Medan-USU: Gempa Bumi dan Tsunami hebat yang menimpa Jepang pada 11 Maret 2011 lalu menimbulkan kerusakan besar di area Tohuku, Jepang. Tragedi ini menghadapkan masyarakat Jepang pada puing reruntuhan rumah dan gedung perkantoran, serta tata kota yang hancur. Kondisi itu, membuat para arsitek Jepang berpikir untuk menciptakan rancangan arsitektur yang tepat untuk mengatasi persoalan yang ada.

Pameran Arsitek FT 1Pameran yang berjudul “How Did Architecs Respon Immediately 3/11? (The Great East Japan Earthquake)” ini awalnya diselenggarakan untuk memperingati satu tahun sejak bencana menimpa Tohoku, sekaligus menunjukkan kepada masyarakat dunia tentang berbagai kegiatan kreatif yang dilakukan oleh para arsitek Jepang dalam merespon bencana. Pameran ini dibagi kedalam tiga bagian yang juga menampilkan gagasan dari para arsitek Negara lain melalui foto–foto proyek para arsitek dengan penjelasan tulisan, gambar, video, model dan furnitur yang benar–benar digunakan di lokasi evakuasi bencana.

Pameran Arsitek FT 2Pameran arsitek ini berlangsung selama 10 hari 16-28 Februari 2015 di Aula Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU). Hadir pada Senin (16/2), Wakil Rektor IV USU Prof. Ningrum Natasya Sirait, SH, MLI, Dekan Fakultas Teknik USU Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, MSME, Konsul Jepang Suzuki. Pelaksanaan pameran ini juga didukung oleh Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

Pameran ini dimaksudkan untuk memperkenalkan kegiatan–kegiatan di area bencana yang juga melibatkan arsitek asing. Pameran di bagi kedalam tiga bagian yaitu; Bagian pertama berfokus pada penanganan darurat korban–korban yang kehilangan tempat tinggal, baik fisik maupun mental; bagian kedua berkonsentrasi pada bangunan rumah tinggal darurat; dan bagian ketiga menampilkan rancangan pemulihan penuh. Melalui proses seleksi yang dilakukan sejak November 2011, pameran ini memberikan gambaran tersendiri mengenai cara–cara arsitek merespon dengan sigap sebuah bencana alam.(andi/humas)