Pengabdian Masyarakat

Merintis Desa Wisata serta Mitigasi Konflik Manusia dan Harimau melalui Desa Binaan USU

  • Suasana program desa binaan yang dipimpin oleh Pindi Patana, S.Hut., M.Sc.
Merintis Desa Wisata serta Mitigasi Konflik Manusia dan Harimau melalui Desa Binaan USU
  • Kontributor
    Dr Achmad Siddik Thoha, S Hut, M Si
    Tim Desa Binaan USU
  • Fotografer
    Yusron Wahyudi
    Tim Desa Binaan USU
  • Pelaksana
    Pindi Patana, S Hut, M Sc
    Ketua TIm Desa Binaan USU
  • Tanggal Publikasi
    Juli. 19, 2021
  • Bagikan Artikel
      

Sejak pagi hingga siang Desa Timbang Lawan yang berada di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, tak sepenuhnya benderang oleh cahaya surya. Jalanan basah tersiram rintik hujan, membuat udara sedikit lembap namun menyegarkan karena berada di punggung bukit yang dipenuhi pepohonan dan tanaman hijau.

Siang itu, sejumlah orang terlihat duduk santai menikmati sajian ikan bakar dan buah durian di tepi Sungai Bahorok yang airnya masih sangat jernih, memantulkan keindahan alam sekitar. Pemandangan Bukit Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di hulu sungai melengkapi suasana santai Tim Desa Binaan Universitas Sumatera Utara. Saat itu, Tim Desa Binaan USU tengah menikmati suasana rehat bersama para warga setempat yang merupakan mitra dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang tengah digelar.

Universitas Sumatera Utara melalui Tim Desa Binaan yang dipimpin oleh Pindi Patana, S Hut, M Sc, selaku ketua, telah memulai program Desa Binaan dengan Tema Membangun Kemandirian Desa dalam Mitigasi Konflik Manusia dan Harimau di Desa Timbang Lawan, Minggu, 11 Juli 2021 lalu. Acara ini dihadiri oleh sejumlah perangkat desa, mulai dari kepala desa dan jajarannya, kepala dusun, kepala BPB hingga perwakilan kelompok masyarakat lain yang menjadi mitra Program Desa Binaan. Hadir pula pada acara ini perwakilan dari para pihak yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan hutan yaitu Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara (BBKSDA-SU), Balai Besar TNGL, UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah I Stabat dan PKSM KPH I Bahorok.

Para pihak ini berkumpul di Kantor Desa Timbang Lawan untuk kemudian dilanjutkan pada sejumlah kegiatan, di antaranya penanaman pohon buah serta survei kandang anti harimau, penetapan kandang pemeliharaan rusa, penetapan lokasi pengelolaan pakan ternak dan perancangan ecolodge ekowisata. Sebanyak 30 bibit buah durian ditanam di areal mitra Desa Binaan sebagai awal peluncuran program. Lahan yang ditanam bibit durian ini akan dikembangkan menjadi Kebun Buah sebagai salah satu destinasi wisata buah yang akan dikembangkan di desa yang terletak di kawasan penyangga TNGL. 

Pada pembukaan program, Sekretaris LPPM USU, Meutia Nauly, S.Psi, M.Si, Psikolog, mengutarakan bahwa ia sangat terkesan dengan dukungan yang diberikan oleh banyak pihak dari Desa Timbang Lawan. Ia yakin desa binaan USU bisa memberi motivasi baru pada masyarakat Desa Timbang Lawan untuk mengurangi masalah dan meningkatkan kesejahteraan di desanya. Meutia yang juga sebagai dosen di Fakultas Psikologi USU menyebutkan, bahwa setiap masalah ada berkah tersendiri. Dari adanya konflik manusia dan harimau di desa ini, muncul gagasan dan semangat bersama memajukan desa. Pada kesempatan itu, Meutia yang mewakili Ketua LPPM USU, menyerahkan Memorandum of Agreement (MoA) antara LPPM USU dan Desa Timbang Lawan kepada Kepala Desa Timbang Lawan Malik Nasution.

Program Desa Binaan di Timbang Lawan mencakup lima bidang kegiatan. Bidang pertama adalah Pembangunan Kandang anti Harimau dengan koordinator Dr Alfan Gunawan Ahmad, S Hut, M Si. Bidang kedua yaitu Pembuatan Pakan Ternak dengan Koordinator Ir Edhy Mirwandono, M Si. Bidang ketiga, Penanaman Pohon Multi Purposes Tree Species (MPTS) dengan koordinator Dr Oding Affandy, S Hut, M Si. Bidang keempat, Pemeliharaan Rusa dengan koordinator Dr Ir M’arifatin Zahra, M Si. Adapun bidang kegiatan terakhir yaitu Pengembangan Ekowisata dengan koordinator Dr Achmad Siddik Thoha, S Hut, M Si.

Pindi Patana, S Hut, M Sc, menyebutkan, Desa Timbang Lawan sangat kaya dengan potensi sumberdaya alam dan kearifan lokal. Konflik manusia dan harimau yang sering terjadi menyadarkan kepada USU, masyarakat dan para pihak untuk bersinergi mencari solusi bersama. Adanya konflik ini justru menjadi sarana pemersatu berbagai potensi dan kekuatan yang muaranya menuju pada hutan lestari dan masyarakat sejahtera.



Lainnya

Loading...Loading...Loading...Loading...