Pengabdian Masyarakat

Melalui Pengabdian Masyarakat, USU Tingkatkan Prestasi Olahraga Dayung

  • ilustrasi (id.pinterest.com)
Melalui Pengabdian Masyarakat, USU Tingkatkan Prestasi Olahraga Dayung
  • Kontributor
    Renny Julia Harahap
    Humas
  • Fotografer
    Amri Simatupang
    Humas
  • Pelaksana
    Ir. Syahrizal, MT., Ir. Rahmi Karolina, ST., MT., Ir. M. Agung Putra Handana, ST., MT.
    Universitas Sumatera Utara
  • Tanggal Publikasi
    Mei. 23, 2021
  • Bagikan Artikel
      

Universitas Sumatera Utara (USU) melalui tim dosennya melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Kampung Nelayan Seberang, Kecamatan Medan Belawan, yang merupakan kawasan laut.

Dayung merupakan salah satu cabang olahraga air yang diperlombakan dalam berbagai kompetisi nasional dan internasional dan berlokasi di laut, danau dan sungai. Dayung yang menjadi pelengkap dari transportasi air sejenis perahu/kano, diperlombakan secara beregu di mana terdapat tujuh orang atlet atau lebih yang menjadi pesertanya dalam satu tim. Dayung dibuat dari kayu dan dikerjakan secara tradisional dan dikenal dari zaman dahulu sebagai salah satu alat transportasi di air, ketimbang sebagai cabang olahraga.

 

Olahraga dayung mulai diperlombakan secara resmi pada abad ke-16 oleh Raja Henry dari Inggris, setelah memperbolehkan para pendayung yang mempunyai izin khusus melewati sungai Thames. Dari kondisi tersebut, perlombaan-perlombaan dayung pun mulai bermunculan dan diselenggarakan dengan tujuan agar peserta memperebutkan gelar sebagai pendayung paling baik pada kompetisi. Setelah itu dayung terus populer dan diselenggarakan pada hampir seluruh perairan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

 

Sumatera Utara sesungguhnya menyimpan potensi yang cukup besar untuk mendulang prestasi di bidang olahraga dayung, mengingat banyaknya lokasi perairan di provinsi ini. Demikian pula bibit-bibit atlet dayung yang tersebar di permukiman sekeliling perairan, baik laut, danau maupun sungai.

 

Menyadari hal tersebut, Universitas Sumatera Utara (USU) melalui tim dosennya melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Kampung Nelayan Seberang, Kecamatan Medan Belawan, yang merupakan kawasan laut. Kegiatan yang dikoordinatori oleh Ir Syahrizal, MT dan beranggotakan Ir Rahmi Karolina, ST, MT, serta Ir M Agung Putra Handana, ST, MT, adalah dengan merealisasikan pembuatan Pondok Karang Taruna Atlet Dayung yang dipergunakan untuk pembinaan Anak-Anak Kampung Nelayan Seberang. Kegiatan yang berlangsung selama 6 bulan itu menggunakan sumber dana non PNBP USU tahun 2020 yang merupakan bagian dari dana Program Desa Binaan.

 

Kampung Nelayan Seberang yang berada di Kelurahan Belawan I Medan, Sumatera Utara, dapat ditempuh dalam waktu 2 perjalanan dari kawasan Kampus USU Kota Medan. Terdapat banyak kisah prestasi para atlet olahraga dayung dari kampung ini. Para pendayung yang berasal dari daerah ini pada tahun 1970-an hingga 90-an banyak yang berhasil menorehkan prestasi gemilang hingga ke mancanegara.

 

Sebagai kampung yang berada di atas laut, kehidupan masyarakat sekitar sejak kecil sudah dikondisikan untuk beradaptasi dengan alam laut. Maka, tidaklah mengherankan bila anak balita berusia 4 tahun di kawasan ini sudah bisa berenang dengan baik di lautan. Selain menguasai cabang olahraga renang, masyarakat juga umumnya bisa mengendarai sampan, baik laki-laki maupun perempuan. Kondisi alam yang menghidupi mereka dengan kebutuhan transportasi sampan dalam rutinitas harian, menjadi modal dasar untuk menjalani profesi sebagai atlet dayung. 

 

Seiring bergulirnya waktu, prestasi gemilang yang diukir pada pemuda di kawasan tersebut hanya tinggal sejarah. Permukiman yang jauh dari wilayah perkotaan membuat wilayah tersebut sedikit terpinggirkan dan terlupakan dengan perkembangan dan tata kelola kota yang semakin maju. Hal ini juga berpengaruh kepada tidak terjamahnya secara berlanjut pembinaan para atlet dayung yang berprestasi di kampung tersebut. Tidak adanya pola pemberdayaan dan pembinaan yang layak serta apresiasi yang cukup minim dari berbagai pihak, menyumbang pengaruh besar terhadap berhentinya pola grafik prestasi. Ditambah pula dengan persoalan lain yang dihadapi oleh masyarakat di Permukiman Kampung Nelayan Seberang, yang menuntut masyarakatnya untuk fokus pada perekonomian keluarga sebagai bentuk upaya bertahan hidup. Hal utama yang menjadi prioritas permasalahan pada Kampung Nelayan yang menjadi mitra pengabdian adalah tidak adanya fasilitas yang mendukung masyarakat sebagai pengembangan bakat para penerus atlet dayung yang berada di kampung itu.

 

Program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Ir Syahrizal, MT, dan tim, adalah dengan mencoba memfasilitasi kegiatan pembinaan dan pengembangan para atlet dayung dengan membangun sebidang pondok karang taruna. Pondok tersebut dimaksudkan sebagai tempat berkumpul dan berbagi pengalaman para atlet dayung kepada anak-anak berusia muda di kawasan tersebut, juga memantau aktivitas latihan dayung yang dilakukan, sehingga dapat membentuk generasi penerus atlet dayung profesional yang diharapkan.

 

Kampung Nelayan Belawan merupakan lokasi tempat tinggal masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan. Masyarakat setempat membentuk kelompok-kelompok kecil nelayan dan tinggal di pinggir pantai serta memanfaatkan garis pantai sebagai tempat tinggal dan hidup sebagai nelayan. Selain sebagai nelayan, masyarakat setempat juga berprofesi sebagai petambak ikan. Mereka memiliki ciri-ciri dan pola hidup yang berbeda dari masyarakat perkotaan, seperti sistem gender, pola-pola perilaku dalam mengeksploitasi sumber daya perikanan, serta kepemimpinan sosial yang tumbuh karena pengaruh kondisi dan karakteristik yang terdapat di lingkungannya. Masyarakat di Kampung Nelayan cenderung membentuk kelompok-kelompok yang sesuai dengan pencahariannya.

 

Perkembangan permukiman yang memanfaatkan garis pantai sebagai tempat tinggal tentu membutuhkan infrastruktur yang berbeda dari permukiman di daerah perkotaan, antara lain dari segi bentuk rumah, pondok dan taman atau area terbuka untuk tempat bermain anak-anak. Masyarakat setempat tinggal di rumah yang berpondasikan tiang-tiang dan hanya memiliki pondok-pondok setapak untuk menghubungkan satu rumah dengan rumah yang lain. Pondok-pondok tersebut sering dibuat menjadi pondok karang taruna olahraga dayung anak-anak yang berumur balita.

Sebagai masyarakat yang mayoritas sebagai nelayan tentunya diperlukan perahu-perahu untuk menangkap ikan. Masyarakat setempat ada yang sudah memiliki sendiri perahu-perahu untuk menangkap ikan dan ada juga yang belum memiliki sendiri. Aktivitas masyarakat Kampung Nelayan yang dominan di laut membuat anak-anak mereka lebih sering bermain di air atau di pinggir pinggir pondok. Mengendarai perahu atau mendayung sampan merupakan suatu kemampuan yang biasa dimiliki anak-anak Kampung Nelayan Seberang, yang menjadi cikal bakal dari lahirnya bibit potensial atlet dayung.

 


Program Pengabdian Kepada Masyarakat USU membangun pondok atlet ini terdiri dari kegiatan membangun pondasi dan plat beton. Sebelum pelaksanaaan pekerjaan pondok atlet ada beberapa tahapan analisis untuk mengetahui dimensi pondok atlet yang akan dibuat. Langkah-langkah pelaksanaan pondok atlet dari tahapan analisis sampai pekerjaan di lapangan terdiri dari ; studi literatur yang bertujuan untuk menentukan metode, cara kerja yang benar dan sesuai dengan permasalahan di lokasi. Lalu dilanjutkan dengan tahap analisis untuk merencanakan dimensi pondok atlet yang meliputi pondasi tiang beton dan plat lantai beton. Kemudian dilakukan persiapan alat dan bahan, pembuatan pondasi, pemasangan bekisting/mal, pengecoran pondok atlet, pembukaan bekisting dan pemasangan perlengkapan pondok.

 

Tahapan teknis pembuatan pondok atlet dapat dijabarkan secara garis besar sebagai berikut ; mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk pekerjaan di lapangan sesuai dengan pondok atlet yang sudah direncanakan. Kemudian memasang bowplank untuk menentukan titik-titik tiang pondasi, yang dilanjutkan dengan memasang pile (pipa pvc sebagai casing) di titik-titik yang sudah ditentukan. Dilanjutkan memasang tulangan pada pile, menyiapkan material-material campuran beton, site mix beton menggunakan mesin molen, melakukan pengecoran untuk seluruh pile tersebut, memasang mal/cetakan menggunakan triplek pada sisi-sisi plat lantai yang akan dibeton.

Kemudian dimulai proses perakitan dan pemasangan besi/tulangan untuk plat lantai pondok atlet dan melakukan sambungan tulangan pile dengan tulangan plat lantai serta menyiapkan kembali material-material campuran beton. Tahapan itu diteruskan dengan site mix beton menggunakan mesin molen dan melakukan pengecoran untuk seluruh pelat lantai pondok atlet tersebut. 14 hari setelah pengecoran dilakukan baru dilakukan pembukaan mal/cetakan beton tersebut dan pondok siap digunakan.

 

Kegiatan pengabdian masyarakat dalam pembuatan pondok atlet menggunakan material beton sebagai material utama yang digunakan. Beton yang digunakan terdiri dari semen Portland yang berfungsi sebagai bahan perekat hidrolis yang dapat mengeras apabila bersenyawa dengan air dan akan membentuk benda padat yang tidak larut dalam air. Pasir (agregat halus) juga menjadi bahan campuran lainnya. Ada juga kerikil (agregat kasar), air, besi tulangan, triplek dan paku, mesin molen, bekisting atau cetakan bet, dan pipa PVC. Pipa PVC ini digunakan untuk cetakan beton pada pile-pile pondok atlet. Polyvinyl chloride (PVC) adalah pipa yang terbuat dari plastik dan beberapa kombinasi vinyl lainnya yang memiliki sifat tahan lama dan tidak gampang dirusak. Pipa PVC juga tidak berkarat atau membusuk. Oleh karena itu, PVC sering digunakan sebagai cetakan beton. Pada pekerjaan ini menggunakan pipa PVC dengan diameter 6 inchi. Sementara besi tulangan yang digunakan berukuran 10 mm dan 8 mm.

 

Kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dimulai sesuai dengan tahapan kegiatan seperti pada metodologi pelaksanaan. Seluruh tahapan dikerjakan di lokasi pengabdian oleh tim pengabdian beserta mahasiswa yang diikutsertakan pada kegiatan tersebut dan dibantu oleh masyarakat setempat untuk proses pelaksanaan pembuatan pondok atlet.


 

 

 


Pondok atlet dayung yang dibangun memiliki diameter pondasi beton 20 cm. Tim pengabdian berharap, ke depannya pondok atlet yang dibangun untuk kepentingan masyarakat dapat digunakan sesuai dengan tujuannya dan memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat Kampung Nelayan Belawan dalam meningkatkan perekonomian dan pariwisata.


Lainnya

Loading...Loading...Loading...Loading...