• Pengumuman Hasil Seleksi Mahasiswa Ekstensi (S1) Tahun 2019
    Pengumuman Hasil Seleksi Mahasiswa Ekstensi (S1) Tahun 2019
  • QS Rating USU Memperoleh Bintang 3
    QS Rating USU Memperoleh Bintang 3
  • TALENTA
    TALENTA
  • Tata Nilai Utama BINTANG
    Tata Nilai Utama BINTANG
  • Sampaikan Aspirasi dan Pengaduan Untuk Universitas Sumatera Utara
    Sampaikan Aspirasi dan Pengaduan Untuk Universitas Sumatera Utara

MEDAN-HUMAS USU :  Inovasi merupakan hal yang sangat penting diperhatikan dan dilakukan pada abad ini, khususnya bagi kalangan milenial. Karena akan ada suatu masa di mana persaingan antar generasi milenial akan semakin kompetitif. Persaingan bukan hanya berada di lokal Sumatera atau Indonesia, namun juga seluruh dunia. Karena dengan berkembangnya inovasi, makan Global Competition akan pesat berkembang. Persaingan yang ada antar generasi Y (dulu) jauh berbeda dengan persaingan yang dihadapi oleh para generasi Z (Milenial). Jika dulu yang dihadapi adalah negara lain dengan benderanya, maka sekarang yang dihadapi adalah negara lain dengan company-nya.

Kemenlu e Hal tersebut disampaikan oleh pembicara pertama dalam Forum Debriefing, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Dr Siswo Pramono, tentang "Gambaran penelitian HI dan Political Economic", Selasa (30/4). Acara tersebut diselenggarakan oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, bertempat di  Gedung Aula Serba Guna FISIP USU.

 

Kegiatan menghadirkan 5 orang pembicara, yakni Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Dr Siswo Pramono, Kemenlu RI yang diwakili Duta Besar LBBP RI Untuk Kanada & ICAO 2015-2018 Dr Teuku Faizasyah, M.IS, Duta Besar LBBP RI Untuk Serbia dan Montenegro 2015-2018 Harry Richard James Kandou, SH, Duta Besar LBBP RI Untuk Papua Nugini, Merangkap Kepulauan Salomon 2015-2018 Ronald Josef Pariaman Manik, SH, dan Dekan FISIP USU Dr. Muryanto Amin, M.Si.

Kemenlu dMenurut Dekan FISIP USU, Dr. Muryanto Amin, M.Si, acara diadakan sebagai ajang untuk menggali informasi terkait apa yang sudah dilakukan oleh para duta besar. Sekaligus juga untuk menyampaikan kepada para stake holder tentang apa sebenarnya tugas penting seorang diplomat. Salah satunya melindungi warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di luar negeri. Kampus berikut mahasiswanya dinilai sebagai sasaran/objek yang paling tepat untuk penyebaran informasi mengenai hal ini.

 

Lebih jauh disampaikan Dr Siswo Pramono, dengan mengutip Asian Century–The Economic Implitation to Malacca Strait And Sumatera", bahwa generasi milenial adalah penduduk yang memiliki peranan sangat penting, khususnya di Pulau Sumatera dan Indonesia umumnya.. Hal ini disebabkan arus ekonomi yang bertumbuh di Sumatera dengan sangat pesat, kawasan industri yang berkembang dan besar berada di Sumatera, contoh: sawit, batubara, dll. Itulah sebabnya generasi milenial, khususnya mereka yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, sangat diwajibkan untuk terus menulis. Apalagi jika tulisannya bisa dipublikasikan, misalnya di jurnal Scopus. Semakin banyak tulisan yang dipublish maka akan semakin berkembang pula inovasi.

Kemenlu gSementara itu, pembicara kedua, Dr. Teuku Faizasyah, menyoroti tentang hubungan bilateral Indonesia – Kanada. Kanada merupakan negara yang memiliki persamaan dengan Indonesia (dengan garis pantai terpanjang) dan semboyan  from ocean, to ocean.

 

Pada tahun 2008, terang Dr Teuku Faizasyah, Kanada merupakan salah satu negara yang memilki daya beli sangat besar. Namun sistem politik parlemen Kanada memiliki  hubungan politik dan ekonomi dengan Amerika Serikat. Kanada juga merupakan negara yang memiliki tingkat potensi ekonomi yang tinggi.

Kemenlu bAdapun visi dan misi Dubes Kanada adalah meningkatkan  peranan Indonesia di International Civil Aviation Organization (ICAO), sebuah organisasi internasional yang menaungi penerbangan sipil internasional dan Indonesia telah bergabung sejak tahun 1950. Dan hal ini masih terus diupayakan oleh hingga saat ini dengan melakukan berbagai pendekatan penting.

 

Pembicara ketiga, Harry Richard James Kandou, S.H, dalam paparannya yang berjudul, “Selayang Pandang Diplomasi di Balkan Serbia dan Montonegro" memaparkan bahwa Serbia adalah negara yang selalu dilabeli stigma negatif (perang dan konflik). Serbia  tidak memiliki pantai dan dikelilingi oleh 8 negara. Posisi negeri ini tepat berada di jantung kawasan Balkan. Terkenal  sebagai negara yang memiliki beraneka percampuran budaya dan produsen rasberry.

Kemenlu fDalam kegiatan olah raga, Serbia sangat berkembang. Isu penting Serbia adalah proses integrasi Serbia ke Uni Eropa (hal ini telah dilakukan di tahun 2009, namun baru mendapat rekomendasi di tahun 2012). Negeri ini berkutat pada penyelesaian isu Kosovo (wilayah etnis Albania yang berusaha memisahkan diri dari Serbia). Juga keberadaan Montenegro, yang berusaha memisahkan diri dari Uni Serbia pada tahun 2006. Serbia merupakan salah satu negara pertama yang mendukung keanggotan Indonesia di DK PBB.

 

"Fungsi diplomasi kedua negara antara lain meningkatkan perdagangan, pariwisata, dan  investasi. Hal ini dibuktikan dengan dibukanya pabrik Indomie di Serbia pada tahun 2006 dan adanya pertukaran beasiswa antara  Serbia dengan Indonesia", ungkap Harry.

 Kemenlu cSementara Ronald Josef Pariaman Manik, S.H, mengetengahkan paparan  tentang "Indonesia - Papua Nugini, Indonesia - Kepulauan Salomon"

 

Disebutkannya, antara Papua dengan Papua Nugini ada yang namanya batas atrifisial atau garis lurus sebagai pemisah dan penjaga keamanan di perbatasan, yang menjadi tolak ukur hubungan kedua negara. Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh kedua negara adalah kerjasama bilateral masih didominasi masalah perbatasan dan isu Papua. Papua Nugini (PNG) mengakui kedaulatan RI atas Papua, namun masih terdapat simpatisan di kalangan pemerintahan. PNG merupakan tempat bermukim broder crosser asal Papua. Belum adanya konektivitas langsung darat, laut dan udara sebagai jalur perdagangan di antara kedua negara. Saat ini, hubungan bilateral kedua negara sudah memasuki tahap kemitraan komprehensif, namun pada tataran akar rumput pengenalan atas Indonesia sebagai negara tetangga masih rendah. Disinyalir, Salomon Island mendukung gerakan separatis dan ketidakstabilan pemerintahan di Salomon Island menyebabkan perjanjian kerja sama antara RI – SI belum jelas.

Kemenlu aPada kesempatan akhir, Dr. Muryanto Amin, M.Si, mengupas tentang beberapa hal yang mendasari hubungan antar negara, yaitu perspektif politik  (lokal dan internasional) dan  perspektif ekonomi (pondasi ekonomi dan siapa yang menguasainya). Dalam pemaparannya, Muryanto menyampaikan pandangannya terkait Siberia dan Montenegro sebagai negara genosida  terbesar di tahun 90-an, yang mencoba merobah diri menjadi negara yang lebih beradab. Menurutnya, hal tersebut harus bisa diambil sebagai pelajaran, tentang bagaimana kedua negara tersebut mengatasi permasalahan yang ada di negaranya.

 

Di pengujung acara, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia juga menyampaikan presentasi tentang Tata Cara Berkarir di Kementerian Luar Negeri RI yang disampaikan oleh Eko Hartono kepada para peserta yang hadir dalam acara tersebut. (Humas)

PetaIkonikUSU