


| Konjen AS Kunjungi Fakultas Ekonomi |
|
|
|
| Written by Webmaster |
| Tuesday, 02 February 2010 09:38 |
|
Untuk melakukan bisnis dengan Sumatera, investor Amerika Serikat (AS) akan lebih tepat memulainya dari Sumatera Utara (Sumut). Sebab, selain pebisnisnya sangat majemuk, juga secara kultur sudah lama menjadi bagian dari ekonomi global. Demikian disampaikan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (FE-USU), Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec dalam pertemuannya dengan Konsul Jenderal Amerika Serikat (Konjen AS) di Medan, Stanley Harsha, di Kampus USU Padang Bulan, Kamis (28/1). Pertemuan keduanya membahas mengenai berbagai bisnis prospektif bagi investor AS di Sumut. Dekan FE-USU ini menjelaskan, kemajemukan itu antara lain ialah bahwa di provinsi ini terdapat pengusaha asal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Barat (Sumbar). Pedagang asli juga cukup banyak, seperti masyarakat Tapanuli Selatan (Tapsel) atau Mandailing. AS jangan sampai pasif membiarkan ekspansi pasar oleh China kalau tidak mau kehilangan pengaruhnya di Sumatera. Menurutnya, negeri Paman Sam ini harus lebih banyak menanamkan modalnya ke Sumut. Menurut Jhon Tafbu yang juga Regional Chief Economist BNI 46 Sumut dan NAD ini, bisnis yang prospektif tersebut adalah bahan bakar nabati (biofuel) dari crude palm oil (CPO) di Labuhanbatu dan Asahan. Di kedua daerah ini, bahan baku melimpah. Masyarakatnya juga dinilai sudah terbuka pada penanaman modal asing (PMA). |
| Last Updated on Tuesday, 02 February 2010 09:41 |