bertani dan berladang. Mereka tidak pernah bermasalah dengan musim. Kerja sama melalui Tim Ekosistem Kawasan Danau Toba yang dibentuk oleh gubernur yang juga melibatkan Rektor USU, Wakil Rektor III USU dan lima orang dosen USU lainnya sebagai anggota, berhasil melobi bantuan untuk petani Desa Tipang. Mereka mendapatkan 4.000 bibit tanaman Macademia, yang diserahkan melalui kepala desa. Nantinya tanaman tersebut akan menghasilkan kacang-kacangan dengan nilai jual sangat tinggi.

“Kami berharap, meskipun sudah dibantu bibit tanaman, tetap juga harus didampingi oleh tim ahli pertanian, baik dari akademisi maupun pemerintah, untuk mengadvokasi dan membimbing para petani tersebut, sehingga hasil buahnya juga dapat memuaskan dan menjadi komoditi unggulan dari Desa Tipang,” kata dosen USU yang sudah sejak 8 tahun lalu melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat di Desa Tipang, di luar tim desa binaan. (RJ/RR)

Kegiatan Universitas
Kegiatan Pengabdian

Detail Paper

Accessibility Icon
disability features
accesibility icon
accesibility icon
accesibility icon
accesibility icon
Scroll Down