Penari Jepang ke USU
Written by Webmaster Monday, 02 August 2010 14:13
Perhimpunan Alumni dari Jepang (Persada) dan Konsulat Jenderal Jepang di Medan menggelar pertunjukan tari Jepang (nihon buyou) dan latihan bonodori di Gelanggang Pelatihan Kendo dan Judo di Gedung Diklat LPPM Kampus USU, kemarin.
Tarian ditampilkan langsung penari asal Jepang, Ms Ai. Konsul Muda Jepang di Medan Aya Kumakura mengungkapkan, dalam pertunjukannya di Medan, Ms Ai menampilkan dua tari, yakni harusame atau pergantian musim semi dan sakura. Penampilan Ms Ai ini juga dalam rangkaian festival budaya dan tari Jepang yang akan digelar di Pendopo USU, Medan, 4–6 November 2010 mendatang. ”Festival budaya dan tari pada 4–6 November 2010 di Pendopo USU diprakarsai Konsulat Jenderal Jepang di Medan dan Jepang Medan Club,” papar Aya Kumakura di sela-sela Pertunjukan Tari Jepang di USU kemarin. Ms Ai sendiri mengaku bahagia bisa tampil menari di sejumlah kota di Indonesia, termasuk Medan.
Dia mengaku telah mempersiapkan diri menampilkan harusame dan sakura, dua bulan sebelum tampil di Indonesia. ”Tarian sakura yang dibawakan tadi perpaduan tarian Jepang dan Indonesia. Itu membuktikan hubungan Indonesia-Jepang sangat erat. Maka itu, alunan musik dan lagu yang mengiri tari sakura tadi sengaja diambil dari musik dan lagu dari penyanyi Indonesia, yakni Rossa,” papar Ms Ai. Ms Ai mengaku kedatangannya ke sejumlah kota di Indonesia, yakni Padang, Medan, Jakarta, Bandung, dan Bali sejak 28 Juli hingga 8 Agustus 2010 merupakan inisiatif pribadi. Tujuannya tak lain ingin membuka sanggar dan mengembangkan tari Jepang di Indonesia. Salah satu sanggar tari itu sudah dibuka di Universitas Bung Hatta, Padang.
Pada Oktober 2010 mendatang akan dibuka di Bandung. Dia juga berencana membuka sanggar tari Jepang di Medan, Jakarta, dan Bali. Ms Ai tertarik membuka sanggar tari Jepang di Indonesia, agar tari dan budaya Jepang diketahui masyarakat Indonesia. Sebab, hubungan Indonesia-Jepang selama ini sudah terjalin dengan baik. ”Saya mengenal warga Indonesia sangat ramah dan baik. Pertama kali saya bertemu mahasiswa Indonesia yang melakukan pertukaran pelajar di Jepang. Mereka sangat ramah dan baik,”paparnya. Ms Ai yang mengaku belajar tari sejak kelas dua sekolah dasar akan terus mengembangkan tari Jepang hingga akhir hayatnya. Baginya, tari sudah mendarah daging.
Karena itu, dia akan sangat bahagia jika ada warga Indonesia berminat belajar tari Jepang. ”Jika ada yang belajar tari, saya sangat siap membantu melatih tari,” tandasnya. Pada pertunjukan tari Jepang kemarin, juga ditampilkan tarian-tarian tradisional asal Sumatera Utara dan Aceh, di antaranya japin dan saman yang dibawakan mahasiswa USU. Bahkan, gaun yang digunakan Ms Ai benar-benar menggambarkan perpaduan budaya Jelang dan Indonesia. Busana yang dikenakan saat menari bermotif pakaian Jepang dipadu ulos. Pertunjukan Ms Ai kemarin mendapat aplaus dan sambutan dari penonton. Mereka kagum dengan kemampuan Ms Ai. Meski baru pertama kali datang ke Indonesia, tetapi wanita itu mampu menggabungkan tari dan budaya Jepang dan Indonesia.
”Salut dan bangga, ternyata dia juga memahami budaya dan tarian kita,” ujar Ama, salah seorang pengunjung yang juga mahasiswi USU. (hr seputarindonesia)
Tarian ditampilkan langsung penari asal Jepang, Ms Ai. Konsul Muda Jepang di Medan Aya Kumakura mengungkapkan, dalam pertunjukannya di Medan, Ms Ai menampilkan dua tari, yakni harusame atau pergantian musim semi dan sakura. Penampilan Ms Ai ini juga dalam rangkaian festival budaya dan tari Jepang yang akan digelar di Pendopo USU, Medan, 4–6 November 2010 mendatang. ”Festival budaya dan tari pada 4–6 November 2010 di Pendopo USU diprakarsai Konsulat Jenderal Jepang di Medan dan Jepang Medan Club,” papar Aya Kumakura di sela-sela Pertunjukan Tari Jepang di USU kemarin. Ms Ai sendiri mengaku bahagia bisa tampil menari di sejumlah kota di Indonesia, termasuk Medan.
Dia mengaku telah mempersiapkan diri menampilkan harusame dan sakura, dua bulan sebelum tampil di Indonesia. ”Tarian sakura yang dibawakan tadi perpaduan tarian Jepang dan Indonesia. Itu membuktikan hubungan Indonesia-Jepang sangat erat. Maka itu, alunan musik dan lagu yang mengiri tari sakura tadi sengaja diambil dari musik dan lagu dari penyanyi Indonesia, yakni Rossa,” papar Ms Ai. Ms Ai mengaku kedatangannya ke sejumlah kota di Indonesia, yakni Padang, Medan, Jakarta, Bandung, dan Bali sejak 28 Juli hingga 8 Agustus 2010 merupakan inisiatif pribadi. Tujuannya tak lain ingin membuka sanggar dan mengembangkan tari Jepang di Indonesia. Salah satu sanggar tari itu sudah dibuka di Universitas Bung Hatta, Padang.
Pada Oktober 2010 mendatang akan dibuka di Bandung. Dia juga berencana membuka sanggar tari Jepang di Medan, Jakarta, dan Bali. Ms Ai tertarik membuka sanggar tari Jepang di Indonesia, agar tari dan budaya Jepang diketahui masyarakat Indonesia. Sebab, hubungan Indonesia-Jepang selama ini sudah terjalin dengan baik. ”Saya mengenal warga Indonesia sangat ramah dan baik. Pertama kali saya bertemu mahasiswa Indonesia yang melakukan pertukaran pelajar di Jepang. Mereka sangat ramah dan baik,”paparnya. Ms Ai yang mengaku belajar tari sejak kelas dua sekolah dasar akan terus mengembangkan tari Jepang hingga akhir hayatnya. Baginya, tari sudah mendarah daging.
Karena itu, dia akan sangat bahagia jika ada warga Indonesia berminat belajar tari Jepang. ”Jika ada yang belajar tari, saya sangat siap membantu melatih tari,” tandasnya. Pada pertunjukan tari Jepang kemarin, juga ditampilkan tarian-tarian tradisional asal Sumatera Utara dan Aceh, di antaranya japin dan saman yang dibawakan mahasiswa USU. Bahkan, gaun yang digunakan Ms Ai benar-benar menggambarkan perpaduan budaya Jelang dan Indonesia. Busana yang dikenakan saat menari bermotif pakaian Jepang dipadu ulos. Pertunjukan Ms Ai kemarin mendapat aplaus dan sambutan dari penonton. Mereka kagum dengan kemampuan Ms Ai. Meski baru pertama kali datang ke Indonesia, tetapi wanita itu mampu menggabungkan tari dan budaya Jepang dan Indonesia.
”Salut dan bangga, ternyata dia juga memahami budaya dan tarian kita,” ujar Ama, salah seorang pengunjung yang juga mahasiswi USU. (hr seputarindonesia)



