Pengukuran Koklea Pasien Menentukan Keberhasilan Implan Koklea

Diterbitkan PadaRabu, 29 Mei 2024
Diterbitkan OlehDevira Zahara, Sp.T.H.T.K.L., Subsp.Oto.(K)
Thumbnail
WhatsappTwitterFacebook

"Perkembangan dunia kedokteran, terutama dalam bidang Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL), telah berkembang pesat. Permasalahan pada indera pendengaran dapat diatasi dengan ilmu yang terus diperbarui setiap waktu. Kehilangan respons pendengaran (Congenital Sensorineural Hearing Loss, SNHL) menjadi permasalahan yang paling banyak ditemukan. Hal ini terjadi akibat kerusakan pada organ dalam telinga (koklea) yang mengakibatkan ketidakmampuan menghantarkan getaran suara melalui cairan telinga."

Akibatnya, fungsi pendengaran berkurang sehingga penderita tidak mampu mendengar dengan baik. Terapi yang dilakukan pada masalah pendengaran ini adalah implan koklea. Alat bantu dengar ini disisipkan di organ dalam telinga sehingga mengaktifkan kembali fungsi alami telinga untuk merespons getaran suara yang masuk. Namun, implan koklea sering mengakibatkan trauma pada penderita. Bedah yang dilakukan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan atau bahkan menimbulkan malfungsi dari implan koklea itu sendiri.

Setiap manusia memiliki ukuran koklea yang berbeda, sehingga tenaga medis membutuhkan pengetahuan lengkap terkait dimensi ruang telinga pasien. Dimensi yang dimaksud mencakup lebar, tinggi, dan panjang rongga telinga. Penelitian tentang variasi ukuran koklea pada implan koklea sangat penting untuk memahami pengaruhnya terhadap hasil klinis dan pengembangan teknologi implan yang lebih baik.

Ahli THT-KL Devira Zahara, Rima Diana Dewi, dan Askaroellah Aboet; Ahli Radiologi Fikri Mirza Putranto; dan Ahli Kesehatan Lingkungan Taufik Ashar dari Universitas Sumatera Utara, Indonesia, meneliti ukuran koklea kandidat pasien implan koklea di Medan, Indonesia. Penelitian ini bertujuan menyajikan data ukuran koklea (tinggi, lebar, dan panjang) pasien yang berguna sebagai referensi tenaga medis untuk melakukan implan koklea.

“Penelitian dimulai dengan analisis variasi ukuran koklea pada populasi pasien yang berbeda. Terdapat variasi ukuran koklea yang signifikan antarindividu, yang dapat memengaruhi efektivitas implan koklea. Pengukuran ukuran koklea yang tepat dan objektif akan berpengaruh pada perolehan data normatif ukuran koklea termasuk panjang, lebar, tinggi, tinggi skala timpani (ST), dan panjang saluran koklea (CDL),” kata Devira Zahara.

Pengukuran dilakukan dengan mengumpulkan data tulang pelipis menggunakan High-Resolution Computed Tomography (HRCT) yang kemudian dijadikan bahan dalam rekonstruksi secara tiga dimensi (3D). Terdapat 18 kandidat implan koklea atau 36 telinga sebagai objek pengukuran. Hasil pengukuran menunjukkan adanya variasi ukuran dari setiap individu.

Teknologi pencitraan memberikan gambaran yang detail tentang struktur koklea, sehingga tenaga medis dapat mengukur koklea secara akurat sebelum operasi. Implan yang disiapkan pun dapat disesuaikan pada setiap pasien. Koklea yang lebih kecil dapat menyebabkan kesulitan dalam penempatan elektroda. Akibatnya, elektroda yang ditempatkan di koklea mungkin tidak memberikan stimulasi

optimal. "Variasi ukuran koklea dapat mempengaruhi penempatan elektroda dan hasil pendengaran. Pengetahuan yang akurat tentang variasi anatomi koklea sangat penting untuk memaksimalkan keberhasilan klinis,” sebut Devira Zahara.

Di satu sisi, penyisipan elektroda koklea yang dangkal mungkin akan mengurangi risiko kerusakan struktural apikal. Namun, di sisi lain, dibutuhkan penyisipan elektroda koklea yang dalam untuk meningkatkan kinerja implan pada kasus kehilangan pendengaran. Hal ini menunjukkan pentingnya pengukuran koklea yang tepat agar elektroda dapat disisipkan untuk menghasilkan performa implan yang baik.

Penelitian ini juga berkaca dari data berbagai studi sebelumnya untuk mendukung temuan tim. Data tersebut digunakan sebagai acuan bahwa variasi anatomi koklea dapat mempengaruhi hasil pendengaran. Di sisi lain, pendekatan individual juga tak kalah penting dalam pemasangan implan koklea, termasuk pemenuhan alat diagnostik yang lebih baik untuk mengukur koklea sebelum operasi.

“Pendekatan individual berdasarkan ukuran koklea pasien dapat meningkatkan hasil klinis secara signifikan. Termasuk ketersediaan alat diagnostik yang lebih akurat diperlukan untuk perencanaan operasi yang lebih baik,” papar Devira Zahara.

Tentu dalam pemasangan implan koklea, terdapat tantangan pada koklea yang berukuran tidak biasa. Maka, tim peneliti merekomendasikan pengembangan panduan klinis yang lebih baik untuk membantu dokter dalam menangani variasi ukuran koklea. Panduan klinis dan pemahaman yang lebih baik tentang variasi ukuran koklea dapat meningkatkan hasil pendengaran bagi pasien.

Mereka menyimpulkan bahwa melalui elektroda yang tepat dapat menghasilkan pendengaran yang baik setelah implantasi koklea. Data mengenai ukuran saluran koklea dapat memberikan informasi untuk membantu desain penyisipan elektroda koklea secara individual. Mereka merekomendasikan penelitian lanjutan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. “Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan implan yang dapat beradaptasi dengan ukuran koklea setiap individu,” pungkas Devira Zahara.

Artikel
Artikel Penelitian

Detail Paper

JudulPrevalence and Risk Factors of Soil-Transmitted Helminthiasis Among School Children Living in an Agricultural Area of North Sumatera, Indonesia
PenulisDevira Zahara, Rima Diana Dewi, Askaroellah Aboet, Fikri Mirza Putranto, Netty Delvrita Lubis, Taufik Ashar
Afiliasi Penulis
  1. Departemen Otorhinolaryngology – Bedah Kepala dan Leher, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, 20155, Indonesia
  2. Departemen Otorhinolaryngology – Bedah Kepala dan Leher, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, Indonesia
  3. Jurusan Radiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, 20155, Indonesia
  4. Jurusan Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, 20155, Indonesia
Accessibility Icon
disability features
accesibility icon
accesibility icon
accesibility icon
accesibility icon
Scroll Down